Chapter 11 : Mysterious Cabin

205 30 1
                                        

Sejak sore tadi, Zhu Zhenting dan Paul mondar-mandir di tepi sungai, mengamati segala arah, dan melihat sebuah kano tersembunyi di antara pohon pinus sekitar tujuh puluh lima kaki jauhnya. Kini senja mulai gelap dan gerimis turun. Dia menutupi kepalanya dengan tangan untuk menghindari hujan dan berlari ke arah sungai, mendorong perahu ke tepi sungai dan menatapnya.

Perahu itu terpental dan bergoyang, air memercik ke tepian dan membasahi kaki telanjangnya. Arus sungai lumayan deras hingga perahu itu nyaris tersapu arus jika saja tali yang mengikatnya tidak cukup kuat.

"Paul!" panggilnya pada sang rekan.

"Ada sebuah perahu tersembunyi di sini."

Paul bergegas menghampiri, menembus gerimis.

"Jejak kaki yang kita temukan mengarah ke sungai. Tapi rerumputan menyamarkannya. Sepertinya kita sedikit lambat," ujar Zhu Zhenting.

"Apa kau berpikir si penculik membawa Xiao Zhan ke sungai dan membawanya lari dengan perahu?" tanya Paul.

"Bukan tidak mungkin." Zhu Zhenting mengeraskan suaranya di sela angin yang bersiul.

"Tak ada siapa pun di sini."

"Sepengetahuanku pada siang hari satu atau dua orang tukang perahu melintas di sini. Jika cuaca cukup bagus, sungai ini biasa jadi tujuan memancing."

Hujan perlahan menderas hingga Zhu Zhenting dan Paul harus berlindung di bawah sebatang pohon.

"Ah, sial!" desis Zhu Zhenting saat sepatunya tersandung akar. Dia menggigil saat menunduk untuk mengamati perahu. Berharap ada satu benda yang bisa menjadi bukti kehadiran Xiao Zhan di tepi sungai. Tidak ada apa pun di sana, mengecilkan hatinya. Jika jejak kaki yang dia temukan sungguh-sungguh milik Xiao Zhan dan si penculik, seharusnya dugaannya tepat dan ia bisa menemukan sesuatu di sini. Sebelumnya dia sudah mengkonfirmasi pada pihak keluarga terkait ukuran telapak sepatu milik Xiao Zhan. Dia menyelidikinya dengan cermat sebelum hujan menghancurkan semuanya. Setidaknya, Zhu Zhenting punya kesimpulannya sendiri.

"Paul," ujarnya di sela suara hujan.

"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?"

Paul menoleh, mencibir sekilas dan menggaruk tengkuknya.

"Aku tidak yakin. Tapi sepertinya ini bukan penculikan," katanya.

Zhu Zhenting mengembuskan napas keras. "Kita telah sepakat untuk saat ini. Besok kita akan kembali kemari untuk memeriksa ulang. Kita harus menemukan tukang perahu atau siapa pun yang bisa diminta keterangan."

Paul memberi tanda oke dengan jarinya. Mereka menunggu sebentar lagi hingga hujan sedikit mereda, bergegas kembali ke villa Magnolia.

Gelombang kesedihan masih menyelimuti seluruh keluarga baik dari pihak Xiao Zhan maupun Ren Min. Zhu Zhenting sempat bicara dengan beberapa orang tamu, menyimpulkan bahwa ia tidak mendapatkan apa pun dari mereka. Saat itu waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak ada selera makan malam, meskipun ada banyak hidangan dan minuman.

"Kami akan kembali ke kantor polisi," Zhu Zhenting berkata, duduk menghadapi beberapa orang yang berwajah muram. Dia melihat sang pengantin wanita nampak bersedih, meski matanya tidak bengkak karena menangis seperti yang pernah dia saksikan dalam film drama. Ada beberapa orang sahabat Xiao Zhan yang masih bertahan di ruangan utama.

"Kalian tidak menemukan sesuatu?" tanya Tuan Xiao dengan raut wajah gelisah.

"Xiao Zhan masih hilang," Zhu Zhenting menghela napas, "Tim kami akan melanjutkan penyelidikan. Bahkan jika diperlukan kami akan menggeledah beberapa properti di sekitar lokasi. Namun mengingat fakta bahwa sedikit sekali petunjuk, kami mengandalkan jejak kaki Xiao Zhan yang melintasi halaman belakang dan menuju ke arah sungai. Pengantin pria kita mungkin saja pergi ke sana. Ada jejak kaki lain dengan ukuran sama persis dan sekarang sudah hilang disiram hujan."

𝐃𝐞𝐬𝐩𝐞𝐫𝐚𝐭𝐞𝐝 𝐋𝐨𝐯𝐞 (𝐄𝐧𝐝 𝐏𝐝𝐟) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang