Hujan terus mengguyur deras kota Tokyoverse, jalanan yang sudah menjadi licin serta basah yang kan menjadi saksi bisu pertarungan antara fraksi terbesar.
Sudah saatnya kota kembali mempertaruhkan segalanya, antara akan menjadi Putih atau.. Hitam? Ini akan menjadi pertarungan terakhir dari keduanya, karena mereka akan terus menghabisi satu sama lain tanpa ampun.
Kedua petinggi dari antara fraksi ters bertransaksi tanpa henti, terus tukar-menukar barang serta informasi pribadi antara fraksi yang entah benar atau tidak, namun TNF mandiri. Mereka akan mencaritahu informasi pribadi tentang si putih sendiri.
Dari hujan yang lebih sampai sekarang sudah mereda, dari jalanan yang licin dan sekarang menjadi kering, tak peduli bagaimanapun kondisinya namun hanya akan ada Satu Pemenang.
. . .
Mobil sport berwarna ungu neon itu pun datang, mobil yang paling di nantikan seluruh warga Tokyoverse. Tak pernah ada yang tau tentang pertarungan mereka saat ini, dengan sandera di depan mereka. Terikat dan tak berdaya,
Menghancurkan hati sang pria bersurai putih itu melebihi apapun.
Pakaiannya yang lusuh mampus, rambutnya yang sudah tak rapih lagi, dan bahkan banyak sekali luka-luka yang bahkan belum mengering sama sekali.
Perempuan itu terus menutup erat matanya yang indah, padahal sang kakak ingin sekali melihat manik indah milik perempuan bersurai putih itu. Walaupun hanya untuk 1 detik.
Ia genggam tangannya sendiri erat erat, bahkan beberapa kali ia tak berkedip sedikit pun setelah melihat mayat sang adik, tak bisa ia bayangkan bagaimana perempuan itu meringkuk sendirian.
"Mia.." Gumamnya sembari ia terjatuh ke lantai, akhirnya setelah pencarian 2 hari lamanya, mereka bertemu. Namun sudah tak ada lagi kesan jiwa milik sang perempuan.
Semuanya shock, tak mengerti harus merespon seperti apa. Namun yang pasti hampir semua dari mereka meneteskan air mata tanpa henti, dan akan benar-benar menyatakan perang saat ini.
Ia bawa sang adik pada dekapannya, ia kecup kening milik Mia. Tanpa memperdulikan atensi orang-orang yang sekarang mengarah pada dirinya.
Pria bersurai ungu tua itu seperti tidak mengeluarkan ekspresi apapun, berlagak seperti beliau tidak peduli akan apapun yang terjadi sekarang. Namun di dalam jiwanya, ia menyimpan seribu dendam pada orang-orang yang melakukan ini pada anaknya.
Telefonnya berdering, dengan cepat pria itu merogoh kantungnya dan menangkat telfon itu. Walaupun itu dari nomor yang tidak di kenal.
"haloo, Rion Kenzo~ free kah? anak putih mau ajak perang nihh.." Suara imut terdengar ke daun telinganya, pria itu hanya bisa memasang ekspresi jijik miliknya.
"gak usah banyak cingcong, kirim area dan kita selesain sekarang." Jawabnya sembari menutup telefon tersebut, ternyata nomor yang tidak ia kenali itu sudah mengiriminya area mereka sedaritadi.
Pria itu memihat kearah jasad sang anak sekali lagi, lalu angkat bicara.
"bawa ke mobil, kita cari dokter yang bisa obatin adek. sekarang kita harus selesain mereka dulu, telefon Sui." Pintahnya dengan tegas, mereka semua menjawab dengan anggukan. Lalu menoleh kearah Mako yang masih saja diam dengan tangisnya yang sesenggukan.
"Mako, yuk?" Ajak Elya sembari melihat kearah manik sang adik, namun ia bisa melihat tatapan kosong yang pria bersurai putih itu pasang.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
Fanfiction𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
