22-Terbebani Perasaan

2K 298 34
                                        

Pagi ini, Laksa mengunjungi rumah Nizar karena mendapat kabar dari Aidan bahwa tadi malam ada kejadian tak diinginkan. Tentu ini bukan pertama kalinya ia mendapat kabar serupa. Laksa sampai muak sendiri sebab terlalu banyak drama di rumah keluarga Raline. Diam-diam, ia juga sering sekali bergosip tentang hal itu dengan papanya.

"Assalamu'alaikum, Bunda. Nizar Aidan di kamar ya?" tanya Laksa pada Raline yang berada di ruang makan. Melihat hari masih sangat pagi, ia rasa kedua sepupunya itu masih betah di kasur.

Raline menoleh ke belakang begitu mendengar suara Laksa. Anak itu berjarak sedikit jauh darinya. Tampaknya hanya ingin menanyakan keberadaan Nizar dan Aidan tanpa berminat menyapanya dengan lebih baik.

"Wa'alaikumsalam. Iya di kamar, tapi jangan dirusuhin. Nizarnya lagi sakit."

Mendengar itu, Laksa segera mendekati Raline. Ia tak heran saat melihat wanita itu tengah menyiapkan bubur yang pasti untuk Nizar. "Kenapa emang, Bun, kok bisa sakit?"

"Imunnya lagi nggak bagus, bangun-bangun demam. Lagi banyak pikiran juga kayaknya, tapi belum mau cerita banyak ke Bunda."

Laksa sejenak diam, sadar bahwa kejadian semalam pasti sangat menguji Nizar. Ia juga merasa bersalah karena meninggalkan Nizar dalam kesalahpahaman. Ia lupa jika sepupunya itu sangatlah perasa, pasti Nizar begitu keras memikirkan dirinya yang disangka sedang marah.

"Aku ke kamar ya, Bun?"

"Iya, tapi jangan dinakalin, lagi sensitif anaknya. Nanti malah kamu yang kena semprot."

"Oke, Bun. Tapi nggak janji." Usai mengucapkan itu, Laksa bergegas menaiki tangga menuju kamar Nizar. Setelah sampai, ia mengintip dari celah pintu dan mendapati sepupunya sedang berbaring.

Laksa membuka pintu lebih lebar dan mendekati Nizar yang ternyata tidak tidur. Ia menatap Nizar yang berbaring menyamping dengan hidung dan pipi memerah. Di keningnya terpasang plester penurun demam. Nizar bahkan tak memberi respons apa pun meski menyadari kedatangan Laksa. Sepupunya itu terlihat benar-benar sakit.

"Muka lo jadi kayak tomat rebus gitu, dah. Panas banget apa?" tanya Laksa seraya mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Nizar. Tapi belum sempat melakukannya, tangannya lebih dulu ditepis.

"Ngapain ke sini, sih?" tanya Nizar dengan suara lemas. Ia sedang tidak berdaya dan malas sekali untuk berhadapan dengan Laksa. Ia masih cukup kesal usai kemarin Laksa memaki dirinya dengan kalimat yang tidak enak didengar.

"Nggak boleh emangnya? Dunia ini milikmu kah, kisanak?"

Nizar mendengkus keras. "Geser dikit coba, deketan kaki gue," ucapnya seraya memberi isyarat agar Laksa sedikit mundur.

"Ngapain?" Laksa tetap menurut dan geser selangkah. Ia berpikir mungkin dirinya menghalangi sesuatu.

"Balik badan."

"Hah?" Meski heran, Laksa lagi-lagi menurut. Ia masih berusaha berpikir positif.

Nizar tersenyum culas. Sesaat kemudian, kaki kirinya ia jejakkan ke bokong Laksa tanpa perasaan. Ia puas sekali saat Laksa nyaris tersungkur oleh tendangannya yang padahal tak seberapa keras.

"What the fff...." Laksa berbalik dan menatap Nizar dengan alis menukik tajam. "Apaan, sih?!"

"Keluar aja sana!" Nizar menarik selimut hingga menutup kepala, lantas memejamkan mata. "Gue nggak akan lupa kalau kemarin lo ngatain gue sadis, makan temen sendiri, bla bla bla."

Laksa menghela napas lelah. Ia berjalan malas mendekati Nizar, lantas berniat menyingkap selimut lelaki itu dengan paksa. Sayangnya Nizar selalu kembali menariknya untuk menutupi wajah. "Gue nggak beneran marah sama lo. Kesel dikit doang, nggak usah drama."

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang