37-Selaksa Kasih

3.4K 245 88
                                        

Sore ini, langit sedang menampakkan bagian terindahnya. Mentari menyulap biru menjadi jingga, sesekali sinarnya menyelinap di antara sekumpulan awan. Riuh angin berpadu dengan debur ombak, menciptakan ketenangan bagi remaja yang kini berdiri di bibir pantai.

Nizar tak habis mengagumi objek yang terekam oleh indranya. Perlahan bibirnya terangkat membentuk senyuman, merasa puas karena ia datang di waktu yang tepat. Lelaki itu memandangi kakinya yang telanjang, sesekali ia berjalan mundur ketika gulungan ombak kecil datang ke tepian.

Halusnya pasir terasa menggelitik permukaan kulit, tapi Nizar masih betah bermain. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia bermain ke pantai. Ia sangat senang ketika orang tuanya akhirnya punya waktu libur dan membawanya juga Aidan ke tempat ini.

"Abang! Istana pasirku udah jadi!"

Nizar menoleh pada Aidan yang pakaiannya sudah basah dari atas hingga bawah. Lantas ia mendekati adiknya yang sedari tadi sibuk membuat istana pasir. Ia cukup terkesan melihat hasil karya adiknya yang luar biasa.

"Action, please," ucap Nizar seraya mengarahkan kamera ponselnya untuk membidik figur Aidan. Ia tersenyum senang dan terus mengambil potret adiknya dari berbagai sisi. Setelah puas, lelaki itu duduk di sebelah Aidan dan menikmati embusan angin sore yang cukup kencang.

"Dari 1-10 nilainya berapa?" tanya Aidan yang masih mengelu-elukan karyanya.

"Dua."

Mendengar itu, Aidan jelas tidak terima. "Kok dua?!"

"Kenapa? Nggak suka? Miring begitu kok, kurang perfect." Nizar sengaja meledek adiknya. Tapi tak ia sangka, anak itu justru berancang-ancang untuk menepukan sandal padanya. Sebelum terkena, Nizar lebih dulu beranjak dan berlari tunggang langgang dengan tawa yang mengiringi langkahnya.

"Bunda, Ayah, ada banteng!!!" Nizar menghampiri Zafran dan Raline yang sedang duduk bermesraan di jarak yang cukup jauh dari bibir pantai. Ketika melihat ke belakang, Nizar sadari Aidan masih mengejarnya hingga ia pun mempercepat langkah.

"Kenapa, sih? Jangan lari-larian, ntar capek," tegur Raline usai Nizar sampai di hadapannya dengan napas tersengal. Tak lama, di susul pula oleh Aidan.

"Bunda, masa istana pasirku dinilai dua biji sama Abang? Padahal bagus begitu." Mendapat delikan bundanya, Aidan tak jadi memukul Nizar dengan sandal hingga akhirnya melempar benda itu dengan sembarang. Karena lelah, ia pun memilih duduk dan meraih botol air di atas tikar.

"Adek yang nggak sabaran, orang Abang tadi niatnya mau bilang dua ratus." Nizar mengambil tempat di sebelah Zafran. Sengaja agar jaraknya tidak dekat dengan Aidan. Ia takut anak itu tiba-tiba mencubit paha atau menggigit lengannya.

"Siapa yang tadi bilang istanaku nggak perfect?"

Zafran menghela napas lelah. Bisa pusing jika terus mendengar perdebatan dari kanan-kirinya. "Udah udah, gitu doang kok ribut kalian ini. Adek ganti baju sana. Itu kamu pakai dari basah sampai udah mau kering lagi, loh."

"Ntar, ah. Laper." Tanpa rasa bersalah, Aidan mengambil beberapa camilan yang tersaji di depannya.

"Kalau masuk angin, jangan rewel ke Bunda ya?" Raline mengancam Aidan, tapi tetap tak diindahkan.

"Bentar lagi kita pulang, udah sore."

"Kok gitu, Yah? Masih cerah gini loh," protes Nizar yang sejatinya belum puas bermain. Ia bahkan belum membasahi pekaiannya seperti yang Aidan lakukan.

Zafran mengambil cermin di dalam tas istrinya. Lantas ia arahkan pada Nizar agar anak itu bisa melihat cerminan dirinya sendiri. "Paham?"

Nizar mengangguk. "Aku emang ganteng."

Selaksa Kasih✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang