Yibo, cinta kita yang muda dan membara, pada akhirnya hanya saling melukai. Bahkan kita berdua nyaris saja mati. Namun, jika hari ini adalah awal sekaligus akhir dari kisah kita, setidaknya aku masih memiliki sepenggal kenangan indah bersamamu.
*****
Jiwanya serasa melayang-layang. Mengambang. Xiao Zhan ingat rasa sakit, ingat bahwa dia di ambang kematian, dan dia ingat Wang Yibo.
Di luar itu, ada kekosongan. Dia tidak dapat menggambarkan kondisinya atau apa yang dia lakukan di sini.
Di mana ini?
Siapa yang membawanya ke sini?
Ada gumaman percakapan samar. Suara-suara yang dia kenal menggugah relung pikirannya.
Perlahan, mata Xiao Zhan terbuka, menatap lurus ke atas sambil menghirup udara. Dia masih bisa merasakan air sungai yang merendam sebagian tubuhnya. Kini hanya ada kasur dan selimut yang nyaman walaupun rasa sakit masih mendera sekujur tubuhnya, terutama bagian kepalanya. Beberapa menit berlalu, dan Xiao Zhan menarik napas, menyadari bahwa ia sebenarnya belum mati, meski jelas-jelas mengingat kematian.
Apakah semua hanya mimpi buruk?
Dia mencoba menenangkan diri dan mengabaikan mimpi aneh tentang seorang pemuda tampan yang kotor dan basah, menangis dan meratap di sisinya. Itu mimpi yang menyedihkan, juga menakutkan.
Melihat sekelilingnya, Xiao Zhan berada di ruangan terang dan luas berwarna putih. Ranjang tempatnya berbaring ditutupi dengan selimut paling halus, nyaman di kulitnya. Pandangan matanya masih berkunang-kunang, tapi dia bisa melihat kedua orang tuanya tengah bicara dengan seorang pria tua mengenakan jas dokter.
Kenapa aku belum mati?
Ketakutan menjalar ke dalam dirinya ketika ia mengingat sosok pemuda tampan yang membawanya terjun ke dalam jurang.
Wang Yibo ... bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia juga selamat dari kematian? Apakah dia menyesal pada akhirnya dan menyerahkan diri?
Dia mencoba menolehkan wajah tapi lehernya terasa sakit. Bibirnya pun sulit untuk bergerak. Rasanya sudah cukup lama dia terjebak dalam kegelapan, tidak bergerak, tidak bicara. Xiao Zhan merasa seluruh tubuhnya kaku dan berdenyut sakit di beberapa bagian.
Dia memejamkan matanya lagi, kepalanya sakit bukan main, dan kegelapan kembali menelannya.
"Zhan, puteraku ... " Nyonya Xiao telah selesai bicara dengan dokter, kini berjalan gontai mendekati ranjang pasien di mana Xiao Zhan terbaring. Dia tidak mengetahui bahwa puteranya sempat sadar dalam waktu singkat sebelum jatuh pingsan lagi.
Tuan Xiao berdiri di belakangnya, memegangi bahu sang istri. Air mata mengaburkan mata mereka. Sama-sama menutupnya rapat-rapat dan berharap ketika mereka membukanya, putera yang tercinta akan kembali seperti di hari pernikahan. Tampan dan bersinar dalam jas putihnya, berjalan anggun di antara bunga. Namun kini tidak ada yang bisa dibanggakan. Yang ada hanyalah calon pengantin yang nyaris sekarat. Memar dan terluka. Dan yang paling menyakitkan adalah penjelasan dokter mereka, bahwa Xiao Zhan mengalami pendarahan di dalam kepala.
"Awalnya hanya tetesan kecil," demikian dokter menjelaskan beberapa waktu lalu, "namun jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, itu akan memburuk. Dia bisa saja mengalami kerusakan otak yang bisa berakibat fatal."
"Apa yang bisa kami lakukan untuk mencegahnya?"
"Kita bisa melakukan serangkaian operasi."
"Aku memiliki kenalan seorang dokter bedah yang andal," ujar Tuan Xiao dengan wajah muram.
Dokter mengangguk, menjelaskan beberapa hal lagi, kemudian keluar ruangan untuk melakukan tugasnya yang lain. Nyonya Xiao membungkuk di kursi sambil menangis, dan suaminya sekarang mondar-mandir di dalam ruangan, memeriksa beberapa hal penting di ponselnya. Dia harus segera menghubungi kawan dokternya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐃𝐞𝐬𝐩𝐞𝐫𝐚𝐭𝐞𝐝 𝐋𝐨𝐯𝐞 (𝐄𝐧𝐝 𝐏𝐝𝐟)
FanfictionSatu insiden tak terduga terjadi di hari pernikahan Xiao Zhan dan Ren Min. Sang pengantin pria tiba-tiba menghilang secara misterius, meninggalkan sejuta tanya dalam hening. Pihak keluarga menduga seseorang telah menculiknya, tapi kebenarannya tak p...
