Apriano mengepalkan tangannya dengan sangat keras, sebagai bentuk bagaimana ia sangat kesal karena keteledorannya sendiri. Membuat hubungannya dengan Kencia merenggang, dan itu bisa juga membuat gadis itu berpaling darinya.
Walaupun ia sendiri sadar kalau hubungan mereka tak sehat, dengan bagaimana jarak umur diantara mereka sedikit jauh, bagaimana dunia Kencia yang sungguh berbeda dengannya, mendapatkan restu untuk Aennon saja sudah sulit, bagaimana dengan Kencia?
Apriano pun tahu bahwa tak sedikit pria yang tertarik dengan gadis itu, parasnya yang cantik dan sifatnya yang lugu, membuat dirinya bersinar diantara yang lain. Mungkin itu juga beberapa penyebab kenapa Apriano memilihnya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, memperlihatkan bahwa seseorang sedang menelponnya. Dengan cepat ia membawa ponselnya pada genggamannya dan melihat kontak yang tercantum, oalah, si cantik.
"Halo? Gimana, manis?" Tanyanya dengan suara yang sedikit serak daripada biasanya, mengetahui bahwa ia sedang berada dalam panggilan dengan Kencia membuatnya harus menurunkan nadanya agar tidak terdengar kesal, karena memang wanita selayaknya di perlakukan seperti itu, bukan?
Cuman Kenya aja ga pernah di gituin, haha.
"Bapak, aku mau ketemu." Nada serius yang berada di suara gadis itu membuat Apriano terkejut, tak biasanya ia seperti ini.
"Boleh, sayangku. Mau dimana?"
"Aku yang ke kantor pak Ano."
"Baik, sayang. Perlu di jem—" Belum selesai mengatakan kalimatnya, ternyata sambungan telepon mereka sudah di putus oleh Kencia. Ini lah yang membuat firasat Apriano menjadi buruk, apakah ia akan kehilangan seseorang lagi setelah hampir kehilangan Aennon?
. . .
"Kalo kamu terus main cewek dan gak bisa seriusin aku, mending kita putus aja, Ano! Kamu kira aku gak butuh kepastian?!" Bentakan keras dari Aennon membuat Apriano kicep seketika, entah bagaimana malam itu bisa terjadi, namun semuanya terasa berjalan sangat cepat. Adanya orang ketiga diantara merekalah yang membuat asal muasal pertengkaran ini tercipta.
"Aennon, kamu denger aku dulu, sayang." Entah sudah berapa kali pria itu terus mengumbar kalimat itu, tapi pastinya Aennon sudah cukup muak. Ia sudah lelah dengan kata-kata penenang dari Apriano yang terus di lontarkan padanya.
Sejak pertama kali Aennon mengetahui bahwa Apriano seperti ini, ia sudah sangat ingin untuk pergi. Namun seperti ada perasaan yang seakan-akan menahannya, begitupula dengan Apriano yang selalu bisa meluluhkan nya.
"Denger apalagi? Bualan kamu? Sialan." Perempuan itu muak, akhirnya ia angkat tangannya keras keras dan memberikan tamparan yang sungguh menyakitkan di pipi Apriano.
"Kita. Putus." Dengan penekanan di nadanya, dengan lantang perempuan itu menyatakan bahwa hubungan mereka akan benar-benar berakhir sampai disini.
Walaupun sebenarnya Apriano tahu, bahwa Aennon takkan bisa melepaskannya sedikitpun. Bahkan untuk meninggalkannya saja tak mampu, apalagi untuk membencinya, kan?
Jadi untuk kali ini, Apriano tidak terlalu bekerja keras untuk membujuknya. Ia hanya akan mengikuti permainan gadis itu, karena ia tahu bahwa, she will always comeback to him no matter what.
"Hey, you can't just throw me away like that, Non." Tangkasnya dengan cepat, sembari mengikuti langkah kaki gadis itu yang menuruni tangga bar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
Fanfiction𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
