6| A Fun Escape

161 21 4
                                        

Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________

Setelah berganti baju olahraga yang diantar Tenten ke toilet, aku kembali ke kelas dan mendudukkan diri dengan membuka jendela. Aku perlu anginnya untuk mengeringkan rambut basah hasil dari tercebur.

Pandanganku ke arah langit meneduh, lalu tarikan di ujung bibirku menyusul. Satu ingatan mendebarkan itu kini terbayang lagi.

"Ambillah susu hangat ini. Aku mendapatkannya dari kantin. Kau bisa minum dengan leluasa karena botolnya belum pernah kupakai."

Dialog itu milik Naruto ketika memberikan botol minum di depan toilet begitu aku selesai mengeringkan diri. Dia sengaja menungguku untuk memberikannya. Sungguh pemuda yang manis.

"Apa dia gila?!"

Oh, ya ampun. Aku berhenti tersenyum-senyum mendadak. Yang tadi itu Tenten. Aku lupa kami sedang bersama dan aku baru saja menceritakan kejadian di kolam renang. Si Cepol itu berteriak setelah membaca surat ajakan bertemu dari Kiba.

Aku mendengkus lemah, kepalang habis semangat memikirkannya sejak pulang dari kolam renang.

"Kurasa iya. Dia benar-benar gila."

Pipiku terjatuh ke permukaan meja, cukup keras dan sempat ngilu, namun aku tak acuh.

"Bagaimana ini? Ada seorang lelaki yang mengaku menyukaiku di depan Naruto. Yang lebih parah itu temannya sendiri. Mustahil Naruto berpikiran untuk melirikku nantinya, dia mana mungkin menyukai gadis yang disukai temannya sendiri. Bagaimana jika dia bersedia bertukar dengan Kiba?"

Racauanku berlanjut yang kemudian memancing Tenten menghela napas. Kedengarannya dia ikut-ikutan putus asa meski tanpa kutilik wajahnya.

"Entahlah. Kurasa benar-benar tidak ada harapan. Kecuali Naruto sudah menyukaimu lebih dulu sebelum mendengar pengakuan Kiba, mereka pasti akan bersaing untuk mendapatkanmu."

Bahkan Tenten yang biasanya lebih menggebu-gebu dariku mengatakan hal demikian. Keputusasaanku makin memburuk saja.

Tubuh atasku terangkat lalu menempel pada punggung kursi. Lenganku menyilang di depan tubuh. "Lagipula aku merasa Kiba tidak serius mengatakannya. Dia bahkan tidak ragu mendebatku tanpa berpikir aku akan sakit hati. Itu sikap yang tidak akan dilakukan lelaki pada gadis yang disukainya."

Dia yang blak-blakan dan mencak-mencak sebelumnya mengaku suka? Aku gila jika memercayainya. Tanda-tandanya justru menunjukkan dia memusuhiku, kentara sekali.

"Maka ada kemungkinan Kiba hanya memakainya sebagai alasan. Dia melakukannya agar kau bisa bertukar dengan Sara."

Tenten benar. Pikiran kami sama. Si kepala coklat gila dan seribu satu caranya, sungguh menjengkelkan.

Wajahku menengadah ke atas sambil menyemburkan buangan napas dari mulut.

"Kenapa aku harus bertukar dengan Sara-san? Kenapa Kiba yang harus merekamku? Kenapa aku dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kusukai? Padahal aku hampir mati kegirangan karena bisa menghabiskan waktu bersama Naruto."

Tenten menggiring kepalaku agar merebah ke bahunya. "Cup. Cup." Dia menepuk-nepuk pipiku pelan. "Jangan sedih begini. Kalian belum resmi bertukar. Jadi, masih ada harapan."

Dalam kemurunganku, sudut bibirku perlahan tertarik ketika memandangi botol minum yang kini kupeluk.

"Tapi aku juga senang. Berkat kejadian itu botol minum ini ada di tanganku. Aku jadi punya kesempatan bertemu dengannya lagi."

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang