Kencia terbangun di sebuah kursi kayu yang sudah lusuh, kaki dan pergelangan tangannya di ikat erat dengan tali. Ia melihat sekitar dan tak menemukan apapun kecuali kegelapan yang menyelimuti seisi ruangan. Hawa dingin menusuk kulitnya terus-menerus, ketakutan mulai menguasai dirinya sendiri.
Terakhir kali ia hanya tertidur di seberang jalanan sehabis memulung, tapi entah kenapa tiba-tiba ia berakhir di tempat ini. Suara sepatu kulit mulai terdengar dari ujung ruangan, ia menoleh dan melihat samar-samar pria dengan bertopi koboi dan beberapa orang yang sama besar badannya di belakangnya.
Ia tahu ini bukan hal yang bagus, yang pasti cepat atau lambat ia akan segera mati di tangan mereka. Kota yang ia tinggali sekarang atau yang sering disebut sebagai Tokyoverse masih lekat akan kriminalitas, mulai dari Mafia, Yakuza, bahkan pemerintahan bejat yang mengancam rakyat tak bersalah layaknya gangster.
Mereka sampai di hadapannya, cahaya mulai menerangi pandangannya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah mata pistol yang mengarah kepada kening nya. Kencia menatap pria yang menodongnya dengan pistol tersebut, pria dengan surai coklat tua dan tatapan mata yang tajam.
"Diapain, pres?"
"Kasih tau kita identity lu. Cepet." Perintah pria yang menggunakan topi koboi itu, Kencia seketika mematung dan kesabaran pria bersurai coklat itu mulai menipis.
"Jawab! Punya mulut gak lu?!" Bentaknya sembari mendorong kepala dengan pistol hingga kepala Kencia sedikit terdorong ke belakang.
"Nam- nama ku Kencia. Kencia Nourth."
Pria bersurai abu-abu itu tersedak oleh alkohol yang ada di tangannya, apa tadi? Nourth? Tentu saja gadis itu sudah gila. Tak mungkin seorang warga lokal bisa seberani itu untuk mengecap dirinya sendiri dengan marga yang konon katanya paling berbahaya di kota.
Marga milik Cosa Nostra. Musuh bebuyutan TNF yang memang sudah sedari dahulu mereka terus berperang tanpa adanya kata berhenti, pria bertopi koboi itu menatap Kencia tak percaya. Tapi, apa yang bisa ia harapkan dari seorang bocah yang bahkan belum legal ini?
"Gak usah ngaco atau gua tembak lu."
"Beneran! Aku berani sumpah." Kencia tidak tahu kenapa mereka bisa sampai tak percaya seperti itu, ia beranggapan bahwa marganya hanyalah marga yang biasa saja. Toh Imran dahulu tak pernah menjelaskan bagaimana marga itu sungguh berbahaya.
"Turunin dulu pistol lu, Gin." Kencia menukik alisnya sedikit, merasa bingung kenapa mereka bisa menjadi seperti ini padanya.
"Lu tau kan kenapa kita culik lu kesini?" Kencia menggelengkan kepalanya, ia bahkan tak tahu kenapa bisa berakhir di tempat ini.
"Kita perlu lu untuk jadi informan kita, ngerti? Bapak lu yang namanya Imran itu, bukan?" Kencia mengangguk mendengar nama sang ayah di sebut, pria yang bersurai coklat itu terkekeh rendah. Ini akan membawa kemenangan semakin dekat pada mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
Fanfiction𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
