8| Questions At The Library

151 20 8
                                        

Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...

Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________

Apa yang terjadi setelahnya?

Seperti yang sudah kuduga: canggung. Tak ada yang dapat kudeskripsikan selain itu. Kami duduk bersisian sambil bersandar pada tembok bangunan atap. Tak beranjak dari tempat semula aku menemukan Naruto, kami masih di sini, tanpa bicara bahkan tak sesekali berbalas tatap.

Entah sudah berapa lama, aku tak menghitung waktu akibat terlalu berdebar. Bahkan saat kulirik pun, Naruto tetap membuang wajah tenangnya ke depan dengan tanpa terbaca keadaannya. Entah dia sama gugupnya? Atau hanya merasa buntu terhadap situasi kami.

Hingga saat dirasa tak tahan lagi, bibirku mulai terbuka untuk mengantar sebuah topik pembicaraan.

"Apa kau selalu sendirian dalam keadaan seperti itu?" Aku menjeda ketika dirinya memberi atensi, sekaligus melihat reaksinya yang ternyata masih biasa saja. "Saat Naruto-san mengalami serangan panik," lanjutku, tak lama mengambil satu tundukan singkat.

Jawabannya tak segera terdengar. Namun, aku tahu dia bukan enggan menjawab, hanya mengambil waktu jeda.

"Ya. Tapi saat masih kecil dulu, ada seseorang yang selalu datang untuk memelukku."

Aku menoleh. Wajah tampannya kini tersuguh bersama seulas senyum tipis. Mengingat dia sempat mengigaukan sesuatu, sepertinya aku dapat menebak.

"Ibumu?"

Senyumnya merekah lebih lebar, seolah membenarkan tebakanku. Mata birunya lalu menatap teduh ke arah langit berwarna sama di atas sana. "Pelukannya masih kuingat walau sudah lama tak kudapatkan. Dan berkat dirimu, aku bisa merasakannya lagi secara nyata."

Mata birunya menyerangku dengan terlihat teduh, lekat dan lama hingga membuatku semakin berdebar dari batas wajar. Namun, ada juga kebingungan dalam sorot mataku setelah mencerna apa yang dikatakannya. Dan seolah paham, Naruto segera memulai cerita dari bagian hidupnya untuk pertama kali.

"Sejak berusia dua belas tahun aku sudah rutin mengunjungi makamnya. Ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan bus."

Aku terdiam begitu tahu. Merasa tak enak hati karena membuat kenangan sedih itu tersinggung. "Maaf karena telah membuatmu mengingatnya."

"Aku tak pernah lupa untuk mengingatnya. Bahkan seterusnya akan tetap kuingat." Sorot teduhnya kembali menubruk luasnya biru di atas sana. "Kebanyakan orang menganggap kejadian menyedihkan adalah hal yang mesti dilupakan, padahal ada seseorang yang mereka sayangi di dalamnya. Aku enggan melakukan itu karena akan melupakan Ibu juga."

Aku mengerti perasaan itu. Dulu, saat berada pada masa di mana aku sangat marah pada Ibu, perasaanku meluap untuk melupakan segala hal tentangnya tanpa berpikir panjang. Tapi aku memilih untuk enggan melupakannya. Ibu sudah pergi ... maka kenangan tentangnya tidak seharusnya kulenyapkan juga. Sama halnya dengan Naruto, kami sama-sama terlalu sayang untuk melupakan kenangan yang dimiliki.

"Aku setuju."

Kulihat dari ujung mata dia menoleh. Lalu aku melakukan hal yang sama. Di titik ini, baru kusadari pandangan matanya meneduh ke arah wajahku. Sejenak aku mendadak lupa cara bicara, suaraku tercekat, untungnya dengan cepat kembali seperti biasa.

"Tidak semua kenangan yang membuat kita sedih harus dilupakan. Kita hanya perlu menyimpannya dengan benar untuk diingat sewaktu-waktu, karena bagiamanapun, kenangan buruk itu merupakan bagian dari kehidupan kita." Senyumku merekah ketika mendapati Naruto mendengarkan dengan seksama. "Benar, kan?"

Second SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang