Nizar masih terduduk di depan ruang rawat sejak adiknya dipindahkan. Ia sibuk mengatur perasaan sebab ketika melihat keadaan adiknya, ia semakin dihujam kuat oleh rasa bersalah. Pandangan lelaki itu terarah pada sang ayah yang tengah berbincang dengan dokter yang menangani Aidan. Sampai, ia akhirnya memutus kontak mata saat sang ayah mendekat ke arahnya.
Nizar menunduk dalam, menatap kedua kakinya yang masih dibalut sepatu sekolah. Namun saat Zafran tepat berdiri di hadapannya, ia beranikan diri untuk mengangkat pandang. Senyum yang ayahnya tunjukkan justru membuat kedua mata Nizar kembali memanas. Ia pikir setelah menceritakan kejadian di sekolah, sang ayah akan memarahinya. Namun sebaliknya, Zafran justru memberikan ketenangan lewat tutur katanya.
"Mau ke dalem nggak?" tanya Zafran selagi mengulurkan satu tangannya di hadapan Nizar. Melihat sang putra tak lekas menyambutnya, ia memutuskan duduk di samping anak itu.
Zafran memahami apa yang sedang Nizar rasakan. Masih terekam jelas ketika anak itu bercerita sembari menangis karena menyesali perbuatannya. Namun Zafran tak ingin menghakimi Nizar begitu saja. Ia yakin jika semua itu bukanlah kesengajaan yang putranya lakukan.
"Adek ... udah lebih baik kan, Yah?" tanya Nizar seraya menatap wajah teduh ayahnya.
Zafran mengangguk. "Kondisi vitalnya udah stabil, tapi perlu dirawat beberapa hari. He'll be fine, Abang tau kan kalau Adek itu anak yang kuat? Sama kayak abangnya."
Kedua sudut bibir Nizar tertarik tipis, tapi hanya sesaat. "Abang beneran minta maaf ya, Ayah? Harusnya Abang nggak ceroboh dan bikin Adek celaka kayak gini."
Zafran menghela napas panjang. Ia meraih kedua tangan putranya untuk ia genggam. Tatapan pria itu terarah pada sepasang iris legam sang putra. "Ayah udah terima maafnya Abang, jadi jangan minta maaf terus ya? Ayah tau Abang sama sekali nggak sengaja. Setiap orang pasti pernah buat salah, bahkan Ayah yang udah tua pun masih sering buat salah. Jadiin pelajaran aja biar lain kali kita lebih hati-hati, ya? Yang terpenting, sekarang keadaan Adek udah lebih baik."
Nizar mengangguk paham. "Makasih, Yah."
"Sekarang mau lihat Adek dulu?"
"Iya." Nizar membalas genggaman tangan sang ayah, lantas beranjak untuk masuk ke dalam.
Langkah Nizar memelan ketika melihat sang adik masih terpejam dengan beberapa alat medis di tubuhnya. Ia juga dapat mendengar bunyi teratur dari meskin EKG yang memantau kondisi vital Aidan. Semakin dekat, hatinya kian terasa perih. Ia rasa kondisi adiknya lebih serius dari yang ia kira.
Zafran menatap Nizar yang tampak sangat sedih melihat kondisi adiknya. Ia merangkul pundak anak itu untuk menguatkannya.
"Adek ngalamin gejala anafilaksis, tadi tekanan darahnya turun cukup drastis. Sekarang kondisi vitalnya masih harus dipantau, tapi Abang nggak perlu khawatir. Ayah janji Adek nggak akan kenapa-napa," ucap Zafran untuk meyakinkan Nizar juga dirinya sendiri.
Nizar mengangguk, ia percaya pada ayahnya. Pun pada adiknya yang pasti dapat melewati semua ini. Ia baru saja menggenggam tangan adiknya, tetapi suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian lelaki itu.
Zafran mendekat saat melihat Raline datang dengan napas terengah dan mata berkaca-kaca. Sementara Nizar otomatis memundurkan tubuh untuk memberi ruang pada bundanya.
Raline sudah menahan tangis sejak kabar tentang putranya ia terima. Wanita itu baru keluar dari ruang operasi dan lekas datang usai membersihkan diri. Tangis wanita itu akhirnya pecah kala melihat kondisi Aidan yang jauh dari kata baik.
Raline sedikit merunduk, mengusap surai legam putra bungsunya dengan lembut. "Ya Allah, kenapa bisa begini, Nak? Pasti sakit banget ya, sayang?" Raline mengusap air matanya meski bulir lain kembali berjatuhan. Hatinya sungguh sakit melihat anak yang biasanya ceria, kini terbaring tak berdaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksa Kasih✔️
Teen FictionKatanya, anak sulung adalah pilar yang kokoh. Maka untuk setiap kelemahan yang ia punya, Nizar begitu membencinya. Katanya manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi Nizar hidup di sekeliling orang yang utuh tentang segalanya. Berjalan di palin...
