Ara berdiri melipat tangan didada.
Menatap kesal kearah mahasiswa yg berkumpul.
Dengan terang-terangan mereka menolak mengadakan show case yg dia rencanakan dengan matang bersama para dosen.
"Jadi.. Apa yg musti saya lakuin biar kalian mau ?" tanya Ara yg menahan emosi. Dia sudah sangat geram dengan mahasiswa yg lagaknya seperti bos besar perusahaan internasional.
"Kalahin saya maen basket. One on one !!" tantang salah satu mahasiswa yg duduk dibelakang.
Ara menatap mahasiswa itu tajam.
"Oh.. Jadi ketua tim basket. Mahardika Gumilar menantang saya bermain basket ??" jawab Ara lantang. Dia ingat semua nama mahasiswa yg berperan penting dalam kegiatan kampus. Mahardika salah satunya. Sekalipun dia bukan most wanted kampus, tapi dia juga banyak digandrungi mahasiswi.
Semua orang terpana. Ara baru saja sehari dikampus, tapi dia sudah membuat semua orang memandangnya kagum.
"Kalo saya menang, berarti ga ada yg bisa bantah. Tapi kalo saya kalah, kalian ga akan lihat saya lagi selamanya dikampus ini." Ara membuat kesepakatan dengan mereka.
"Oke deal.." seru Mahardika.
"Ga.. Ibu harus melawan saya catur dulu. " seru salah satu mahasiswa.
Ara menatapnya tajam. Identik sekali dengan yg dinovel picisan. Mata sipit yg dihiasi kacamata tebal minus. Rambut klimis dan kemeja yg dikancing sampai leher.
"Kamu nantang saya maen catur ?? Karena kamu baru menang olimpiade catur daerah ?? Sebagai juara bertahan ?? Oke. Saya terima." tegas Ara berani.
"Lima belas menit." lanjut mahasiswa itu acuh.
"Baiklah Joshua Tan" jawab Ara melenggang pergi. Melepaskan sepatu pantovelnya dan menyusul Mahardika kelapangan basket.
Dihadapannya sekarang adalah Mahardika Gumilar si ketua basket.
Bukan hal sulit untuk mengalahkan seorang angkuh seperti Mahardika. Dia hanya perlu memainkan emosi mahasiswa tengik itu.
Abi dan April bersama Doni menatap mereka dari luar lapangan basket. Doni tahu benar bahwa Ara bukan sembarangan gadis. Sepupunya itu selain cerdas juga multitalenta.
"Menurut lo.. Ara bakal menang ?" tanya Abi pada Doni. Doni hanya mengulum senyum.
"Just enjoyed.." jawab Doni enteng.
April menatap Doni yg berdiri disebelahnya.
Yah.. Lo pasti tau kalo Ara bakal menang. Lo kan kenal banget...
Ara beberapa kali menggiring bola ke ring, namun Mahardika selalu sukses merebut bola dari tangan Ara.
"2-0" bisik Mahardika sombong.
Ara hanya mengacuhkan Mahardika dan kembali mendribble bola dengan santai.
Liat muka lo.. Baru 2-0 aja udah ngos ngosan..
Ara kembali menggiring bola menuju ring. Dan lagi , Mahardika dengan mudah merebut bolanya.
Mahardika mengusap dadanya. Dia benar benar merasa lelah, Ara selalu menggiring bola dari jauh. Dan Mahardika harus mengejar Ara dari tengah lapangan.
"3-0" nafas Mahardika terengah.
Ara hanya tersenyum melihat Mahardika yg sudah mulai kelelahan.
"Oke.. This is show time Mahardika.." desis Ara menyeringai.
Kali ini Ara akan melakukan perlawanan. Cukup untuknya membuat Mahardika kuwalahan.
Ara berlari merebut bola dari Mahardika. Kali ini dia yg akan mendominasi permainan.
Tidak akan bisa Mahardika mengalahkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Post Traumatic Stress Disorder -- PTSD
Romance[[ CERITA DI PRIVAT ]] Abimanyu Rahardianayah -- begitu banyak rahasia yg disembunyikan. dan semuabterkuak bukan atas penjelasa. melainkanbkejadian Mutiara Zukhruf Saputri -- begitu banyak hal yg terlewati. dan beradaptasi menjadi seseorang yg menye...
