16-Pembalasan

2K 234 35
                                        

Malam ini, Nizar menemani ayahnya ke rumah Julian. Mereka akhirnya bisa menemui Galih setelah pria itu selesai dengan kesibukannya di luar negeri. Tentu untuk membicarakan kejadian tempo hari yang kurang mengenakkan.

Nizar semula hanya menyimak sepanjang Zafran menjelaskan tentang perbuatan Julian. Namun semakin lama, Galih terlihat kian menyebalkan karena enggan disalahkan. Bahkan pria itu terlihat tidak menaruh peduli serta menanggapi ucapan Zafran tanpa minat.

Nizar cukup memahami jika hubungan Zafran dengan ayah Julian tidak begitu dekat. Mereka lebih terlihat seperti sebatas rekan kerja alih-alih bersikap hangat layaknya saudara ipar. Meski begitu, Nizar tidak tahu alasan tepat di baliknya. Sejak ia kecil, mereka memang terlihat saling memberikan jarak.

"Hal begitu saja kamu permasalahkan? Namanya anak remaja pasti ada masa-masa nakalnya, Zafran. Jangan berlebihan," ucap Galih dengan begitu santai, seakan tak menganggap bahwa penjelasan Zafran patut untuk dibahas dengan serius.

"Berlebihan? Sebenernya Abang paham nggak sama poin yang sedang saya bahas? Sengaja mencelakai orang, yang bahkan itu saudaranya sendiri, tapi Abang menilai sikap saya berlebihan? Saya cuma minta Abang untuk lebih bisa mengawasi Julian. Kali ini dia sudah sangat kelewatan."

Galih lagi-lagi menghela napas lelah. "Kamu ada bukti kalau memang Julian yang melakukan itu?"

"Aku yang denger dia bahas soal itu sama temen-temennya, Om." Nizar akhirnya menyela pembicaraan sebab tak dapat terus diam. "Dia bilang emang dia yang kasih makanan itu ke Aidan sampai adikku akhirnya masuk rumah sakit. Dia bahkan ngelakuin itu dengan sengaja, tanpa ngerasa bersalah sedikitpun."

"Terus saya harus percaya sama omongan kamu? Memangnya sejak kapan saya sudi mempercayai kata-kata yang keluar dari mulutmu?"

"Aku nggak mungkin bohong soal ini, Om. Nggak ada untungnya juga buatku kalo bohong."

"Oh ya? Bukannya kamu emang suka cari perhatian?"

"Bisa nggak, Abang pakai kalimat yang lebih baik kalau bicara dengan anak saya?" Zafran mulai terpancing emosi sebab Galih mulai menyinggung perasaan Nizar. "Biar dia jelasin dulu apa yang dia tahu, jangan menyinggung dengan kalimat seperti itu."

Galih tertawa kecil, memandang Zafran dengan tatapan meremehkan. "Zafran, biar saya tegaskan lagi, saya tidak akan percaya begitu saja sama perkataan dia. Lagipula bukannya saya yang harusnya lebih marah di sini? Dia udah bikin Julian babak belur, kan? Kalaupun memang Julian yang melakukan itu, bukannya udah bisa kita anggap impas? Lalu kenapa kamu harus buang waktu saya cuma buat ngomongin hal nggak penting ini?"

Zafran sungguh tak mengerti dengan pola pikir Galih. Ia rasanya lelah untuk kembali menjelaskan sebab sepertinya kakak iparnya itu tak memahami maksudnya sedikitpun. Akhirnya ia hanya dapat menghela napas dan berniat mengakhiri pembicaraan ini tanpa kesimpulan yang pasti. Pun ia tidak ingin jika Galih semakin bicara kasar pada Nizar.

"Kalau begitu kita akhiri sampai sini saja. Kayaknya Abang nggak akan mau dengar omongan saya. Terakhir, saya cuma pengin Abang tau maksud saya sebenarnya. Saya cuma pengin Abang bisa kasih perhatian lebih ke Julian karena saya lihat, dia semakin tidak terkondisikan. Saya harap Abang bisa mengambil tindakan yang tepat. Kalaupun memang Abang terlalu sibuk, seenggaknya ada seseorang yang bisa membimbing dia untuk lebih baik."

"Kamu nggak perlu mengajari saya soal itu."

Zafran hanya mengangguk. Ia menggandeng tangan Nizar untuk mengajaknya berpamitan. Tidak ada kalimat hangat dalam perpisahan itu. Zafran hanya ingin segera keluar dan membebaskan anaknya dari ruang menyesakkan itu.

"Ayah nggak papa?" tanya Nizar begitu mereka sampai di luar.

"Harusnya Ayah yang tanya, Abang nggak papa?"

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang