13| Failed Love Letter

87 10 6
                                        

Naruto©Masashi Kishomoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________


Selalu ada dua perasaan saat kita bersama seseorang: satu merasa nyaman, lalu kedua merasa terganggu.

Supir pengantar-jemputku adalah keduanya. Dia sedang memutar musik rock—yang katanya telah didengarnya sejak bayi—sambil mengguncang-guncang kepala mengikuti alunan lagu.

Itu sangat mengganggu. Bahkan saat lampu merah, banyak pengemudi yang melirik sinis saking kencangnya lagu itu diputar. Kepalaku pun nyaris pecah sekarang.

"Kenapa Omoi-san terus mencekoki telingaku dengan musik rock?" Pertanyaanku melayang cukup keras agar mengimbangi bising di dalam mobil.

Wajah berkepala putih itu sekilas menoleh ke belakang. "Sangat enak didengar, 'kan? Musik ini akan membuat semangat mengalir di setiap sel darahmu."

Uh, berlebihan sekali. "Yang ada pecah gendang telinga."

Lelaki lajang itu kembali menikmati dengan gerak kepalanya yang rusuh, kupikir akan lepas sebentar lagi. Atau paling-paling terserang salah urat.

"Matikan! Aku tidak ingin punya gangguan pendengaran sebelum tua!"

Bisa kulihat dari kaca depan, wajahnya menjadi kesal dan mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan misuhan tak berbunyi. Musik telah dimatikan. Aku dapat menikmati perjalanan lebih nyaman dengan begini.

"Aku sudah berpikir untuk resign," katanya dalam nada santai. Kami memang terbilang akrab, meninggalkan keformalan yang menurutku tak perlu. Usia kami hanya berbeda lima tahun, tapi tampangnya sedikit tua dari usianya yang baru di awal dua puluhan.

"Kenapa? Omoi-san ingin pergi kuliah? Ke Universitas mana?" Aku mencondongkan badan saking antusiasnya. Bukan karena Omoi-san akan resign, tapi karena alasannya.

Dia mendengus. "Buat apa? Banyak hobi yang perlu kuurusi. Itu lebih penting daripada menyiksa otak lagi."

Semangatku surut. Kukira begitu. Padahal dia sudah ditawari oleh Ayah kandungnya untuk berkuliah, semuanya akan dibiayai. Namun, sepertinya Omoi-san enggan berurusan dengan Ayahnya karena masalah perceraian dulu. Dia masih belum menerima penderitaan yang dialami Ibunya setelah dicampakkan begitu saja.

"Kapan resign-nya?" tanyaku sedikit sedih. Walaupun bisa naik bus, aku akan merasa sepi kehilangan orang seru sepertinya. Masa bodoh dengan musik rock, aku ingin Omoi-san tetap menjadi supirku setidaknya sampai aku lulus sekolah.

Decihannya lolos. Dia sedang menatapku dari kaca depan. "Kau tidak rela, 'kan?"

Aku hanya diam menunduk.

"Menangis sambil meraung dulu, baru aku berubah pikiran."

Aku memukul bahunya agak keras. Bercandaannya kadang membuatku ringan tangan. "Jika aku mengadu, Ayah akan memukulimu dengan spatulanya."

"Cih, anak Papi."

"Iri?"

Aku segera melipat bibir ke dalam. Sadar bahwa perkataanku bisa saja menyinggung lelaki itu. Tapi dia hanya diam saja dengan wajah biasa.

"Aku tersinggung, ya."

Senyuman serta ringisanku nampak. Aku tahu, dia mengatakan itu sebagai gurauan. Namun, tetap saja aku merasa tak enak hati.

"Ini seharusnya menjadi kejutan, tapi aku akan membongkarnya sekarang untuk membalasmu."

Dahiku mengerut. Menatap raut wajah Omoi-san yang tampak fokus mengemudi dari kaca depan. "Apa itu?"

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang