Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...
Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________
Aku membuang napas lega. Sore ini wajah Tenten tidak murung lagi karena insiden pembubaran klub waktu lalu. Meski klubnya benar-benar bubar, Tenten berakhir merelakannya dan enggan berlarut-larut.
Tapi sayangnya, bahasan kami cukup serius kali ini. Kabar aku dan Naruto bergandengan tangan mendarat dengan cepat ke telinga Tenten yang selebar gajah itu. Dan dia sedang menyuarakan pendapatnya sekarang—yang kudengarkan setengah hati.
"Bukan hanya tentang dokumenter, kalian memperpanas gosip mereka dengan bergandengan tangan di koridor. Apa masih tidak terjadi sesuatu di antara kalian? Aku curiga." Matanya menyerang ke arahku dengan kelopak menyipit, lengannya bersedekap. Pose itu tidak mengintimidasi sama sekali bagiku.
"Naruto bilang, dia tidak masalah meski orang-orang salah paham tentang kami," kataku enteng.
Dan Tenten memberi dengusannya. Cih, kenapa dia harus mendengus begitu?
"Itu terdengar egois. Baginya tidak masalah, tapi bagaimana denganmu?"
Bibirku tersenyum-senyum. "Aku pun tak masalah."
"Tentu saja begitu. Aku yang bodoh karena menanyakannya." Kepala bercepolnya menggeleng-geleng dengan sedikit meringis. Tahu kalau pertanyaannya bodoh.
Kami akhirnya terdiam selagi mencapai halaman gedung yang dipenuhi rerumputan hijau, melangkah di jalur paving block. Menikmati perpaduan cahaya hangat dan ramainya keadaan di waktu pulang sekolah. Sudah banyak sekumpulan orang yang melewati kami dengan bercengkrama ria.
"Kedekatan kalian sudah bisa dikatakan nyaris ke tahap pacaran. Tapi kenapa masih saja tanpa status? Aku benar-benar heran."
Dengusanku menimpali. Kalau dia heran, aku apalagi. Lagipula Tenten mengatakan seolah hubunganku dengan Naruto mudah dibawa ke mana saja. Pikirnya ini tentang kemasan snack?
"Pacaran apanya?"
Tenten sedang menatapku penuh selidik sekarang, aku tahu hanya dari ekor mata. Tenten selalu terang-terangan mengenai ekspresi wajahnya jika bersamaku. Dan itu sangat menyebalkan.
"Aku tahu kau diam-diam menunggu Naruto menembak. Tapi sepertinya, dia terus membuatmu terbawa perasaan tanpa berniat menjalani hubungan serius. Kau sedang digantung, Hinata."
Iya-iya, oke! Itu benar. Tapi tidak seharusnya si Cepol itu mengatai Naruto. Mana mungkin aku digantung saat kami tidak berpacaran. Pendekatan berjalan lambat itu wajar namanya.
"Dia tidak seperti itu, Tenten!"
"Bela saja terus! Aku sedang menyuruhmu waspada."
Aku mendeliknya lama. Perlukah dia mencak-mencak seperti itu hanya karena gemas terhadapku? Padahal Tenten juga belum pernah berpacaran. Tahu apa dia tentang perkembangan hubungan asmara seseorang?
Hingga ketika aku masih betah mendeliknya, Tenten mati langkah tanpa sebab sambil terpaku memandang ke depan. Aku mengerut dahi. Seberapa menyeramkan yang ada di depan sana?
Wajahku tergiring ke depan, menatap arah yang sama di mana seseorang berada. Aku turut terpaku.
Itu Ibu. Tepat di sisian gerbang.
"Kalian memiliki janji hari ini?" Tenten bertanya.
Aku segera menoleh padanya dan menggeleng.
"Berarti ini kejutan untukmu." Tenten membalas senyum Ibu di kejauhan sana lalu memberi satu bungkukkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Summer
RomantikBerlatar di musim panas, musim penuh gerah dan minuman dingin ... juga ... mendebarkan. Hinata tak menduga musim yang sering ia umpati akan membakar perasaannya. Perasaan suka itu ... menggebu lebih hebat dibanding saat dirinya masih seorang pengama...
