Angin malam berhembus melewati surai halus perempuan itu, kini ia sedang berada di balkon dan merenung. Entah kenapa kini pikirannya sedang tidak jelas, lebih tepatnya ia larut dalam pikirannya sendiri.
Pria bersurai merah yang juga sedang melewati belakang punggung milik gadis itupun menoleh, menyadari bahwa sang anak sedang tidak baik-baik saja.
"Cia?" Panggilnya dengan nada yang lembut, serta suara yang lumayan kecil agar tidak menganggu istirahat yang lain.
Perempuan yang biasa di panggil sebagai Cia itu menoleh, ia berusaha untuk mengukir senyuman di wajahnya. Lalu mengusap sisa-sisa air mata yang hampir saja terjun bebas dari manik matanya.
"ngapain disini sendirian?" Tanyanya sembari ikut berdiri di samping sang anak, mengistirahatkan lengannya pada pembatas.
"gapapa mami, cuman mau begadang aja." Ia menoleh kearah Kencia, bisa ia ketahui bahwa sebenarnya perempuan itu menyembunyikan sesuatu.
Kencia bukanlah tipe perempuan yang akan selalu diam jika ada sesuatu yang menjanggal di hatinya, tapi terkadang ia malu jika harus menceritakan tentang segalanya.
Caine tersenyum melihat beberapa perubahan yang terjadi pada anak gadisnya satu itu, terlebih lagi setelah ia di rawat disini.
"bohong, ya? cerita aja ke mami." Perempuan itu menghela nafasnya, lalu terkekeh sebentar sebelum merengek malu.
"maaluuu~" Caine mengusap surai halus milik perempuan itu, dan pada akhirnya Kencia siap untuk menceritakan apapun yang janggal pada perasaannya.
"jadi.. aku kayak gimana ya mi, aku ngerasa kayak ada sesuatu gitu yang di sembunyiin dari aku." Jelasnya sembari menatap kearah gedung-gedung tinggi milik Tokyoverse.
Caine hanya mengangguk lalu Kencia melanjutkan ceritanya.
"sebenernya tuh, Mia siapa sih mam?" Pertanyaan yang selalu ingin mereka semua hindari, semenjak kejadian yang sangat mengenaskan itu.. sudah tidak ada yang berani menangkat bicara tentang topik Mia.
"first, why you ask that?" Kencia membuat signature seperti ia berpikir, lalu perlahan-lahan mulai tersenyum tengil miliknya.
"gatau, penasaran!" Katanya sembari terkekeh kecil, membuat mereka berdua tertawa dengan suara yang tidak terlalu keras.
Caine kembali mengelus surai panjang nan halus milik anaknya itu, masih banyak yang belum ia ketahui. Dan mereka sangat terpaksa harus berbohong kepadanya hanya agar ia tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Mia? waktu itu.. dia salah satu anggota kita, cuman terpaksa harus keluar karena dia berkhianat." Jelas Caine singkat, Kencia yang akhirnya menerima jawaban yang pastinya tepat pun hanya bisa mengangguk.
"oh gitu.. kalau kayak gitu aja, kenapa harus di rahasiain banget sih." Ceriwis nya, membuat Caine menjadi gemas dan mencubit pipi milik gadis itu.
"but promise to me you're not gonna tell Papi, okay?" Caine mengangkat jari kelingkingnya, lalu Kencia mengangguk dan ikut menjalin jari kelingkingnya pada milik Caine.
Setelah beberapa jam perbincangan singkat mereka, akhirnya Kencia mula merasa lelah. Ia meminta pada Caine untuk mengantarkannya sampai pada kamar pribadinya.
. . .
Pagi hari di sambut oleh teriakan kencang milik Echi, sampai-sampai Kencia terbangun dan segera untuk turun pada lantai satu. Ternyata sekarang sudah tidak karuan,
Ada Riji dan Krow yang berusaha menghadang tikus, sedangkan Echi yang bergelandotan pada tubuh Rion.
"sana Ji, sana Ji!" Teriak Krow sembari menunjuk kearah kanannya, sedangkan mereka berdua ini sama-sama takut akan tikus.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
Fanfiction𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
