Mereka masih terlalu muda dan bodoh dalam memahami perasaan.
Joong terlalu denial pada perasaannya sendiri sampai kemudian takdir mendorongnya lebih dekat pada Dunk.
Dunk sempurna, semua orang setuju, terutama bagi Joong yang selalu memujanya. Tap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Joong melirik jam tangannya, sudah terlambat memang jika berniat menonton Dunk di toko bukunya seperti tadi pagi.
ia meletakan stetoskopnya di meja, meraih cangkir kopi yang ternyata sudah kosong sejak beberapa jam yang lalu, kemudian menghela nafas panjang. terlalu malas berjalan ke pantry untuk mengisi ulang.
perkerjaannya hari ini sudah usai tapi ia masih punya beberapa berkas kasus pasien yang harus ia pelajari. Meskipun sudah di tetapkan tanggal operasinya, tetap tidak ada yang tau kapan kesehatan pria obesitas dengan keluhan jantung itu akan menurun, harusnya Joong segera setidaknya membacanya untuk mengetahui tindakan pencegahan, sebelum operasi besar di lakukan.
Tapi sekali lagi ia terlalu lelah saat ini kepalanya penat, disana sudah tidak ada lagi keinginan untuk bekerja, sudah cukup, ini terlalu berlebihan, ia butuh dopamine. Atau lebih tepatnya Dunk Natta Nagara.
Sambil menatap rung pesan di ponselnya benaknya mengira ngira apa yang tengah lelaki cantik itu lakukan sekarang?
Joong mendial ikon hijau untuk meneleponnya,
Apakah mata indah yang berkilauan itu sudah terpejam, menjelajahi dunia mimpinya? Atau perut kurus yang selalu kelaparan di tengah malam itu kembali berulah dengan sepanci mie kuah pedas sambil menonton film harry Potter yang kesekian kalinya.
Joong merindukannya, harum hangat tubuhnya, haruskah ia menemuinya? Panggilannya tidak terjawab.
Hal yang sebenarnya tidak pernah ada dalam pertimbangannya, jika Dunk tidak menjawab teleponnya artinya anak muda itu sengaja memancingnya untuk datang. Ketika Joong mulai berpikir untuk menemui Dunk, mustahil untuk tidak melakukannya.
"Where you going? "
Seorang dokter lain menyapa, saat Joong setengah berlarian di lobby menuju perkiraan, "back home. "
Sepanjang jalan Joong menelepon Dunk, Joong masih takut pada fakta mungkin saja Dunk masih marah tentang kejadian sebelumnya, ia cukup khawatir tentang hal itu sebenarnya. Ia menelepon hanya ingin memberi tahu Dunk ia akan mampir sebentar, meskipun Dunk pasti melarangnya, ia tetap akan datang, setidaknya Dunk tau ia akan datang, dengan atau tanpa persetujuannya. Seperti biasa.
alisnya berkerut, panggilan ke delapan Dunk tak kunjung menjawab panggilannya.
Sesuatu yang di luar kebiasaan, bahkan saat lelaki itu marah dan acuh sekalipun, mengabaikan panggilannya lebih dari tiga kali terdengar seperti kode darurat bagi Joong.
Situasi seperti apa yang membuatnya tidak bisa menjawab teleponnya, sementara Dunk tidak pernah tertidur dengan lelap sepanjang malam bahkan dengan bantuan obat tidur sekalipun. Kecuali jika ia over dosis.
Joong melajukan mobilnya lebih cepat membelah jalanan kota yang telah lengang.
Tidak ada yang tau bagaimana institusi bekerja, saat itu dorongan dalam dirinya seolah menuntunnya untuk berbelok ke arah toko buku. Baru kali ini Joong merasa instingnya lebih kuat daripada logikanya.