Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

35-Mengikhlaskan Luka

2.8K 235 59
                                        

Galih menghempas tubuh Julian ketika baru saja memasuki ruang kerjanya. Kelakuan anak itu seakan menyiram bensin pada luapan emosi yang bahkan sejak kemarin belum padam. Ia mati-matian menjaga harga diri dengan berusaha mengeluarkan Julian dari masalah saat ini. Namun dengan bodohnya, anak itu justru rela berlutut dan memohon-mohon di depan keluarga Zafran.

"Begini cara kamu menghadapi masalah, hah? Ngapain kamu malah mohon-mohon kayak tadi sampai berlutut di depan mereka? Mereka nggak akan bantu kamu! Papa yang bantu kamu!"

Galih menarik baju Julian hingga anak itu kembali berdiri. Seolah tak puas melihat betapa parah luka yang ia guratkan di wajah itu, Galih kembali memukulnya untuk menyadarkan Julian.

Julian tersungkur sebab tak punya daya untuk melawan papanya. Ia hanya bisa tertawa miris dengan air mata yang kembali berjatuhan. Mungkin malam ini ia akan selesai di tangan papanya sendiri.

"Bangun kamu! Papa nggak mengajari kamu jadi anak lemah! Daripada orang lain yang menghukummu mending Papa sendiri yang hukum kamu. BERDIRI!"

Julian mencoba berdiri dengan susah payah. Ia menatap Galih yang seakan tak punya sedikitpun belas kasihan. Semula ia percaya bahwa memiliki papanya adalah hal terbaik yang bisa Julian pamerkan pada dunia. Namun nyatanya, ia salah besar.

"Papa mau bunuh aku malam ini? Bunuh, Pa, BUNUH AKU SEKARANG!" teriak Julian seraya meraih tangan papanya dan meminta pria itu mencekik lehernya sampai mati.

"Anak kurang ajar, kamu sadar nggak sama omonganmu?! Setelah membuat semua masalah ini, kamu dengan gampangnya bilang ingin mati? Papa harus kehilangan banyak hal, Julian, dan itu semua karena kamu!"

"Apa? Papa kehilangan apa? Uang? Harga diri? Ohh, Papa marah ke aku gara-gara pacar Papa itu putusin Papa?! Dari dulu juga aku nggak pernah suka sama dia, apa Papa pernah denger pendapatku?! Papa cuma mikirin kebahagiaan Papa sendiri, Papa nggak pernah mikirin aku!"

Galih kembali menampar Julian, lantas mencengkeram rahang anak itu dengan kuat. "Kamu bilang Papa nggak mikirin kamu? KAMU PIKIR SIAPA YANG SELAMA INI RAWAT KAMU, HA? MANA BALAS BUDI KAMU?!"

Julian melepas cengkeraman Galih pada rahangnya dengan kasar. "Papa pikir selama ini Papa udah jadi ayah yang baik? Seumur hidup, aku cuma diharusin nurut sama Papa dan nggak boleh ngebantah. Aku selalu penasaran kenapa Papa nggak bisa kayak orang tua di luar sana! Kenapa Papa nggak bisa sebaik Om Zafran ke anak-anaknya, kenapa nggak bisa sebaik Om Hendra, kenapa cuma aku yang nggak bisa ngerasain peran Papa?! Kenapa cuma aku yang ditelantarin sama orang tuaku sendiri, KENAPA CUMA AKU?! KENAPA CUMA AKU YANG NGGAK PUNYA KELUARGA UTUH?!"

Galih benar-benar semakin dikuasai amarah usai mendengar bualan Julian. "Kamu iri sama anak yang bahkan nggak jelas asal-usulnya itu?! Kamu iri sama bocah penyakitan kayak dia? Kamu benar-benar bodoh! Papa kasih kamu segalanya, tapi bisa-bisanya kamu bandingin Papa dengan mereka? Kamu---"

"IYA, AKU IRI! AKU IRI SAMA MEREKA YANG BISA HIDUP BAHAGIA BARENG KELUARGANYA. AKU IRI KARENA NIZAR PUNYA ORANG TUA YANG SAYANG SAMA DIA. AKU IRI SAMPAI RASANYA PENGIN HANCURIN HIDUP MEREKA SEHANCUR HIDUPKU. MEREKA BISA BAHAGIA, SEMENTARA PAPA MALAH KENALIN KE AKU WANITA JALANG BUAT DIJADIIN IBU. SELAMANYA AKU NGGAK AKAN BISA NERIMA PELACUR ITU, PA!"

"ANAK KURANG AJAR!" Kepala Galih rasanya seperti mendidih. Ia telah habis kesabaran. Dengan gerakan cepat, tangannya refleks meraih botol kaca di atas meja kerja dan menghantamkannya ke kepala Julian hingga benda itu hancur berkeping. "NGGAK TAU DIRI KAMU!"

Bunyi tercecernya pecahan gelas itu terdengar, bersamaan dengan tubuh Julian yang jatuh keras menghantam lantai. Lelaki itu merasakan dunia seketika senyap, pandangannya lekas mengabur. Rasa nyeri begitu kuat di kepalanya dan Julian dapat merasakan cairan anyir mengaliri wajah. Ia tak mampu berkutik. Meski begitu, Julian masih dapat mendengar samar jeritan yang berasal dari beberapa maid yang sedari tadi menyaksikan perdebatannya dengan Galih.

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang