Eletha duduk diam menyendiri di ruangannya sembari rembulan dari balik jendela ruangannya, Finnick membiarkan Eletha memiliki waktunya sendiri setelah pembicraan di ruang makan sebelumnya, ia bahkan tidak lagi melihat keberdaan Ramos yang entah di mana pria bajingan itu saat ini berada batin Eletha.
Namun bukan hal itu yang mengusik diri Eletha saat ini. Melainkan maksud dari perkataan Ramos padanya, ayahnya merebut tahta milik pamannya apa maksud hal itu? hal ini membuat Eletha bertanya-tanya. dan sialnya, Ia tak tau harus bertanya kepada siapa karena seisi Istana saat ini di penuhi oleh kaum Vampire itu dan tak satupun ia melihat kaummnya di Istana ini. Jika saja ia masih memiliki ayahnya atau tidak ibunya setidaknya ia akan menanyakan hal tersebut langsung kepada mereka. Eletha berfikir keras, adakah cara baginya untuk dapat mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu dan menemukan kebenaran.
Hutan kelam Lavalthon dipenuhi oleh makhluk immortal lain tidak hanya kaum ELf. Dan Eletha teringat dengan satu sosok yang mungkin bisa membantunya. Sosok yang sudah ada di tanah Lavalthon jauh sebelum pertikaian antar pewaris itu terjadi. Saksi mata akan semua peristiwa yang terjadi di Istana berdarah ini. Roh Pohon atau biasa disebut sebagai Dryad.
Tapi di mana ia harus mencarinya? Eletha berdiri dari duduknya kemudian bergegas menghamburkan diri keluar ruangannya. Tak ada penjaga ditempatkan diluar pintu kamarnya. Eletha sejenak terdiam. Kali ini apa yang direncanakan oleh penguasa kaum berdarah dingin itu? namun Eletha tak mengambil pusing akan hal itu karena justru ini menjadi kesempatan baginya. Kaki Eletha bergegas menuju ruangan yang berisikan seluruh pengetahuan yang ada di Istana ini tersimpan. Perpustakaan pribadinya yang dibangun oleh ayah nya sebagai simbol cinta pada putri satu-satunya.
Kaki Eletha melambat ketika ia sampai di depan pintu kayu dengan ukiran yang terpahat indah di depannya. Kenangan akan masa-masa kecilnya sejenak terlintas, namun Eletha menghela nafas panjang mencoba mengalihkan fikiran nya.
drrrrkkk
Suara pintu berderit, aroma khas ruang bacanya tidak pernah berubah seakan ruangan ini tak tersentuh. Dan Eletha merasa takjub, bahkan meja kerja miliknya tempat ia biasa mengambil beberapa buku-buku dan menghabiskan waktu untuk membaca... tidak ada berubah sama sekali. Bahkan buku terakhir yang ia baca sebelum terjadinya penyerangan masih berada pada posisinya dan masih menunjukkkan halaman yang sama dengan yang terakhir kali ia baca. Air mata menggenang di sudut matanya namun cepat ia seka.
Eletha menuju ke rak buku dimana kumpulan buku tentang makhluk mitologi tersimpan. Ia mencari buku dengan judul Dryad di depannya karena sudah pasti buku itu berisikan segala sesuatu tentang makhluk mitologi tersebut. Eletha terlalu fokus dengan apa yang sedang ia lakukan tanpa ia sadari sosok tak berjiwa dengan nanar mata merahnya sedang memperhatikan gerak gerik Eletha dibalik bayangan dan di sela-sela rak buku lain. Sosok itu hanya diam tak bersuara seakan ia adalah patung tak bernyawa.
Finnick terus menatap Eletha dengan intens, aroma manis yang menyeruak dari tubuh Eletha menggoda indra penciuman mahkluk satu itu. Dan ini membuat Finnick tersiksa, ia sangat ingin merengkkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya dan menghirup aroma memabukan itu dari seluruh tubuh gadis itu dengan rakus, mata Finnick beralih pada bibir ranum Eletha yang sedari tadi bergerak pelan. kembali Finnick bertanya-tanya bagaimana rasanya untuk mencumbu bibir ranum itu melahapnya dan menguasainya di bawah kendalinya?
Fantasi Finnick buyar ketika kemudian Eletha menutup buku yang ia baca dan berdiri termenung. Entah apa yang ada di dalam kepala kecilnya itu membuat Finnick penasaran. Eletha kemudian meletakkan buku yang sebelumnya ia baca dengan sembarang dan kemudian bergegas meninggalkan perpustakaan.
Eletha melangkahkan kakinya dengan cepat, ia mencoba menghindari beberapa penjaga yang terlihat karena tak ingin di tangkap kemudian diseret dan kembali ke kamarnya. Tidak untuk malam ini. Sebenarnya beberapa penjaga melihat Eletha dari kejauhan dan hendak melesat menghampiri Eletha dan menangkap gadis ringkih itu namun mereka berhenti ketika melihat sosok yang mengkuti di belakang Eletha. Finnick memberi tatapan sinis dan mengangkat satu jarinya di depan bibirnya seakan berkata "diam" kepada mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Great Luna
Kurt Adam"Ibuu...." panggil si kecil penerus dari Crescent Claws pack "Ya sayang.." jawab sang ibu dengan begitu lembutnya.. si kecil itu pun mengamit tangan ibunya dan menuntun sang ibunda ke arah kursi santai didekat jendela tua dari kastil tersebut. Temp...
