Naruto©Masashi Kishimoto
[Alternate Universe]
...
Fanfiction by @Krt_hyuu
____________________________________
Langkah kami beriringan menuju arah pulang. Aku setengah kecewa dan setengah senang ketika kebersamaan kami harus berakhir. Lalu ... mungkinkah Naruto turut merasa demikian? Sayang, tak satu pun bisa kubaca dalam wajah tenangnya yang menghadap ke depan sana. Dan ketika kutilik, rumahku sudah terlihat di beberapa meter lagi.
Tak lama sisa jarak kami habis. Aku menuntunnya berhenti tepat di depan gerbang rumah. Kami berhadapan.
"Ini rumahmu?" tanya Naruto sambil melihat-lihat.
Aku mengangguk-angguk seiring ikut melihat ke bagian dalam. "Rumah yang membosankan tapi juga nyaman." Wajahku kembali menghadap padanya. "Mau masuk?"
Itu cuma tawaran umum sebagai basa-basi, yang kuharap dia terima. Namun, tentu anak baik-baik seperti dia takkan mau diajak berduaan dalam rumah kosong.
"Mungkin lain kali?" katanya diantar senyum tipis yang manis. Itukah salam perpisahannya? Aku pasti sulit tidur malam ini.
"Baiklah. Nanti kutawari lagi."
Naruto tertawa kecil, menangkap dengan baik candaanku yang terutara secara alami. Entahlah, aku yang kaku bercanda bisa selancar itu dengannya. Mungkin karena dia penggubris yang baik, setiap responnya membuatku leluasa.
"Jadi, aku harus mau?" Naruto balas bercanda.
Aku dibuat tertawa karena mata menyipitnya terlalu lucu.
"Ah, aku baru ingat." Naruto menyeletuk setelah tampak tersadar akan sesuatu.
Tawaku pun menyurut. Diam menyaksikan apa yang pemuda itu lakukan selanjutnya. Naruto mengambil botol minum dari ranselnya, merapat padaku agar jarak kami lebih dekat, kemudian menaruhnya ke tumbler pocket di ranselku.
Napasku terjeda begitu jarak wajah kami terlalu dekat. Setelahnya Naruto kembali mundur untuk mengambil jarak.
"Botolnya tertinggal di perpus. Aku mengejarmu untuk mengembalikannya, tapi mendadak lupa."
Aku tersenyum. Akhirnya pertanyaanku yang tak sempat diutarakan terjawab juga: tentang bagaimana bisa Naruto menyusul bahkan membawaku kabur dari supir periang Ayah.
"Terima kasih. Aku takkan meninggalkan botol pemberianmu lagi."
Naruto hanya tersenyum menanggapiku.
Lalu tak lama, sorot lampu milik sebuah mobil yang mengenai kami langsung merebut atensi. Tubuhku mendadak kaku. Lampu itu mati bersamaan dengan mesin mobil. Ayah yang berada di dalamnya turun menghampiri kami berdua.
Gawat!
Lihat wajah dingin itu. Ayah tentu tahu harus bertampang bagaimana saat ini. Aku melirik Naruto yang tampak tenang-tenang saja. Aku yakin dia bisa menebak siapa pria yang turun dari mobil itu. Dia pasti tahu.
Ayah berdiri di dekat kami yang masih berhadapan. Tatapan dingin bercampur garangnya terus mengarah pada Naruto seolah sedang menyalahkannya. Ayah tentu beranggapan putrinya dibawa kabur oleh seorang lelaki dan terlambat dikembalikan hingga malam tiba. Sialnya lidahku kelu untuk menjelaskan kebenarannya.
"Siapa namamu?"
Dalam ketenangannya dia membungkuk hormat untuk kemudian memperkenalkan diri. "Namikaze Naruto."
Ayah melihat penampilan Naruto dengan gerak mata naik-turun. Aku takut dia menyemburkan perkataan kejam yang akan membuatku kehilangan muka.
"Penampilanmu tidak seberantakan berandal. Rapi seperti murid teladan." Suara Ayah terjeda, napasku pun turut demikian. "Apa kau masih merasa menjadi anak baik-baik setelah memulangkan seorang gadis malam-malam begini?" katanya dalam nada suara dingin melebihi udara malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Summer
Roman d'amourBerlatar di musim panas, musim penuh gerah dan minuman dingin ... juga ... mendebarkan. Hinata tak menduga musim yang sering ia umpati akan membakar perasaannya. Perasaan suka itu ... menggebu lebih hebat dibanding saat dirinya masih seorang pengama...
