Pria itu melangkah pasti menggenggam satu buket mawar putih menyusuri lorong rumah sakit. Ini sudah bulan ke empat setelah kejadian dimana gadisnya menendang dan mencakari dirinya.
Wajah pria itu tidak lepas dari senyum bahagia. Entah apa yg membuatnya bahagia, padahal hampir setiap hari dia datang kerumah sakit ini. Hanya untuk memastikan bahwa gadisnya baik baik saja.
"Abi.." sapaan seseorang membuatnya memutar tubuh.
"Ah.. Mbak Sonya.." jawabnya sumringah. Sonya berjalan menghampiri Abi sesegera mungkin. Lalu mereka berjalan beriringan.
"Kamu baru pulang dari kantor ??" tanya Sonya melirik sekilas pada pakaian Abi. Masih dengan setelan formal. Masih rapi, hanya dasi hitam bergarisnya yg mengendur.
"Iyaa kakak iparku sayang" jawab Abi dengan senyum mengejek. Sonya menyikut rusuk Abi,membuat pria itu meringis.
"Ini rumah sakit. Profesional !!"
"Eleeh... Spik aja dulu" cibir Abi.
"Kakakmu lagi dikantin ama Bara.."
"Aku ga nanya mbak."
"Ara ditaman belakang ama Pras."
Mendadak Abi menghentikan langkahnya. Nama pria itu membuatnya sedikit ngilu diulu hati.
"Kenapa?" tanya Sonya bingung tiba tiba Abi berhenti.
"Gapapa" Abi melanjutkan langkahnya, mencoba menyembunyikan gelisah. Entah gelisah kenapa, tapi memang dia tidak suka jika Pras berada didekat Ara.
"On jealousing, heh ??" ledek Sonya.
"Apa sih mbak ??" elak Abi.
"Tadi mbak sempet liat gitu Pras pegang pipinya Ara.."
"Apa ????" pekik Abi kaget. Mengelus pipi Ara..
"Tadi mbak sempet liat gitu Pras pegang pipinya Ara.." ulang Sonya malas.
"Aku denger mbak.."
"Terus tadi kenapa tanya --apa-- ??"
"Kaget itu namanya mbak.."
"Kalo kaget itu -- hoohhh aku kaget --"
"Ya udah kita ulang aja mbak dari awal."
Sonya mencebikkan bibirnya. Abi kadang memang menjengkelkan. Seperti sekarang.
Langkah Abi sedikit pelan setelah sampai ditaman belakang Rumah sakit. Dia sudah terbiasa dengan sikap para pasien dibangsal itu. Pernah sekali dia ditarik tarik oleh salah satu pasien yg mengamuk,tapi itu tidak mwmbuatnya takut atau trauma.
"Zu mau es krim ??" tanya suara bass yg duduk didekat pasien wanita yg duduk dikursi roda. Gadis itu hanya menggeleng.
Semenjak empat bulan lalu Ara memang sudah membaik, emosinya tidak lagi tiba tiba meluap. Tidak lagi mengamuk tanpa alasan. Tidak lagi histeris jika ada yg mendekati. Itu semua karena mereka dengan rajin mengajak bicara Ara dengan perantara Chaca. Ular itu sekarang sudah sangat besar. Sebesar kepala orang dewasa. Beratnya sudah mencapai 60kg. Dan dengan santainya Ara memangku ular itu seperti tanpa beban.
"Zu... Mas beneran minta maaf ke kamu. Maafin mas Pras ya..." lirihnya memelas. Pria itu tidak pernah berhenti mengucap maaf pada gadis itu.
"Chaca..." Ara menunduk dan mengelus ular dipangkuannya. Pras melihat itu, dia tak habis pikir bagaimana gadis manis itu bisa sangat menyukai reptile.
"Sore princess Ara..." sapa Abi dengan berani. Abi mencium pipi Ara dengan berani. Ini pertama kali dia mencium pipi gadis itu.
Biar ni cowo tau diri
KAMU SEDANG MEMBACA
Post Traumatic Stress Disorder -- PTSD
Roman d'amour[[ CERITA DI PRIVAT ]] Abimanyu Rahardianayah -- begitu banyak rahasia yg disembunyikan. dan semuabterkuak bukan atas penjelasa. melainkanbkejadian Mutiara Zukhruf Saputri -- begitu banyak hal yg terlewati. dan beradaptasi menjadi seseorang yg menye...
