2| The Excess That Brought You To Me

238 28 6
                                        

Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________

Kekuranganku ... apa kekuranganku?

Mari kuberitahu secara perlahan.

Kekurangan pertama: aku payah menahan diri untuk mengunjunginya tanpa berpikir panjang, seperti kemarin. Karena itu aku khawatir dipandang sebagai gadis aneh oleh orang yang kusukai.

Bahkan pagi ini aku belum beranjak dari pikiran yang aneh-aneh. Meski telah sampai di bangku kelas sambil menyumbat telinga, isi kepalaku tetap tak berubah. Di situasi ini, earphone dengan lagu di dalamnya tidaklah berguna.

Dengan kesal aku menarik kabelnya hingga telingaku dapat mendengar suara sekitar. Ada suara ribut milik sekelompok gadis yang sedang membicarakan idola tampan mereka. Lalu umpatan anak-anak lelaki yang menyertai kekalahan game-nya.

Hah ... telinga ini perlu kusumbat lagi atau tidak?

Dahiku berakhir jatuh ke tumpukan lengan di atas meja.

Lalu mengenai pikiran aneh-aneh itu, isinya tentang dugaan yang mengacu pada khayalanku sendiri.

Berarti Naruto memerhatikanku selama ini.

Dia sering melukisku diam-diam.

Menjadi objek lukisnya saja bisa, maka berpacaran dengannya pun termasuk memungkinkan.

Begitulah isinya.

"Gadis bodoh berhentilah berkhayal," bisikku sambil satu kali membenturkan dahi ke lengan. Lalu entah datang dari mana, satu pukulan turut menghantam kepalaku cukup keras. "Aw!" aku segera duduk tegak dan berniat menghardik orang lancang itu.

Seorang Tenten, pelakunya mana mungkin orang lain. Aku mendeliknya yang kini duduk di bangku sebelah sambil menghadap ke arahku. Telapak tangan itu ingin sekali aku cabik-cabik, biar saja Tenten kehilangan senjatanya.

"Masih sepagi ini kau sudah frustasi? Teman bodohku yang malang. Makanya dengarkan jika temanmu memperingati."

Itu celetukan pertamanya yang membuatku ingin menyumbat telinga lagi. Sial. Padahal dia juga tahu aku bebal dicekoki kata-kata, harusnya kemarin Tenten mengejar dan menghentikanku. Tindakan adalah cara pencegahan terbaik.

"Aku tidak menyesal. Walau kembali lagi ke hari kemarin, aku tetap akan mendatangi ruang kesehatan." Yang ini setengah benar. Aku dan Naruto jarang memiliki momen bicara, maka mengunjungi ruang kesehatan adalah kesempatan yang lumayan.

Tenten mendengus. "Baiklah. Aku terpaksa percaya. Lalu kau melakukan apa agar terlihat seperti memerlukan perawatan, dibanding cuma mengunjungi orang yang benar-benar sakit?" alis Tenten terangkat satu, membuatku ingin mencukur habis keduanya.

"Aku memang perlu ke sana untuk mengobati luka. Jadi, alasanku ada dua."

"Kau rela melukai diri sendiri demi memiliki alasan? Kau segila itu?! Astaga."

Inilah dampak overdosis mengkonsumsi film detektif pembunuhan. Pemikirannya mesti diperbaiki.

"Anggap saja sesukamu. Tapi kumohon berhenti mencemari pendengaranku dan membuatku kesal."

Aku bersiap memasang earphone lagi, tapi Tenten segera menggapai dan merebutnya. Delikku kembali terundang. "Sialan! Apa lagi, sih?"

Tenten memegang dada kirinya dengan memasang wajah sok terkejut. "Santai. Aku cuma ingin memberitahu sesuatu."

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang