Meskipun sering diajak ke berbagai acara, Nizar masih sering merasa gugup dan cemas. Melihat banyak orang dengan gelar terpandang membuatnya justru sangat sungkan untuk berbaur. Jika orang tuanya lengah dan situasi mendukung, ia seringkali menyelinap untuk menepi dari keramaian. Seperti saat ini. Lelaki itu mencoba keluar dari hiruk-pikuk suasana di ruang tamu rumah megah opanya yang disulap menjadi hall pesta.
Malam ini adalah perayaan ulang tahun perusahaan opanya. Orang-orang masih terus berdatangan, berlalu-lalang di halaman rumah yang luasnya mampu menampung puluhan mobil mewah mereka. Tidak heran sebab opanya adalah seorang konglomerat yang relasinya ada di mana-mana bahkan hingga luar negeri. Karena itulah Nizar sering merasa minder hidup di sekeliling orang-orang jenius.
Nizar akhirnya sedikit lega setelah berhasil keluar. Ia sejenak menoleh ke belakang untuk memastikan ayah bundanya masih sibuk mengobrol dengan beberapa orang di dalam sana. Nizar mengasihani adiknya yang terjebak pula dengan obrolan-obrolan itu, sebab ia yakin isinya hanya tentang membandingkan soal rumput siapa yang paling hijau. Aidan paling tidak suka dengan hal-hal seperti itu.
Suasana di luar tak kalah ramai. Banyak pula yang baru berdatangan meski acara inti sudah terlewati. Mereka seperti datang hanya untuk menampakan muka, sebab mungkin terjebak kesibukan lain pula. Meski begitu, pesta ini memang akan terus berlangsung hingga tengah malam.
Nizar dan rencana kaburnya belum selesai sampai sini. Sembari berjalan menuju gerbang depan, Nizar membuka ponsel untuk mengecek pesan dari Laksa. Ia meminta---sedikit memaksa---pada sepupunya itu untuk menjemput. Nizar sudah tidak betah di antara keramaian yang baginya justru mendatangkan kesepian. Toh kehadirannya tidak begitu diharapkan oleh sang opa. Entah berapa kali ia sudah mendapatkan tatapan sinis dari pria itu.
Selagi fokus pada ponsel, Nizar mempercepat langkah menyusuri setapak yang terhubung dengan gerbang depan. Tapi karena tak memperhatikan jalan dengan baik, Nizar tiba-tiba menubruk seseorang hingga ponsel yang dipegangnya terjatuh. Ia lebih dulu mengambilnya sebelum menatap seorang yang ia tabrak. Jantungnya seketika berdesir begitu menyadari jika itu adalah omnya yang datang bersama sang anak.
"M-maaf, Om ... maaf aku nggak sengaja."
Pria yang merupakan kakak dari Raline itu terlihat tersenyum, tapi bukan jenis senyum ramah. "Kamu mau ke mana? Gugup sekali kelihatannya."
Nizar tersenyum kikuk, menatap sekeliling yang tak seramai tadi sebab mereka berada di area parkir. Omnya pasti curiga karena ia keluar dari ruang pesta saat acara belum sepenuhnya selesai.
"Itu, Om, a-aku---"
"Ngomong yang jelas, jangan a-e-a-e aja lu," sewot Julian, lelaki sebanya Nizar yang berdiri angkuh dengan melipat tangan di bawah dada.
"Julian ...." Galih menoleh pada Julian dan meminta anak itu untuk tidak terlalu kasar. "Kamu jangan bikin dia takut, santai aja kalau mau ngajak ngobrol. Maaf ya, Nizar, Julian emang sedikit kasar, tapi dia baik kok. Kamu juga pasti sadar kalau dia anak baik, kan?"
Nizar lagi-lagi mengulas senyum kecil. Ia mengepal-kepalkan tangan untuk mengurangi rasa gugup. "Iya, Om, nggak papa kok."
"Oh iya, ngomong-ngomong soal kebaikan Julian, dia juga kemarin cerita ke Om soal usaha dia ngebantu kamu. Selamat ya, katanya nilai rapor kamu semester ini ada peningkatan. Julian bilang, dia yang bantu kamu bisa naikin nilai di sekolah."
Nizar beralih menatap Julian yang mengulas senyum sinis untuknya. Ia tahu jika dua orang di hadapannya ini membawa ia pada pembahasan yang bertujuan untuk mempermalukannya. Kata-kata Galih sudah jelas hanya untuk menyindirnya saja.
"Om nggak tau sih, bentuk bantuan yang Julian kasih ke kamu itu gimana. Rasanya nggak mungkin kalau dia bantu kamu belajar, dia nggak cukup sabar buat hal-hal seperti itu. Di mata Om, apa pun itu nggak akan bikin kamu terlihat lebih baik, Nizar. Malah cuma semakin bikin Om sadar di mana posisi kamu sebenarnya." Galih menepuk pundak Nizar dua kali sebelum berjalan melewati anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksa Kasih✔️
Teen FictionKatanya, anak sulung adalah pilar yang kokoh. Maka untuk setiap kelemahan yang ia punya, Nizar begitu membencinya. Katanya manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi Nizar hidup di sekeliling orang yang utuh tentang segalanya. Berjalan di palin...
