Chapter 16 : Farewell in Tears

167 18 2
                                        

Zhan, kau pernah berkata padaku bahwa aku memiliki aura positif, tenang, sabar dan kuat. Itu adalah pujian yang pertama kali kudengar darimu, yang penuh ketulusan. Kata-kata dan senyum manismu menjebak aku dalam mimpi indah yang sulit menjadi kenyataan.

Namun pada akhirnya ... waktu membuktikan bahwa aku tidak sebaik itu. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya pemuda gila yang terobsesi pada keindahanmu, aku tidak akan pernah menjadi pasangan yang tepat untukmu.

Dengan wajah suram dan patah hati, Wang Yibo berjalan lambat-lambat sepanjang trotoar. Kendaraan berlalu lalang, pejalan kaki melewatinya. Seluruh dunia bergerak, hanya dirinya yang berhenti. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Pekerjaannya terbengkalai selama beberapa hari, kondisinya pun buruk, dan polisi melacaknya atas kepemilikan mobil yang terjun ke jurang bersama Xiao Zhan di dalamnya.

Sebenarnya dia bukannya tidak memiliki apa-apa. Hanya semangat hidupnya yang kian memudar dan sirna. Kata-kata Haikuan tidak bisa begitu saja diabaikan dan dihapuskan. Jika menyangkut kebaikan Tuan Besar Liu padanya, kadangkala Wang Yibo menjadi lemah. Sejak dulu ia selalu bertanya-tanya bagaimana ia bisa membalas kebaikan keluarga itu padanya. Kini, mendengar kesungguhan dalam saran Haikuan, hatinya yang telah terluka kian dirundung dilema.

Dia terus berjalan di tepi jalanan besar yang ramai oleh kendaraan. Lampu-lampu berkilauan menyilaukan mata. Tanpa sadar, bahkan dengan tatapan kosong, dia berdiri di tepi jalan, menatap lurus ke seberang. Tidak ada apa pun di sana. Hanya barisan pohon, hitam, seperti dunianya sekarang.

Zhan, ingatkah kau pada perjalanan terakhir malam itu? Karena sangat mencintaimu, aku memilih untuk terus bersama meski dalam kematian. Tapi saat itu ... saat mobil menghantam jurang, saat maut mendekat, saat dihadapkan pada kematian, aku merasa takut. Sangat takut.

Jika saja aku lebih dewasa, jika saja aku tidak senekat itu. Mungkin tidak akan ada perpisahan ini. Mungkin akan ada jalan lain, dan aku tidak harus melukaimu seburuk ini.
Kini sudah terlambat bagiku untuk menyesali.

Kini ... aku tidak takut lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah lelah dengan hidup ini. Cinta yang tidak berakhir bahagia, melahirkan jiwa yang putus asa.

Zhan, di kehidupan yang kedua nanti, aku pasti akan menemukanmu. Kau dan aku akan bersama lagi. Kita akan bergandengan tangan, dan menunjukkan cinta kita pada dunia.

Jeritan klakson membelah suasana malam, disusul lampu cemerlang menembak mata Yibo hingga ia harus menyipitkan matanya. Cahaya begitu menyilaukan hingga ia buta untuk sesaat. Dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri di tengah jalan, di jalur penyebrangan. Tidak ada yang ingin dia lakukan. Tidak ada yang bisa diingatnya selain satu hantaman kuat melemparkan tubuhnya ke jalanan, menghantam aspal dan berguling-guling brutal. Bunyi klakson lain bersahutan dan lalu lintas menjadi kacau. Rasa sakit mendera seluruh tubuh, menumpulkan kesadarannya. Di tengah hiruk pikuk dan ingar bingar di jalanan, samar ia mendengar teriakan panik seseorang dari kejauhan.

"Yibo ....!!!"

*****

Hamburg, tiga bulan kemudian

Bagaikan kisah cinta yang tertulis dalam novel, penuh liku, drama dan air mata, demikianlah Xiao Zhan merenungi perjalanan hidupnya akhir-akhir ini. Dia telah menjalani perawatan yang panjang demi memulihkan kondisinya agar sempurna seperti semula.

Musim berganti di kota Hamburg. Siang menjelang sore yang berawan, Xiao Zhan berjalan lambat-lambat di sepanjang tepian danau. Pekan depan ia dan keluarganya akan kembali ke Shanghai untuk memulai kembali seluruh aktivitasnya yang sempat terhenti. Selama perawatan, orang tuanya bergantian menemaninya.

𝐃𝐞𝐬𝐩𝐞𝐫𝐚𝐭𝐞𝐝 𝐋𝐨𝐯𝐞 (𝐄𝐧𝐝 𝐏𝐝𝐟) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang