3 : ketemu siapa?

1.1K 108 0
                                        

Kencia lagi muter muter sendirian di kota, itung itung dia mengenali setiap tempat di kota ini. Tapi pastinya dia cuman pakai sepeda, yang ia gayuh dengan kakinya sendiri. Karena kalau pakai mobil ataupun motor dia belum bisa, dan berhubung dia masih belum legal sama sekali.

Pas banget Kencia nyasar, dia nyasar area kanpol. Dia salah masuk kearah gang gang sempit disana, kebetulan dia ketemu sama preman pemilik daerah sana. Dia masih tetep gayuh sepedanya, berusaha untuk mengalihkan pandangannya dan cuek aja waktu dia di siul sembarangan.

"eh, cewek. tunggu dong." Tiba tiba aja salah satu dari mereka tarik bangku belakang dari sepeda milik Kencia, gadis itu langsung nengok. Berusaha untuk ngelepasin pegangan milik preman itu.

"darimana?" Kencia hanya diam, dia pun gak tau mau jawab apa.

"woy, jawab!" Satu tamparan keras mendarat ke pipinya, yang di tampar itupun semakin bingung. Namun sebisa mungkin dia mengeluarkan suara.

"kenapa ya.. bang?" Mendengar itupun sekelompok pria itu tertawa terbahak bahak, baru tau mereka bahwa salah satu anggota mafia bisa selugu ini.

"duit sini." Kencia menaikkan kedua alisnya, pertanda bahwa ia bingung akan perintah tersebut. Lagian ia juga tidak punya uang sepeser pun di kantungnya.

Belum sempat gadis itu menjawab, mereka sudah tau jawabannya bahwa ia tak punya. Gadis itu di tarik hingga berada di dekapan salah satu mereka disana, sepedanya di tendang hingga jatuh dan kotor oleh lelumpuran disana.

Salah satu dari mereka mengambil dagu halus milik perempuan itu, lalu di elus dengan sensual. Membuat Kencia menjadi geli, perlahan pria itu mulai kurang ajar. Ia menyuruh kedua temannya untuk menahan kedua tangan milik Kencia untuk mengunci pergerakannya, sedangkan ia berusaha untuk melepaskan celana milik gadis itu.

Ia masih tak sempat untuk mengabari Rion atau siapapun itu, namun ia tak boleh pasrah begitu saja. Ia berusaha untuk menendang pelaku itu, tapi nihil. Kakinya di tendang lalu di tahan oleh sebuah kaki dari teman teman pelaku yang lain, berusaha untuk berteriak namun itu hanyalah gang sempit.

Perlahan-lahan tangan dengan telapak tangan kasar itu menurunkan celana milik Kencia, dengan seringai jahat dan juga cengkraman pada paha mulus milik gadis itu. Sebelum akhirnya ada salah satu pria yang berhasil menyelamatkannya.

"woy!" Mendengar bentakan dari suara yang tak jauh dari mereka, ternyata itu adalah salah satu polisi yang sedang berpatroli. Kencia pun menghela nafas lega setelah mengetahui bahwa akan ada yang membantunya, polisi itupun mendekati pria pria bajingan itu.

Mereka berhasil pergi, melepaskan Kencia. Pak polisi yang biasa disebut sebagai Ano itupun langsung menghampiri Kencia, menangkap badan sang gadis yang hampir jatuh ikut terkotori dengan lelumpuran.

"is eveything okay? nama mu siapa?" Kencia hanya mengangguk, lalu diam untuk beberapa saat. Berusaha menelan apa saja yang hampir terjadi padanya.

"aku.. Kencia." Nama lengkapnya tak boleh ia sebutkan, kecuali nama samarannya.

"Kencia siapa?" Kencia sempat diam sebentar, lalu ia mengeluarkan suaranya sekali lagi.

"Kencia Selyoo." Mendengar itu sang pak polisi hanya mengangguk, lalu menggandeng gadis itu. Untuk menuntunnya pergi dari gang sempit bau tersebut, ia menggunakan marga sang kakak hanya untuk menyembunyikan semuanya.

"kamu lain kali jangan sampe kesana, banyak preman. coba aja kalau tadi gak ada saya, kenalin saya Pak Apriano." Kencia mendengar itu baik baik, ia mengangguk dan tersenyum.

"iya, terimakasih pak Ano." Pria yang memiliki nama Apriano itupun rasanya meleleh, ia paling lemah dengan cewek cewek plonga plongo serta lugu seperti Kencia ini. Ia pun mengelus surai hitam halus milik Kencia.

𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang