Chapter 11: Ada Yang Disembunyikan

45 1 0
                                        

Ruang tamu di rumah Rhyne kali ini terlihat berbeda. Tempat itu memang sudah lama tidak menjadi tempat favoritnya. Mungkin sejak pertama kali Rhyne tinggal bersama neneknya, entah karena tidak ada orang yang benar-benar ingin duduk berlama-lama di situ atau waktu yang membuat orang-orang mengabaikannya. Tapi kalau diingat-ingat lagi, ada satu waktu di mana ruang tamu itu terlihat ramai, walaupun hal itu menjadi pertanda duka yang mendalam untuk ibunya, Yolanda.

Seseorang yang bertahun-tahun lamanya tinggal di luar kota, untuk pertama kalinya Yolanda menemuinya dalam keadaan prihatin. Budhenya Rhyne meninggal karena kecelakaan tabrak lari saat ingin mengunjungi Yolanda. Menyisakan luka yang mendalam bagi ibunya Rhyne hingga saat ini.

Gadis itu melihat dua orang yang duduk di sofa ruang tamu sembari bermain catur. Rhyne melihat dari ambang pintu kamarnya yang dibuka sedikit, tertegun sejenak. Ayahnya yang sedang bermain catur dengan Diego sembari mengobrol serius, sesekali mereka tertawa kecil. Hal sederhana yang belum cukup untuk membuka perasaan laki-laki dewasa itu lebih jauh.

Bagi Rhyne, diamnya sang ayah selama ini di ingatannya seperti botol kosong dalam bar yang pernah memabukkan, namun kini yang tersisa hanya sebatas rasa yang terbiasa untuk dimabuk oleh terka.

Rhyne yakin ada sesuatu yang penting dalam percakapan mereka, meski ia tak tahu apa itu.

Diego: Rhyne?
              Rhyne?
             Rhynessa ...
            Masih di kamar?
           Udah bangun apa belum sih?

Rhyne mengerjap, bunyi dering notifikasi yang lirih itu menarik perhatiannya beberapa saat kemudian. Pesan dari Diego. Rhyne membukanya tapi tak berniat membalas pesan itu.

Rhyne mendengus spontan begitu tersadar kemeja yang Diego pakai itu mengingatkannya pada tragedi pencurian ciuman pertamanya oleh Yudha karena laki-laki itu mabuk.

"Rhyne? Udah bangun ya?". Tawa pelan Diego terdengar, mungkin karena laki-laki itu berhasil melihat Rhyne yang bersembunyi dibalik pintu kamarnya.

Rhyne acuh tak acuh, tangannya menutup pintu tanpa sepatah katapun. Diego yang tak biasa melihat reaksi Rhyne barusan, bertanya-tanya ... adakah sesuatu darinya yang membuat suasana hati gadis itu memburuk? Atau Rhyne saja yang tengah menyembunyikan sesuatu?

"Semuanya baik-baik aja, kan, Rhyne?"

Diego sudah berdiri di depan pintu, menenteng nampan berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air minum. Katakanlah Diego tidak tahu apa yang terjadi pada Rhyne, tapi laki-laki itu peka jika sedari tadi gadis itu belum makan malam sejak dia mengurung dirinya di kamar beberapa jam lamanya.

"Oke"

Singkat. Datar.

"Yaudah gih, nih, makan dulu!" laki-laki itu menyunggingkan senyum lebarnya, menatap Rhyne dengan penuh antusias.

"Ngapain ngeliatin gue kayak gitu?" Rhyne jadi sangsi, perasaannya belum membaik sejak siluet bayang pemilik kemeja yang dipakai Diego kali ini memenuhi benaknya. Sungguh, Rhyne benci situasi seperti ini. Ia jadi kurang fokus dan seperti ingin meledak-ledak saja. Sementara Diego yang tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Rhyne, tetap menunggu gadis itu mengambil nampan berisi menu makan malamnya.

"Rhyne, menurut lo kalau ada orang yang berkorban buat lo demi lo supaya nggak sendirian, lo gimana?"

Rhyne mengangkat alis sembari mengambil nampan berisi makanannya untuknya itu dari tangan Diego.

"Emang di dunia ini yang penting cuma gue doang?"

Diego tertawa kecil, "kok jadi sensi sih, Rhyne?"

"Gue mau makan dulu. Lo jangan ganggu!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Beautiful Feeling ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang