Hari ini adalah hari pelepasan Jaki, dimana ia harus kembali melanjutkan studi. Lebih tepatnya ia akan kembali ke Jepang, melanjutkan sisa studi nya disana karena permintaan dari Rion sendiri.
Rion ingin seluruh anak buah— anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, begitupula Jaki. Rion pun mengerti bagaimana dengan cepat Jaki langsung menyetujui hal itu, karena, ia ingin pergi atau lebih tepatnya mengasingkan diri dari Krow selama beberapa saat sampai ia betul-betul siap.
Waktu selama dia ke luar negeri tidak terlalu spesifik, mungkin 1-2 tahun atau bahkan lebih. Terakhir kali ia berada di Jepang adalah saat umurnya masih 15 tahun, sekarang ia sudah 22. Jika dihitung, sudah 7 tahun Jaki berada di Jepang sana.
Itupun juga permintaan Rion, Jaki adalah anak yang ia didik secara lebih luas, liar, atau bahkan agresif. Dalam arti, lebih spesial atau jauh lebih keras daripada lainnya, bahkan Gin saja mengakui bahwa Rion mendidik Jaki jauh lebih keras.
Karena ia tahu bagaimana potensi sebenar dari pria itu, namun memang sengaja Jaki tak terlalu menonjolkan dirinya sendiri.
Kencia sudah diberitahu dari jauh-jauh hari bahwa tak lama lagi Jaki akan meninggalkan Tokyoverse dan berkelana ke Jepang sana, walaupun sedikit sedih, namun ia manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya untuk menghabiskan waktu bersama kakak kesayangannya itu.
Krow.. ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, ia sudah biasa ditingal terus menerus dengan Jaki. Mereka sudah menjalankan hubungan selama 11 tahun, dan selama bertahun-tahun itu pula Krow ditinggalkan oleh Jaki tak sekali dua kali.
"Jaki?" Panggil Krow, mengintip dari luar pintu Jaki yang tak terlalu tertutup rapat. Terlihat pria berbadan gagah namun tak segagah Krow itu sedang packing, Krow tersenyum kecil.
"Hm?" Mendengar dehaman balas dari Jaki itu tak menggetarkan dirinya untuk memperbaiki hubungannya dengan Jaki.
"Boleh gak gua masuk?" Jaki berhenti. Membuat Krow sedikit takut akan menanyakan hal tersebut, lalu terlihat anggukan kecil dari pria itu dan aktifitas nya terus berlanjut.
Krow masuk secara perlahan-lahan dan mencoba agar tidak membuat terlalu banyak suara, mencoba supaya tak menganggu ketenangan Jaki.
"Lu ke jepang berapa lama?" Ah, suara yang begitu ia rindukan. Suara yang selalu membuatnya nyaman, suara yang selalu menenangkannya di kala gemuruh riuh mendatangi kepalanya sekali lagi.
"Gak tau. Yang pasti bakal lama." Krow terkekeh kecil mendengar Jaki, sepertinya pria bersurai merah muda yang berada dihadapannya itu sudah mulai mengembalikan sifat ceria nya.
"Yaudah, sehat-sehat ya. Lu kalo butuh apa-apa telfon gua aja, pasti gua bantuin sebisa gua."
"Yakin? Emangnya Echi gabakal marah?" Mereka sempat diam beberapa saat, sebelum akhirnya tergelak bersama. Gelakan mereka itu cukup keras hingga para anggota keluarga yang berada di ruang tengah dapat mendengarnya.
"Heh. Mulut lu ya, Jak. Gua peres ntar kek jemuran." Sungguh, Jaki merindukan guyonan mereka yang seperti ini. Ia ingin menghentikan waktu dan terus merasakan kebahagiaan seperti ini.
"Yeuu, mulut lu duluan yang gua odot-odot ampe merah!" Pertikaian mereka terus berlanjut hingga keduanya tergeletak di lantai akibat terus tergelak tanpa henti, kegelian di dalam perut mereka serta kupu-kupu yang dirasakan di dalam perut Jaki, menghiasi harinya.
"Kok warga lokal Jepang gak ada yang niatan nabok elu ya, Jak?"
"Ya karena muka gue ga se ngeselin muka lu, keles!" Balas Jaki sembari menjauhkan kepala Krow yang hendak bersandar ke bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.
Fanfiction𝐓he strongest has comeback to the town, ready for the new life they will continue. Shout out for, 𝐓𝐨𝐤𝐲𝐨 𝐍𝐨𝐢𝐫 𝐅𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚. 𝐖ith the new strategy of business and coming back after a biggest downfall, they reach the path of success. Berib...
