"Sa, temenin gue hayuk!"
Laksa menoleh ke belakang usai memasukkan seragamnya ke laci meja. Lelaki itu baru saja berganti kaus olahraga untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Di kelas hanya ada ia, Hikam, dan tiga siswi. Sisanya masih sibuk berganti dan beberapa sudah ada yang menuju lapangan.
"Temenin ke mana?" Laksa mendekati Hikam yang telah berpindah di ambang pintu.
Di kelasnya, Laksa sudah cukup akrab dengan Hikam sebab beberapa hari ini mereka duduk sebangku. Pun sebagai siswa baru, Laksa selalu menanyakan apa saja pada Hikam karena lelaki itu yang paling mudah diajak berkomunikasi.
"Gue di-chat Pak Beni suruh ambil bola sama ngondisiin kelas, katanya beliau masuk telat." Hikam merangkul pundak Laksa dan membawanya menyusuri koridor menuju ruang olahraga. Ia mengisi perjalanan dengan mengenalkan pada Laksa tentang ruangan-ruangan yang mereka lewati.
"Tanpa lo jelasin satu-satu juga gue bisa baca kali nama ruangan-ruangannya. Mending lo inpo ke gue cewek-cewek keren di sini, lo pasti punya banyak kenalan kan?"
Hikam tertawa, menepuk-nepuk punggung Laksa dengan penuh rasa bangga. "Gerakan yang bagus, Bro. Gue suka nih yang sat set begini. Tipe lo kek gimana, biar gue bisa kasih inpo yang cocok."
"Gimana aja deh, yang penting nggak ribet terus humble. Kalo bisa yang pinter juga. Cantik mah relatif ya, itu nomer sekian."
Hikam terlihat berpikir keras, berusaha menemukan teman-teman jomlonya yang cocok untuk Laksa. "Siapa yak ... tapi emangnya ada ya, cewek yang nggak ribet?"
"Ada lah, gila aja kalo nggak ada. Sekolah lo kekurangan populasi cewek idaman berarti."
"Ya lo definisiin dulu, cewek nggak ribet menurut elo tuh maksudnya gimana, Malih?!"
Mereka melanjutkan obrolan sepanjang perjalanan. Laksa mendapat beberapa nama siswi usai menjelaskan yang Hikam tanyakan. Ia rasa, status jomlonya harus ia akhiri karena jujur ia bosan tanpa teman chating. Laksa setidaknya punya rencana untuk mengenal mereka, meski entah kapan akan memulai.
Ketika berbelok ke arah koridor yang terhubung dengan ruang olahraga, langkah Laksa dan Hikam memelan. Tawa mereka yang semula masih menghias suasana seketika memudar, digantikan rasa penasaran pada seorang lelaki yang terduduk seorang diri di lorong sepi itu.
"Siapa itu, Sa? Kok kayak kesakitan gitu ya?"
Jantung Laksa langsung berdesir ketika menyadari siapa laki-laki di depan sana. Ia hafal betul dengan figur seorang yang terduduk dan tampak kesakitan itu. "Nizar ...."
"Ha?" Hikam tak begitu mendengar suara pelan Laksa. Ia juga bingung saat melihat wajah Laksa berubah panik.
"Nizar!" Tanpa basa-basi, Laksa pun mempercepat langkahnya meninggalkan Hikam. Semakin dekat, ia kian dapat melihat wajah Nizar yang teramat pucat dan lelaki itu seperti meminta pertolongan.
Jantung Laksa berdentum lebih kuat saat melihat tubuh Nizar terhuyung ke depan usai mencoba berdiri. Untunglah ia sampai tepat waktu dan menangkap tubuh Nizar sebelum jatuh membentur lantai.
Laksa meluruh bersama tubuh dalam dekapannya yang tak lagi bergerak. Ia menahan punggung Nizar dengan lengannya, lantas mengusap wajah pucat Nizar yang dibanjiri keringat dingin. "Zar ... Nizar!"
"Eh, pingsan dia, Sa?" Hikam turut bersimpuh di depan Laksa. Ia ikut panik meski tidak begitu mengenal Nizar.
"Zar, bangun, Zar! Nizar!" Laksa menepuk pipi Nizar, memanggil-manggil namanya tapi Nizar tak memberinya respons.
"Bawa ke UKS aja, Sa, cepetan!" Hikam sedikit menyentak Laksa yang seperti hilang fokus. Ia bahkan harus mengguncang pundak Laksa agar lelaki itu segera mengambil tindakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksa Kasih✔️
Novela JuvenilKatanya, anak sulung adalah pilar yang kokoh. Maka untuk setiap kelemahan yang ia punya, Nizar begitu membencinya. Katanya manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi Nizar hidup di sekeliling orang yang utuh tentang segalanya. Berjalan di palin...
