17 : 1000 tahun lamanya

612 62 2
                                        

Hari ini adalah hari yang paling Kencia nantikan, hari ini juga adalah hari yang paling ia takuti dan kini ia sangat gugup. Bahkan sedaritadi ia hanya duduk di depan kaca besar yang berada di hadapannya itu, sembari memainkan gaun putih miliknya.

Dering telepon kembali berbunyi, ia melihat kearah kontak dan ternyata itu adalah Kenzo. Kencia tersenyum dan langsung mengangkat telepon itu.

"Hallo? Cantikku sudah rapih?" Tanya Kenzo dengan suara yang sangat lembut namun itu juga tak menutupi suaranya yang deep itu, Kencia tersenyum setelah mendengar bagaimana Kenzo memanggilnya.

"Sudaahh!" Jawabnya dengan semangat, walaupun sebenarnya di dalam hati ia cukup nervous karena hari ini akan menemui sang mertua, Leassa Mishima.

"Yaudah, habis ini aku udah mau sampe nih. Nanti tungguin di gerbang ya?" Degup jantung milik gadis itu semakin kencang, namun dengan cepat ia mengiyakan apa yang di perintahkan oleh Kenzo.

Telepon mereka pun akhirnya di putuskan secara sepihak, sembari menunggu Kenzo yang mungkin 5 menit akan sudah sampai, ia memutuskan untuk berpamitan sebentar kepada keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah.

"Paaapii~" Panggilnya dengan semangat sembari duduk di sebelah sang ayah yang sekarang masih di pijati oleh Caine, Rion seketika membuka matanya dan melihat figuran sang anak di depannya.

"Ey, mau kemana rapih rapih kayak gini?" Tanyanya sembari melihat betapa cantiknya gadis yang berada di hadapannya ini, menimbulkan kekehan kecil dan senyuman manis milik anaknya itu.

"Gapapa, aku mau keluar yaaahh sebentar aja!" Ujarnya sembari memberikan puppy eyes kematiannya, serta memainkan jari-jari milik ayahnya itu.

"Terserah, yang penting kalau ada apa-apa langsung spam radio aja." Jawab pria itu sembari sedikit meringis karena Caine tak sengaja memijatnya terlalu keras, membuat Echi yang sedang memperhatikan mereka pun tertawa terbahak-bahak.

"Ketawa lah terus kau itu." Rion yang menyadari akan hal itupun akhirnya angkat bicara, seketika Echi yang sedang tertawa itu berhenti, namun selang beberapa detik ia kembali tertawa lagi.

"Satu."

Masih.

"Dua."

Masih.

"Tig—"

Duar.

"Yon." Mendengar suara lembut yang menyapa daun telinganya itu langsung membuat pria bersurai ungu tua itu kicep, dan mengangguk sembari menaruh kembali bantal yang akan ia lemparkan pada Echi.

"Berarti boleh ya aku keluar?" Tanyanya sekali lagi dan kini hanya dijawab dengan anggukan persetujuan, ia pun tersenyum lebih lebar dan wajahnya sedikit merah merona.

"Okeh, makasih papi and mami!" Ujarnya dan beranjak dari sofa, mengecup pipi kedua pria itu dan berpamitan untuk pergi setelah mendapatkan notifikasi chat dari Kenzo bahwa dirinya telah sampai.

Gadis itupun sampai di gerbang rumahnya, melambaikan tangannya dan langsung menghampiri Kenzo. Pria itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu penumpang untuk sang Tuan Putri.

"Terimakasih!" Kenzo yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengusap surai halus milik Kencia itu sebentar, lalu kembali ke mobilnya agar mereka cepat sampai menghadap nyonya.

. . .

Mereka sampai di gerbang pintu rumah yang tak kalah jauh megah dengan milik Kencia, bahkan sampai-sampai gadis itu menganga akibat melihat bagaimana besarnya rumah milik Kenzo itu. Begitupula dengan bodyguard yang mengelilingi rumah itu.

𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang