15| Sad Days Before Bright

82 9 0
                                        

Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________


Satu kotak hadiah di dekapan jemariku menjadi alasan bangun pagi. Aku berusaha tiba seawal mungkin, mendahului semua orang kecuali satpam tentunya.

Aku tahu, sebenarnya tak perlu mengendap-endap di lorong lengang ini. Hanya udara sedikit dingin yang sedang mengintipku. Tapi namanya naluri manusia yang enggan terciduk, mana bisa ditahan, lagipula gawat kalau-kalau ada yang datang.

Langkahku menggapai area kelas Naruto. Mejanya yang paling dulu kutuju. Sebelum menaruh kotak hadiah kecil di atasnya, aku mengedar pandangan dulu. Lalu untuk sentuhan terakhir, satu sticky notes oranye kuambil dari saku.

Senyumku merekah kala membacanya.

Dariku, si Peringkat Empat yang pernah kau beri lambang hati.

Aku segera menyelipkannya di bawah kotak. Setelahnya langsung menuju kelas sendiri sambil berlagak sibuk. Tenten pasti akan heboh saat tahu aku datang pagi-pagi, bahkan mengalahkan murid paling teladan di sekolah.

Dia tentu akan mengataiku kurang kerjaan.

Bisa-bisa saja aku memberikan hadiahnya langsung dari tangan ke tangan. Tapi percakapan dengan Naruto kemarin sore membuatku gengsi.

Ajakan berpacarannya masih kupikirkan—yang kurasa telah menggerogoti otak seperti kanker, parahnya lagi mencapai stadium akhir. Aku nyaris menggigit bantal saat semalaman menyayangkan momen tanggung bersama Naruto.

Tapi jika seandainya Gin tidak datang pun, kurasa menanggapi Naruto akan menjadi sangat merepotkan. Lidahku pasti mendadak lumpuh.

Punya ide untuk memberinya hadiah pun tidak tiba-tiba. Itu niat lama yang kurencanakan di awal penggarapan dokumenter. Dan waktu memberikannya tepat setelah penggarapan selesai, yaitu sekarang.

Aku hanya ingin Naruto memiliki pemberianku. Setidaknya dia tidak bertangan kosong selama kami berdua dekat. Kata Tenten, kita akan mudah dikenang melalui sebuah benda. Dan aku telah memilih yang paling cocok untuk Naruto.

Ah, aku mendadak tidak sabaran. Berharap bel berdentang tanpa harus menunggu jamnya. Padahal saat kulihat ke arah jalur utama menuju gedung, gerbang baru diserbu sebagian penghuni sekolah.

Naruto punya warna rambut mencolok, seharusnya bisa kulihat jelas meski membaur di kerumunan. Tapi dia tidak terlihat.

Aku malah gelisah sendiri. Rasanya selalu ingin cepat-cepat melihat reaksi Naruto saat membuka kadonya.

Beberapa menit aku masih bertahan. Tapi pada akhirnya masa bodoh juga. Aku tetap berlari untuk mengintip ke kelasnya tanpa peduli apa pun lagi.

Dari jendela, keramaian kelas terpampang dengan suara bising yang sedikit teredam. Satu dua orang pun masih berdatangan dari arah tangga. Aku tidak terlalu dipedulikan setelah diberi lirikan sekilas oleh mereka.

Itu bagus.

Di dalam sana, Naruto sedang duduk sambil membuka kado dariku. Wajahnya tampak sumringah. Lalu ketika membaca secarik kertas oranye, barulah senyumnya merekah lebar.

Aku ikut tersenyum-senyum. Merasa girang luar biasa karena dengan begitu Naruto menyukai hadiahnya.

Tak lama, dia menatap ke arah jendela sehingga menemukan keberadaanku. Tubuhku langsung membeku, tapi perlahan melambaikan tangan sambil memberi sedikit senyum. Namun, Naruto membalasnya dengan senyuman lebar.

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang