#10

290 23 0
                                        

Bara duduk disisi ranjang kamar Ara yg sedang bermain ponsel. Sesekali melirik Ara yg seolah tak menghiraukannya dan kembali menatap majalah yg disediakan rumah sakit.

"Lo kekampus aja sih bang. Gue gapapa kok.." seloroh Ara sedikit kesal.

"Gue mau nemenin lo aja disini." jawab Bara ketus.

Terdengar suara pintu terbuka. Ara dan Bara menoleh dan disana ada Doni dan Manda beserta empat serangkai.

"Hallo sayang..." sapa Doni dan merentankan tangannya. Kemudian dia memeluk Ara erat.

"Geli ih.. Segala sayang sayang.." celetuk Ara membalas pelukan Doni.

Bara menoleh pada Doni dan teman temannya. Menyilangkan tangannya dan berdiri menatap mereka.

"Jadi.. Apa alasan Sarah bikin adek gue tercinta jadi kaya gini ?!"

Mereka semua terdiam. Ara menatap kesal pada kakaknya.

"Itu..." Manda ragu ingin mengatakan alasan konyol Sarah.
Bara menatap Manda menanti penjelasan.

"Sarah pikir Ara itu pacaran sama Doni. Soalnya dia liat Ara ama Doni dikantin akrab. Apalagi Doni tuh segala nyium Ara !!" sekilas Manda melirik Doni kesal. Kakaknya itu tidak pernah melihat sekitar.

"Abis itu si Sarah liat Ara keruang kamu. Segala pake gendong gendong kaya penganten baru !" Manda menatap Bara konyol. Bara dan Doni tidak ada bedanya.

"Sarah pikir Ara itu cewe apalah apalah. Ya dia kesel lah, mikirnya Doni dimainin ama Ara. Belom lagi Ara yg nerima tantangan Mahardika maen basket, Joshua maen catur. Ngadain show case buat bikin Mandala Jaya hidup lagi. Bikin Sarah makin muak sama Ara. Dan puncaknya ya tadi itu" Manda mengakhiri penjelasannya dengan sedikit terengah.

Ara mengatupkan bibirnya. Dia tahu kalau ini juga karenanya.
Bara menggeram menahan emosinya.

"Apapun alasannya, dia udah bikin Ara masuk rumah sakit. Dan itu udah termasuk dalam tindakan kriminal." geram Doni tak kalah emosi dengan Bara.

"Doni. Urus data Ara.,temuin Rama diruangannya. Manda, ikut aku kekampus, kita perlu selesain Sarah hari ini juga." perintah Bara tegas.

"Dek.. Lo tetep disini sampe alergi lo sembuh. Ga ada lo ngerengek minta pulang kaya kejadian kemaren !Paham ?!"

"Paham abangku tersayang ..."

"Good !!" kemudian Bara mengecup dahi Ara lalu pergi bersama Manda.

Setelah kepergian Bara dan Manda, Abi mengambil kursi dan duduk disebelah Ara.

"Gue seneng lo gapapa Ra.." Abi tersenyum menatap Ara.

"Makasih ya lo dan yg lain udah jengukin gue.. " jawab Ara menatap empat serangkai bergantian.

"Kamu istirahat ya Ra.. Kita mau keluar dulu. Ada yg perlu kita omongin.." sergah Doni cepat.
Dia tahu bahwa dia memiliki hutang penjelasan pada empat serangkai.

Ara mengangguk lemah. Dia masih ingin ditemani, hanya saja menuruti perintah Doni adalah jalan aman untuk sekarang.

Doni mengecup kening Ara lalu pergi diikuti empat serangkai.

Mereka duduk dikantin rumah sakit.
Doni menyandarkan tubuhnyan kepunggung kursi.

"Ara menderita PTSD -- post traumatic stress disorder. Alasannya, karena dia pernah kehilangan seseorang. Kevin Ardaya Pranata. Bukan,, dia bukan pacar Ara." Doni melirik sekilas pada Abi. Menurut kesaksian Manda, Abi menyukai Ara.

Lo naksir sepupu gue.

"Mereka ketemu pas Ara masih kelas 2 SMA, Kevin kelas 2SMP. Mereka ga pacaran, Ara udah anggep Kevin kaya adeknya sendiri. Semua orang tau kedekatan mereka. Sampe akhirnya, pas Ara ada kejuaraan Taekwondo, Kevin bilang pengen ketemu. Tapi Ara mengabaikan Kevin,bukan karena dia bosan. Tapi dia lagi fokus sama kejuaraannya." Doni memberi jeda untuk ceritanya.

Post Traumatic Stress Disorder -- PTSDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang