18-Sejuta Sayang

3.6K 290 54
                                        

Zafran menyusuri koridor rumah sakit yang telah sepi untuk mencari Aidan. Ia cukup panik karena tak menemukan anak itu yang tiba-tiba menghilang. Padahal hari sudah semakin larut dan setahunya Aidan tak seberani itu untuk keluyuran sendiri di area rumah sakit.

Langkah Zafran memelan saat melihat figur putra bungsunya tengah duduk sendiri di lantai koridor dekat taman. Ia sadar jika anak itu tengah menangis sebab tampak sedikit getar pada punggungnya.

Zafran menghela napas lega, setidaknya ia berhasil menemukan Aidan. Tadi pikirannya sudah ke mana-mana karena terakhir kali ia lihat, anak itu benar-benar kacau. Ia lekas mendekat, kemudian duduk di samping Aidan.

"Dingin loh di sini, Dek," ucap Zafran selagi memakaikan jaket yang sedari tadi memang ia bawa. "Gelap dan sepi juga, emangnya nggak takut?"

Zafran memandang mata Aidan yang sembab. Sepertinya anak itu melupakan segala ketakutannya akan hantu, hanya karena ingin menangis tanpa ada yang tahu. Satu tangan pria itu terulur untuk mengusap air mata Aidan, pun memberinya waktu untuk mengatur perasaan.

"Ayah kenapa ke sini? Bunda sama siapa?"

"Ada Mama Kia, barusan dateng sama Papa Ivan. Ayah khawatir karena Adek tiba-tiba ngilang, makanya Ayah cari. Kenapa? Adek mau cerita? Masih khawatir banget ya sama Abang?"

Aidan memandang wajah teduh ayahnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Ia hanya merasa sangat sedih setelah mendengar bahwa kakaknya harus dipindahkan ke ICU. Ia sangat kalut melihat kesibukan beberapa waktu lalu. Pun begitu takut ketika melihat kepanikan ayahnya saat menghubungi banyak orang, sebab hal itu jarang sekali terjadi. Semua yang ia lihat seakan menampar dirinya untuk sadar bahwa kondisi kakaknya sangat serius.

"Aku cuma takut, Yah. Aku nggak mau ada di sana, aku takut bakal denger kabar yang lebih buruk daripada tadi."

Zafran dapat menangkap sirat ketakutan dalam setiap kata yang Aidan ucapkan. Ia meraih tangan anak itu, lantas ia genggam dengan lembut. "Adek ... kondisi Abang emang kurang baik. Sementara harus dipantau di ICU karena ada gejala syok. Abang harus segera dapat transfusi karena hb dan trombosit-nya drop. Tadi Ayah harus cepet-cepet hubungi beberapa orang buat bantu donor darah karena stok darah di rumah sakit lagi menipis. Ayah tadi pasti bikin Adek panik, ya?"

Aidan mengangguk kecil. "Jadi keinget waktu dulu, Yah. Di sini rasanya nggak enak banget, nyesek banget," keluh Aidan seraya menyentuh dadanya yang seolah dipenuhi oleh segala macam ketakutan dan kekhawatiran. Setiap kali hal itu terjadi, ia tahu bahwa ia harus melepas semuanya dengan menangis.

Zafran menarik pelan tubuh Aidan ke dalam dekapannya. Ia mengusap lembut punggung anak itu, berusaha memberinya ketenangan sebanyak mungkin. Zafran memahami bahwa kejadian seperti ini pasti telah mengembalikan memori buruk di masa lalu.

"Udah ya, jangan diinget-inget lagi. Yang waktu itu bukan salahnya Adek, hari ini pun bukan salah Adek. Abang masih di sini sama kita kok, Adek nggak perlu takut."

"Tapi harusnya tadi Adek lebih cepet nolong Abang, Yah. Padahal Adek sendiri yang maksa nemenin Abang tidur biar sekalian jaga Abang kalau ada apa-apa. Tapi lagi-lagi Adek telat sadarnya, Abang harus nahan sakit lama. Sekarang malah harus masuk ICU."

"Enggak, Adek sama sekali nggak terlambat. Justru Adek hebat karena tadi udah gerak cepat nolongin Abang. Insyaallah besok kondisi Abang udah lebih baik. Kita terus doa ya, kita mintakan kesembuhan Abang ke Allah."

Zafran mengusap rambut Aidan ketika anak itu mengeratkan pelukan padanya. Ia selalu terharu melihat ketulusan Aidan untuk Nizar. Sepanjang hidup, Zafran tak akan pernah lelah memanjatkan doa-doa yang sama. Ia ingin keluarganya tetap utuh. Ia masih terus ingin merasakan jutaan kasih yang tercurah untuk satu sama lain.

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang