16| Sad Days Before Bright 2

131 12 3
                                        

Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________


Ebisu-sensei baru memimpin kelas selama separuh jam. Pelajaran berjalan hambar. Membosankan tidak, menyenangkan juga tidak.

Entah memang keadaannya begitu, atau suasana hatiku saja yang bermasalah? Kulihat semua orang masih menikmati ketika beberapa candaan diselipkan oleh Ebisu-sensei.

Sementara tawaku entah ke mana. Rasanya terlalu lelah, letih, lesu untuk beradaptasi.

Aku melirik Tenten, si Cepol itu asik bermain tic tac toe bersama teman di belakangnya. Akhir-akhir ini, dia sering melenceng ke mana-mana. Sering sekali menganggurkanku yang merupakan teman akrabnya sendiri.

Mataku memicing, berharap mengeluarkan laser merah yang akan mencabik-cabik dalam sekejap.

Bip ... Bip ... Bip.

Bunyi dari jam tanganku menginterupsi seluruh suara, bahkan segala pergerakan orang-orang.

Semua kepala mencari-cari sumber bunyinya.

"Alarm apa itu?" tanya Ebisu-sensei begitu tahu sumbernya dari jam milikku.

Aku sedikit tidak fokus untuk menimpali. Alarm itu mengirim sinyal bahwa sesuatu sedang terjadi. Naruto telah menekannya ... ada kemungkinan dia panic attack!

Kecemasanku segera ke permukaan.

"Ini ... pengingat untuk minum vitamin." Suaraku kedengaran sedikit bergetar. Menemukan alasan pun hanya seadanya. Cari mati namanya jika aku nekat pergi begitu saja tanpa meminta izin.

Ebisu-sensei mengerut alis. Responnya yang sesantai itu membuatku gemas sendiri. "Kenapa? Tulang mudamu keropos?"

Beberapa teman sekelas ada yang menahan tawa, termasuk Tenten. Aku merasa agak malu juga.

"Untuk perawatan kulit. Musim panas terlalu menyengat belakangan ini. Boleh aku permisi sebentar?"

Ayolah, katakan boleh. Kumohon ....

Pria berkacamata itu justru menggeleng-gelengkan kepala. "Perawatan macam-macam lagi. Itu tidak lebih penting dari belajar. Tetaplah duduk," titahnya sambil fokus membuka halaman buku.

Aku tentu merasa jengkel, salah membuat alasan juga. Naruto tidak boleh menunggu terlalu lama. Ingin jujur pun, takutnya dicurigai yang iya-iya.

"Kumohon, Sensei."

"Bukan vitamin, tapi obat wasir."

Itu suara Tenten. Dia asal menyeletuk selagi sibuk menulis. Bahkan suaranya sengaja dikeraskan.

Semua orang kompak terkejut, tidak terkecuali Ebisu-sensei. Aku memelototi Tenten karena menyeletuk sembarangan.

Wasir apanya?!

Si Cepol itu menatap Ebisu-sensei dengan wajah meringis. Entah mau apa lagi?
"Ini darurat, Sensei. Biarkan saja dia pergi." Setelahnya, Tenten menoleh padaku bersama senyum menyebalkan, super super menyebalkan!

Dan gara-gara dia, Ebisu-sensei sedang menatapku dengan begitu malang.

Sialan!

• • •

Walau keberatan, aku akui Tenten lumayan membantu.

Ebisu-sensei memberikan izinnya. Dia menjadi salah satu orang yang percaya begitu saja, bahwa omongan Tenten seakurat diagnosa dokter.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang