Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...
Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________
Setelah membantah Tenten puluhan kali bahwa bertelepon dengan lawan jenis berkali lipat lebih menyenangkan, aku akhirnya mengakui bahwa dia benar.
Baru berjalan lima menit sejak Naruto menghubungiku lebih dulu. Aku yang selalu mengirit produk kecantikan seketika tak peduli jika itu terbuang. Masa bodoh. Aku segera mengelap krim wajah yang sudah terlanjur dituangkan ke tangan lalu bergegas menyambar ponsel.
Kini kami terdiam seusai topik basa-basi. Bahasan terakhir kami mulai berancang-ancang ke arah penggarapan video. Rasa-rasanya, terasa berat sekali membayangkan pembicaraan kami akan berakhir nantinya.
"Yang itu tak perlu ditampilkan, bukan?"
Naruto menyinggung bagian video yang sebelumnya dia kirimkan padaku. Jawabanku tak segera terdengar. Penafsiranku bermacam-macam terhadap pertanyaannya kali ini.
Apa aku tampak jelek di sana?
Ekspresiku kurang alami?
Atau kenapa? Kenapa dia bilang tidak perlu?
Aku mendadak kecurian mood. "Kenapa? Aku jelek di bagian itu?" tanyaku dengan suara lesu. Kuharap jawabannya tidak mematahkan telak semangatku yang awalnya menaik pesat.
"Terlalu lucu. Biar kusimpan saja secara pribadi. Boleh, ya?"
Ah, Hinata bodoh. Tega-teganya mencurigai pemuda manis sepertinya. 'Kan, aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Naruto-san mau menyimpannya? Sungguh?"
"Tentu jika kau membolehkan."
Wajahku meringis selagi memikirkan balasan. Malu rasanya jika videoku disimpan olehnya. "Jangan, ya? Aku malu."
Beberapa detik Naruto tak bicara, aku menunggu dengan cemas dan sedikit menyesal sekarang. Jika saja kubolehkan, fotoku di galerinya mungkin bisa membuatnya menyukaiku.
"Baiklah. Tak apa," ucapnya tanpa kuduga. Ia berbicara di saat aku termenung sendiri.
Bolehkah kutarik perkataanku tadi?
"Tidak jadi. Silakan simpan yang Naruto-san mau. Aku bisa menyesal jika tidak membolehkanmu. Tapi ingat, simpan yang lucu-lucu saja."
Tawa ringannya menembus lubang suara di ponselku. Itu hal paling merdu yang pernah keluar dari sana.
"Semuanya lucu."
Ujung bibirku tertarik, tersipu sambil memikirkan seberapa tampan wajah tersenyumnya saat ini.
"Bohong. Wajahku beberapa kali terlihat aneh dalam video yang belum disunting. Jadi, tidak semuanya."
Bukan bermaksud menganggap Naruto beromong kosong. Namun, setelah melihat sendiri videonya, aku merasa tak percaya diri di beberapa ekspresi.
"Kau harus tahu. Letak keindahan juga berada di dalam mata setiap orang, tak hanya pada objeknya saja. Itu prinsipku setiap kali menggambar."
Kalimatnya membuatku tertegun sebab kutangkap maksudnya dengan jelas. "Artinya, kita berbeda dalam pandangan berbagai mata?"
"Benar. Jadi, seperti apa aku dalam pandanganmu? Ayo beritahu."
Tiba-tiba begini? Wah, itu serangan yang berbahaya. Aku sampai tertawa patah-patah menanggapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Summer
RomanceBerlatar di musim panas, musim penuh gerah dan minuman dingin ... juga ... mendebarkan. Hinata tak menduga musim yang sering ia umpati akan membakar perasaannya. Perasaan suka itu ... menggebu lebih hebat dibanding saat dirinya masih seorang pengama...
