25 : Langitruntuh

527 57 0
                                        

Markas TNF, 22.34

Malam itu adalah malam yang menegangkan bagi Althair, karena jika ada informasi yang sekiranya tak harus keluar dari mulutnya tak sengaja keluar, nyawanya berhenti sampai disini.

Terlihat di hadapannya ada Rion Kenzo, Caine Chana, beserta tangan kanan dari kelompok TNF sendiri  yaitu Riji Cassanova.

Ketiga pria itu mengarahkan pandangan mereka kepada Althair dengan tatapan yang tajam, bahkan ini baru pertama kalinya ia melihat Caine begitu serius. Bahkan tak ada kehangatan lagi di tatapan atau wajahnya.

"Kita menolong orang itu jarang. Terhitung, gak pernah. Bukan karena gak ada yang minta tolong, tapi, lu hoki." Ujar Riji membuka topik pembicaraan, berusaha membuat suasana menjadi lebih santai sedikit untuk membuat Althair tak canggung.

"Ini. Silahkan di tanda tangan, konsekuensi udah pasti kamu baca dengan baik." Ujar Caine, sedangkan pria bersurai ungu tua itu masih memandang Althair yang menatap berkas itu. Merasa bahwa Althair tak yakin.

"Kenapa? Tinggal tanda tangan aja, kan?" Ujar Rion sebelum akhirnya Althair memberikan anggukan singkat dan mulai menanda tangani berkas tersebut.

Caine memicingkan matanya, berusaha memahami bagaimana raut wajah milik Althair. Sedikit ada ketakutan, kemarahan, serta kesedihan di dalamnya.

"Done."

"Jabat tangan." Gumam Rion, Althair pun menjabat tangan ketiga petinggi yang berada di hadapannya itu. Setelah itu, ia dipersilahkan untuk pergi dan masalah rencana akan mereka diskusikan entahlah kapan.

"Politik-politik asu." Gumam Rion yang menimbulkan kekehan bagi kedua pria yang berada di kiri kanan nya, radio berbunyi dan terdengar suara Selia.

"Hallo? Papi, suami aku mana!!!" Tanyanya dengan nada ketus, membuat Riji tersenyum dan ikut menyahut di radio.

"Maamiihh!!" Suara melengking milik Echi terdengar, membuat Caine menghindar dan menjawab sang anak.

Rion menghela nafas setelah kedua pria itu pergi dari sisinya, ia melihat kearah jendela, menyadari bagaimana Althair masih berada di jalanan dekat dengan markas mereka. Sudah 10 menit, kenapa pria itu tak kunjung pergi?

Ia berjalan kearah jendela lebih dekat, meletakkan atensi sepenuhnya kepada Althair yang terlihat mencurigakan. Perasaannya mengatakan bahwa, semua orang akan terus memanfaatkan mereka atas kekuatan yang kini mereka genggam.

Rion terkekeh mengejek, ia tak takut. Takkan pernah gentar ia dalam setiap langkahnya, ia akan terus bergerak jauh lebih satu langkah di depan para pembencinya.

. . .

Markas SFG, 00.34

Tawaan macam iblis itu terus menggema di dalam ruangan, Eric bersama para kawanannya sedang pesta minum-minum merayakan kesuksesan mereka. Asap-asap tembakau mereka memenuhi ruangan, sesak rasanya.

Suara ketukan terdengar, Eric menoleh dan tahu bahwa itu Althair.

"Masuk."

"Ric, they accept the deal. Here‘s the paper." Althair memberikan berkas yang baru saja ia tanda tangani saat di markas TNF tadi, Eric mengangguk dan tersenyum lebar layaknya iblis.

"Bagus. Gitu dong kalo kerja, becus." Pujinya sebelum akhirnya menyuruh Althair untuk kembali bekerja untuknya, lebih tepatnya kembali pada ruangannya dan membiarkannya bersenang-senang bersama pembenci Rion lainnya.

𝐓𝐇𝐄 𝐍𝐎𝐈𝐑, 𝐎𝐍 𝐀𝐂𝐓𝐈𝐎𝐍.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang