"Bagusan yang mana sih, Chi?" Tanya Aennon sembari ia berputar ke kanan dan kiri, melihat gaun berwarna putih yang ia kenakan itu. Banyak payet-payet indah yang terukir disana, serta beberapa butir berlian yang membuat gaun itu terlihat mengkilap.
"Kata gue bagusan yang kesatu tadi, menurut mami yang mana?" Caine pun tersadar dari lamunannya, ia melihat kearah Aennon yang sedang menggunakan gaun kedua. Ia tersenyum dan mengangguk setuju.
"Bagusan ini, payet nya bagus ada bunga nya." Ujarnya sembari menunjuk kearah payet yang berukir bunga, tak terlalu jelas itu bunga apa namun terlihat seperti mawar putih.
"Yahh, kata ku yang pertama tadi, mi." Caine mengangguk paham lalu mengalihkan sorot matanya pada Aennon.
"Aennon gimana? Lebih suka yang mana?" Aennon yang di lemparkan pertanyaan pun hanya diam, masih bingung ia harus menjawab apa.
"Gatau ya mi, atau cari yang lain dulu aja ya?" Jawabnya lalu menghela nafas, mereka sudah menghabiskan satu jam lebih dalam memilih 2 gaun pengantin saja.
Caine mengangguk setuju, akhirnya mereka berdua— Caine dan Echi keluar dari ruang ganti. Terlihat Kencia dan Rion sedang duduk dan diam, terlihat seperti tidak ada perbincangan diantara mereka berdua.
Caine mengalihkan pandangannya pada Rion, terlihat pria tua itu memberinya gesture untuk mengikutinya.
"Kencia murung terus daritadi, gamau jawab apapun pertanyaan yang ku kasih." Jelas pria itu dengan nada yang terkesan frustasi, sedangkan Caine hanya menghela nafas, ia paham seberapa susahnya untuk melepaskan seseorang.
"She just need a time." Jawab Caine, walaupun sebenarnya ia juga tak tahu harus menanggapi itu dengan seperti apa. Karena sungguh, hubungan antara mereka bertiga sungguhlah rumit.
"I never raise her to be the third wheeling." Caine terkekeh sebentar mendengar apa yang rekan kerjanya itu katakan tentang Kencia, walaupun memang ada benarnya bahwa gadis itu hanyalah orang ketiga di antara hubungan Aennon dan Apriano.
"Tell her that everything’s alright" Ujar pria bersurai ungu tua itu, Caine hanya bisa mengangguk.
. . .
Kencia terbaring di tempat tidurnya sembari masih memandangi roomchat nya dengan Apriano, belum ada satupun pesan dari Apriano. Kencia berharap akan ada satu pesan darinya yang menjelaskan tentang segalanya, namun bukannya Apriano malah Kenzo yang datang untuk menanyakan tentang kabarnya.
Kencia membiarkan notifikasi pesan dari Kenzo, entah kenapa gadis itu mulai menyadari bahwa disini posisinya hanya sebagai pelampiasan dari kedua pria itu.
Gadis itu tak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang, jika harus meminta maaf kepada Aennon ia terlalu malu akan hal itu. Dan ia tahu betul bahwa sekarang Echi tak begitu menyukainya akibat menyakiti anggota keluarga yang termasuk dekat padanya.
Tiba-tiba saja ada suara ketukan dari pintu kamar gadis itu, dengan sontak Kencia bangun dari tidurnya dan membukakan pintu. Ternyata itu hanyalah Jaki, ia pun membukakan pintu seluruhnya.
"Hi, jalan-jalan yuk?" Ajak Jaki dengan penuh harapan bahwa gadis itu akan menyetujuinya, awalnya ia sempat tak mau, tapi dipikir-pikir ia juga butuh hiburan, jadi yasudah ia iyakan saja.
"Yuk."
"Okay, bawa jaket ya."
Mendengar perintah dari sang kakak pun Kencia hanya mengangguk, setelah mengambil jaket, ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan kearah garasi bersama Jaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
फैनफिक्शन𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
