spam komen dengan emote ❤️ yaa.
vote dan komen sebanyak-banyaknya supaya chapter selanjutnya bisa di update!untuk seputar update bisa di cek di @dailyshawnie_
***
HIDUP penuh dengan kebencian dengan seseorang terkadang dapat membuat rumit segala hal. Rasa benci merupakan perasaan yang lumrah terjadi pada siapa aja. Memupuk ketidaksukaan pada seseorang memang bisa saja berakhir pada kebencian.
Jigar memukul kuat drumnya. Ia benar-benar melampiaskan semua hal yang berkecamuk di pikirannya dengan alat tersebut.
Benak Jigar mulai dipenuhi oleh pertanyaan mengapa orang-orang di sekitarnya bersikap normal kepada Stella dan tidak pernah membenci gadis itu. Bahkan, ibu dan adiknya sendiri malah menyayangi gadis itu.
Seperti kaset rusak, kepala Jigar mulai dipenuhi oleh semua perkataan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari ibunya, Attha, bahkan beberapa orang lainnya.
Tidak lupa perkataan Stella setiap harinya yang menjadi teka-teki untuk dirinya.
Jigar memang membenci gadis itu, tetapi sudah waktunya Jigar mengetahui apa yang terjadi dibalik kematian ayahnya yang menurutnya dikarenakan oleh Stella.
"Jigar?"
Panggilan itu membuat Jigar menghentikan permainan drumnya lalu menoleh pada ibunya yang tengah berjalan menujunya.
"Kenapa, Bun?" tanya Jigar.
Bunda Bulan pun tersenyum pada anak laki-lakinya itu dan mengambil tempat di bangku yang ada di sebelah Jigar. "Jigar mau dengerin bunda kan, Nak?"
"Jigar selalu dengerin, Bunda," balas Jigar yakin.
"Okay, sekarang Jigar dengerin semua yang bakalan bunda ceritain. Bunda harap Jigar gak menyalahkan diri setelah ini, ya? Bunda berusaha nutupin ini semua, tapi bunda gak mau kamu penyesalan kamu terlalu besar suatu saat nanti," jelas Bunda Bulan.
"Maksud, Bunda?" tanya Jigar bingung.
"Kematian ayah itu adalah hal yang tidak disengaja. Malam dimana kamu liat Stella dorong ayah ke tengah jalan itu juga sebuah ketidaksengajaan. Kamu harus tau kalau niat Stella menolong bunda," ucap Bunda Bulan menggantung.
Jigar tidak mampu menahan dirinya, cowok itu benar-benar memasang ekspresi terkejut. Bunda Bulan yang melihat itu pun mengelus surai kehitaman putranya.
"Ayah memang sosok yang baik menurut kamu, Nak. Tapi faktanya, dia sosok yang kejam untuk bunda. Selama kamu di sekolah atau pun berkumpul dengan teman-temanmu, ayah kamu selalu melakukan kekerasan ke bunda. Ayah kamu sengaja melakukannya di saat kamu dan Aya gak di rumah dengan alasan supaya tidak ada trauma untuk kalian. Tapi, itu menjadi trauma dan mimpi buruk untuk bunda setiap harinya," jelas Bunda Bulan.
Wanita paruh baya itu mengusap air matanya sesaat. "Kematian orang tua Stella juga disebabkan oleh ayah, Jigar. Ayah kamu yang merusak rem mobil orang tua Stella agar mereka tidak dapat melaporkan kejahatan ayah kamu selama ini. Setelah kematian orang tuanya, Stella juga ternyata tau mengenai ayahmu yang melakukan kekerasan ke bunda—," jelasnya menggantung.
"Bunda?" ucap Jigar yang masih tidak percaya.
"Yang kamu lihat malam itu hanya setengah dari kejadian. Ayah kamu sudah menjadi incaran polisi saat itu karena paman kamu udah tau semuanya dan melaporkan ke polisi. Malam itu juga ayah kamu nyaris membunuh bunda, tapi digagalkan oleh Stella yang berusaha melindungi bunda. Kamu hanya melihat bagian Stella mendorong ayah ke tengah jalan setelah ayah melukai lengan Stella dengan pisau. Stella berusaha melindungi bunda, Nak. Itu alasan bunda gak pernah benci sama Stella. Bunda bersyukur karena Stella menyelamatkan hidup bunda," jelasnya panjang lebar.

KAMU SEDANG MEMBACA
EPHEMERAL
Ficção AdolescenteJigar Genandra, pemilik nama belakang Genandra itu sudah dikenal memiliki hubungan darah dengan mantan ketua DARK SHADOWS. Jigar Genandra, seseorang yang kini juga meneruskan tahta sepupunya itu berkat kepribadiannya yang tegas dan tak pandang bulu...