Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...
Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________
Pagi ini, pipiku mungkin akan benar-benar terbakar.
Jangan tanya warna merahnya sepekat apa. Bahkan rasanya pun tak pegal meski tersenyum-senyum tanpa jeda.
Penggarapan videoku dengan Naruto telah setengah rampung, bahkan dua episode-nya telah dirilis dan terpajang di akun klub. Ini baru tiga hari sejak video diunggah. Aku tak menyangka penontonnya mencapai seratus ribu, lalu banyak juga yang berkomentar.
Aku sudah bolak-balik membacanya, dan kini, videonya sedang kutonton untuk ke sekian kalinya.
Namun, bukan hanya itu yang hampir meledakkan pipiku. Melainkan sebuah notifikasi dari salah satu media sosial yang baru saja datang.
Mata dan mulutku membulat, hingga satu telapak tanganku membekapnya.
Postingan itu benar dari akun Naruto. Dan isinya fotoku? Benar-benar fotoku yang sering Naruto ambil sembarangan!
Belum selesai dengan keterkejutanku sendiri, Tenten berhenti mendadak sambil menghantam pundakku dengan cengkramannya. Aku nyaris tersungkur ke depan.
"Cek akun Naruto sekarang!" sambarnya dengan wajah yang seperti akan menghardik. Belum lagi mata melototnya yang bisa saja menggelinding di lantai koridor.
Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menunjukkan layar ponsel padanya. Tenten segera mengubah wajahnya menjadi serius dengan dahi mengerut.
"Caption-nya tugas klub bulan ini, dan isi postingannya fotomu. Kau tahu artinya apa?" tanyanya seperti detektif yang sedang mengeluarkan analisisnya. Terkadang Tenten sok pemikir, meski kadang bisa seperti orang bijak.
"Apa?" Aku balas bertanya, pura-pura terpancing.
"Dia tidak ingin menarik perhatian tapi membuat orang berpikir macam-macam. Naruto sedang mengirim kode padamu, Hinata. Dia ingin membuatmu merasa ada sesuatu."
Aku mengangkat satu alis. Meski jauh di dalam sana merasa kegirangan, pernyataan Tenten tidak membuatku serta-merta setuju. Intinya, aku belum mau terlalu percaya diri.
"Itu hanya postingan biasa."
Tenten mendengus keras, nyaris menggoyangkan dua cepolnya yang sekokoh tiang koridor. Kadang aku penasaran, apa isi di dalam cepolnya itu sebuah batu?
"Biasa apanya? Aku tahu kau salah tingkah setengah mati sekarang. Jangan berlagak begitu."
Sudah kuduga, dia pasti tahu. Masalahnya pagi ini aku sedang tidak mood untuk berjingkrak ria. Toh, berlagak biasa pun Tenten tetap tahu.
"Dia sudah biasa membuat postingan tentang klub. Kau pasti tahu dari akun media sosialnya."
Dari yang kutahu, Naruto memang begitu. Postingan akunnya minim. Kebanyakan tentang klub, lalu foto selca-nya sendiri yang bisa dihitung jari—yang kadang selalu kupandangi sebelum tidur.
Ah, itu rutinitas rahasia.
"Bodoh!" Pukulannya menghantam keras lenganku. Agaknya ... dia memang jelmaan ibu tiri.
"Aw! Ini sakit!" Aku mendeliknya seolah sangat dendam. Meski peranku menjadi Bawang Putih, jiwaku tetap Bawang Merah yang sengit.
Tenten berubah sangat kesal. Mungkin saja geram. Dia ibarat api dan aku bahan bakarnya. Entah bagaimana caranya kami masih berteman sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Summer
RomanceBerlatar di musim panas, musim penuh gerah dan minuman dingin ... juga ... mendebarkan. Hinata tak menduga musim yang sering ia umpati akan membakar perasaannya. Perasaan suka itu ... menggebu lebih hebat dibanding saat dirinya masih seorang pengama...
