24 : Amin Paling Serius

644 53 0
                                        

Helaan nafas berat Rion lepaskan, bukan apa-apa. Tetapi, ada kalanya ia lelah akan hal-hal bad side seperti ini. Terkadang ia menyalahkan hal-hal yang bahkan di luar kendalinya sendiri.

Mungkin tentang bagaimana ia terlahir, walaupun sebenarnya ia tak pernah meminta untuk di lahirkan. Ia benci bagaimana dunia semakin memakan otaknya sendiri.

Ia dilahirkan dari keluarga yang amat teramat keras, didikan dari sang ayah bukan seberapa dari didikannya kepada anak-anaknya sekarang. Justru, didikannya kepada anak-anaknya sekarang lebih lembut daripada sang ayah lakukan padanya dahulu.

Rion Harold, ayah dari pria yang kini sudah bertumbuh menjadi petinggi salah satu kelompok mafia yang paling disegani banyak orang. Hubungan mereka bahkan tak begitu baik, mereka tak bisa memahami satu sama lain, bahkan mereka sendiripun tak peduli apa yang akan terjadi diantara hubungan ayah-anak mereka.

Berbanding dengan Caine, yang seumur hidupnya hanya di buahi oleh cinta. Meskipun ia harus menyaksikan bagaimana sang ayah di tembak di kepala saat ia masih kecil.

Harris Brooks, petinggi perusahaan pertambangan terbesar di Jayakarta dahulu. Terpaksa harus di tembak di kepala, oleh ayah dari Rion sendiri.

Namun, siapa sangka jika kedua anak mereka akan membangun organisasi bersama?

Masalah ini sudah berkali-kali mereka bahas, atau lebih tepatnya Rion yang membahas, ia seperti di hantui oleh rasa bersalah akibat sang ayah, ayah Caine jadi tiada sekarang.

Dengan lapang dada, Caine tak merasa keberatan. Lagipula itu sudah berlalu, sang ayah juga pasti sudah pergi dan jika Caine membalaskan dendamnya, apakah itu akan menjamin bahwa sang Ayah akan hidup kembali?

Berkali-kali setiap malam, Rion akan meminta maaf dan berjanji akan melindungi Caine dengan segenap hatinya.

"Caine, maaf ya. Maaf." Lirihnya disela-sela dekapan Caine, pria bersurai merah gelap itu hanya bisa membalas pelukan Rion. Mendengarkan setiap lirihan dari Rion yang berisi permintaan maaf.

"Aku gak mau, aku juga gak mau kayak gini. Beneran. Sakiti aku, jangan tinggalin aku." Nada yang begitu halus, walaupun suaranya masih terdengar serak. Biasanya, Rion akan terbangun di malam hari akibat ia mendapatkan mimpi buruk.

Pria itu kini sedang menyembunyikan wajahnya di bahu gagah milik Caine, melingkarkan kedua tangannya di pinggang kecil milik Caine, berusaha mencari ketenangan disana.

"I know you miss your father." Bohong rasanya jika Caine berkata ia tak merindukan sang Ayah, tetapi, ia akan terus menahan seluruh rasa rindunya. Lagipula, ia sudah mati rasa sekarang.

"I will protect you with all my heart, Caine." Kekehan rendah keluar dari bibir Caine, kembali ia angkat tangannya dan mengelus lembut surai Rion.

"I'll protect you too." Bisiknya kepada Rion dengan suara lembut miliknya, semakin menenangkan Rion. Percaya bahwa Caine hanyalah yang mengerti akan dirinya.

"Gak ada yang boleh nyakitin kamu, Caine." Caine tahu betul mengapa sifat posesif Rion ini di terapkan bagi seluruh orang yang disayanginya, ibunya harus meninggal disaat ia masih berumur 12 tahun akibat kecelakaan di tempat kerjanya. Atau lebih tepatnya, di khianati oleh anak buah sang ayah.

Itulah mengapa, Rion selalu menemukan peran Ibu di dalam Caine.

"Udah? Tidur yuk, Rion?" Ajak Caine, ia sudah tak bisa menahan kantuk di matanya.

"No." Rion benci tidur. Meskipun ia membutuhkannya, ia selalu bermimpi akan kejadian yang dahulu pernah terjadi. Itu terasa tak pernah berlalu.

"Kamu butuh energi buat besok, Rion.."

𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang