Happy reading
.
.
.
.
.
.
.
.
Tokk...tokk...tokk...
(Suara ketukan pintu)
"Siapa dah? Perasaan ini belum jam masuk, kata Bu Anit kan kita mulai nya jam 13.25, cepet banget anjir baru juga 12.55" Kesal Nisa yang sudah mengomel terlebih dahulu.
"Mungkin aja bukan Bu Anit, biar gue yang buka pintu" Ucap Reyga
Reyga berdiri dari duduknya, kemudian dengan perlahan membuka pintu untuk orang tsb.
Saat pintu terbuka, Reyga dengan cepat ingin kembali menutupnya, namun karena kekuatan orang ini lebih besar dari reyga, reyga pun langsung menyerah.
"Rey, kamu lapar kan?, aku bawain makanan sama minuman" Ucap Jevan yang seperti peka dengan keadaan pacarnya itu.
"Aku ga lapar." Jawab Reyga
"Sayang, kamu marah sama aku kan? Maafin aku ya... Aku ngaku aku salah, maafin aku ya?" Ucap Jevan memohon dengan lembut
Reyga hanya diam, dan tidak melihat sedikit pun ke arah kekasih nya itu.
Nisa yang menyadari hal itu pun langsung bergabung dengan Reyga.
"Pacarnya Reyga kan? Tuh kasian banget pacar lu ga sempat makan" Ucap Nisa
"Cepu lu!" Kesal Reyga ke Nisa
"Dih. Kalian berdua lagi berantem ya?"
"Bukan urusan lu! Udah sana masuk lagi!!" Titah Reyga
"Iye iye" Nisa pun menurut
"Nih ambil makanannya, aku tau kamu lapar, lupain aja kalo kita lagi marahan, fokus ngisi perut aja dulu. Ntar pulangan bareng aku ya, kita ngomongin baik baik, bye sayang" Ucap Jevan sembari tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Reyga.
Reyga masih terdiam, sampai ia yakin kalo Jevan sudah jauh dari ruang OSIS.
Reyga mengambil makanan minuman yang dibelikan oleh pacarnya itu, kemudian kembali masuk dan menutup pintu ruangan osis.
.
.
.
.
.
Sepulang sekolah, benar saja Jevan sudah menunggu nya diluar ruangan osis sembari memegang tas milik Rey.
"Ngapain disini?" Tanya Rey, ia masih kesal sepertinya dengan Jevan
"Nungguin kamu. Btw, ini aku udah bawain tas kamu. Jadi kita bisa langsung pulang" Jelas Jevan
"Hm." Rey hanya berdehem, dan menyodorkan tangannya untuk mengambil tas nya dari tangan Jevan
"Gausah. Biar aku aja yang bawain, aku tau kamu pasti cape kan?"
Mendengar Elakan dari pacarnya itu, Rey pun tidak menjawab dan memutuskan untuk jalan lebih dulu menuju ke parkiran.
Sesampainya di parkiran, lagi lagi Rey lebih dulu masuk kedalam mobil tanpa sepatah katapun menegur Jevan.
Jevan hanya menghela nafas kasar, dia tau kalau pacarnya itu sedang marah padanya. Ia pasrah, dan kemudian masuk kedalam mobilnya juga
Jevan pun menancapkan gas mobilnya menuju ke kediaman Rey.
Mereka telah sampai di kediaman Rey, Rey dengan tanpa sepatah kata langsung ingin keluar dari dalam mobil Jevan.
Namun sebelum itu terjadi, Jevan dengan cepat menahan tangan Rey untuk tidak keluar dari mobilnya.
"Sayang tunggu" Tahannya
Rey menghela nafasnya kasar "makasih" Ucap Rey, kemudian hendak ingin keluar dari mobil Jevan.
Namun lagi lagi Jevan menahan tangan kekasih nya itu.
"Bukan itu yang mau ku dengar dari kamu Rey" Ucap Jevan dengan suara kecilnya.
"Terus?" Rey menatap Jevan
"Aku mau kita bicarain hal tadi baik baik dulu."
"Aku ga peduli kamu sama teman teman kamu mau ngapain, selagi itu diluar lingkungan sekolah" Jelas Rey, yang sepertinya masih tetap kesal.
"Kamu memang ga peduli sama teman temanku, tapi kamu marah sama aku sayang, aku tau"
"Aku ga marah sama kamu" Ucap Rey, tanpa melihat ke arah Jevan
"Kalo gitu liat ke aku sekarang" Pinta Jevan
Rey terdiam sebentar, kemudian beralih menatap ke Jevan yang sudah menangis.
"Jev..?"
"Disini memang aku yang salah, kamu pantas marah, tapi tolong jangan diemin aku sayang. Aku siap kamu mau marahin, kata katain, pukul, tampar, atau mau hukum aku dengan apapun cara kamu, aku siap. Tapi tolong jangan diemin aku kayak gini" Ucap Jevan
Mendengar itu, hati kecil Rey pun tergerak, ia mengusap kasar rambut Jevan dan tersenyum.
"Udah gausah nangis. Aku seriusan udah ga marah sama kamu, aku juga ga bakal ngehukum kamu, tapi ada satu hal yang aku minta dari kamu." Ucap Rey lembut
"Apa? Minta apapun yang kamu mau. Pasti aku kasih" Jawab Jevan cepat
"Aku gasuka cowo yang ngerokok, dan liat sekarang mulut mu jadi bau rokok karena tadi. Aku kira kamu udah mau berhenti merokok, tapi nyata nya enggak." Jelas reyga
"Jadi kamu mau aku berhenti merokok?" Tanya Jevan yang sepertinya langsung peka dengan maksud perkataan Rey.
"Hem." Rey mengangguk
"Aku bakal berhenti merokok. Demi hubungan kita, aku bakal lakuin apapun itu" Ucap Jevan
"Makasih" Rey tersenyum
To be continued.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Jevan Reyga [BL LOKAL]
Teen FictionJevan menyukai Reyga dari lama, namun Reyga selalu menolaknya dengan alasan dia masih Normal. Namun pada saat tertentu Reyga mulai menerima Pernyataan perasaan dari Jevan karena ia berfikir dia akan sangat risih jika selalu di pertanyakan hal yang s...
![Jevan Reyga [BL LOKAL]](https://img.wattpad.com/cover/350041184-64-k427255.jpg)