Jika tubuhnya sedang dalam kondisi terbaik, Nizar memang termasuk anak yang tidak bisa diam terlalu lama. Terlebih ini hari libur, yang artinya ia tidak melakukan aktivitas di sekolah. Sangat membosankan jika ia hanya duduk diam dan bermain handphone. Maka, lelaki itu mencari kegiatan dengan melakukan hobinya yang bermacam-macam.
Nizar baru saja menerima belanjaan yang ia pesan lewat aplikasi online. Lelaki itu berada di dapur, berniat untuk membuat kukis yang resepnya ia tonton pagi tadi. Nizar suka baking, hal yang mungkin jarang digemari oleh laki-laki. Kesukaan itu mulai timbul dari rasa sukanya pada kukis. Ia pun sering membantu bundanya yang juga suka membuat bermacam jenis kue jika ada waktu luang. Selain itu, selalu ada kesenangan tersendiri bagi Nizar setiap kali orang-orang memuji kue yang ia buat.
"Okei, mari kita mulai." Nizar mengeluarkan bahan-bahan dari dalam totebag, menata dengan rapi agar tidak kesulitan ketika akan menggunakan. Ia juga menyiapkan peralatan yang diperlukan, serta panduan resep yang ada di handphone.
"Abang, where are you?"
"Dapur!" teriak Nizar tanpa memalingkan perhatiannya pada bahan-bahan yang sedang ia cek.
Tak lama kemudian, Aidan datang. Anak itu terlihat bertanya-tanya, lantas duduk di kursi depan meja bar. "Lagi ngapain, deh?" tanyanya, meski sebenarnya bisa menebak hal yang sedang Nizar lakukan. Bahan-bahan membuat kue di atas meja cukup memberikan clue untuk Aidan.
"Mau bikin kukis, biar sekalian besok bisa Abang bawa pas piknik ke pantai."
Aidan mengangguk, sudah tak heran dengan kesibukan abangnya yang ada-ada saja. "Itu kayak yang biasa Abang bikin bukan?"
"Ya, sama aja sih sebenernya. Tapi kali ini mau bikin yang lumer gitu, dalemnya bakal Abang kasih selai cokelat," ucap Nizar seraya menghidupkan kompor untuk mencairkan mentega.
"Abang nggak boleh makan cokelat banyak-banyak loh ya. Request selai strawberry aja, dong!"
Nizar menoleh sejenak pada adiknya, memberikan tatapan tajam yang seketika membuat Aidan tertawa. "Jangan ngadi-ngadi ya kamu, strawberry harus dihilangkan dari muka bumi." Nizar memang haters nomor satu buah strawberry. Ia tidak suka segala bentuk olahan buah itu. Bukan karena ia alergi atau semacamnya, hanya saja ia memang tidak menyukai rasanya.
"Abang tuh aneh, padahal strawberry enak. Ayah sama Bunda juga suka."
"Nggak enak."
"Hhh, kalo udah benci mah emang susah." Aidan menyalakan ponselnya, teringat dengan alasan ia mencari abangnya. Lelaki itu membuka sebuah laman yang menampilkan foto iguana dengan warna kulit yang cantik. Lantas, ia memperlihatkannya pada Nizar.
"Boleh beli ini nggak, Bang?"
Nizar menghentikan gerakannya yang tengah menakar bahan-bahan membuat kukis. Ia memandang foto yang Aidan tunjukkan sebelum akhirnya menghela napas. "Lupa ya pas Ayah bilang jangan beli hewan online? Waktu itu juga udah beli atas nama Abang, padahal kamu yang minta. Ini kalau mau dilakuin lagi, kata Abang udah nggak bisa lolos dari omelan Ayah, sih."
Aidan seketika meluruhkan bahu, harapannya semakin menipis. "Sekali aja, Bang, bagus banget loh ini. Pengiriman dari Cirebon, nggak yang jauh banget kayak biasanya kok."
"Cari aja yang bisa offline, ntar Abang temenin ke tempatnya." Nizar mengambil mentega yang ia rasa sudah tidak begitu panas, hendak mencampurkannya dengan bahan lain untuk mulai membuat adonan.
"Nggak ada, ih. Kebanyakan cuma yang jenis biasanya, aku udah punya."
"Coba minta izin ke Ayah aja kalau gitu, siapa tau boleh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksa Kasih✔️
Novela JuvenilKatanya, anak sulung adalah pilar yang kokoh. Maka untuk setiap kelemahan yang ia punya, Nizar begitu membencinya. Katanya manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi Nizar hidup di sekeliling orang yang utuh tentang segalanya. Berjalan di palin...
