33-Rasa Sesal

2.8K 250 91
                                        

Kaivan berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan jantung berdebar kuat. Ia menatap kanan-kirinya dengan cemas, berusaha mencari ruangan tempat anaknya dirawat. Kabar yang dikirimkan Zafran beberapa waktu lalu sungguh membuatnya panik bukan main. Ada rasa sesal juga yang menyelimuti hati. Karena kesibukannya, ia tak mengecek ponsel yang sudah dibanjiri pesan juga panggilan telepon.

Begitu menemukan ruangan Laksa, Kaivan langsung memasukinya. Di dalam sana sudah ada Zafran yang juga langsung menatapnya. Sepanjang perjalanan tadi, Kaivan masih dapat membentengi dirinya dengan pemikiran positif. Namun kala melihat tubuh Laksa terbaring dengan banyak luka dan peralatan medis, runtuh sudah pertahanannya.

"Van ...." Zafran berniat mendekati Kaivan yang melangkah lemas ke arahnya. Ia dapat menemukan kehancuran dalam sepasang mata adiknya itu. Zafran memahaminya, sebab ia pun merasakan kepedihan yang sama.

Kaivan sejenak menumpu tangan pada kedua lutut untuk mengurai sesak yang menghimpit paru-parunya. Ia tak pernah sanggup menghadapi kenyataan seperti ini. Selama ini ia selalu menjaga anaknya, bahkan sampai bertindak keras pada Laksa hanya untuk memastikan anak itu selalu baik-baik saja. Namun entah siapa orang yang berani membuat anaknya kini terbaring tak berdaya dan menghujaninya dengan banyak luka.

Kaivan mendekati ranjang dan menggenggam tangan Laksa yang terasa dingin. Goresan luka di wajah anak itu berhasil membuat batinnya teriris perih. Entah separah apa pula hingga kini sekantung darah harus dialirkan ke tubuh anaknya. Tak pernah terpikirkan bahwa ia harus mendapati anak yang biasanya selalu banyak bicara itu kini diam dengan mata terpejam.

"K-kak ... kenapa bisa begini? Tangannya dingin banget, Kak." Kaivan menangkup tangan Laksa dengan kedua tangannya, berusaha menciptakan hangat.

"Kondisi Laksa udah cukup stabil, Van. Dari hasil pemeriksaan, ada pendarahan di saluran cerna akibat benturan keras. Dia sempat muntah darah, tapi untungnya nggak sampai buat shock. Ada fraktur ringan juga di tulang rusuk, tapi nggak perlu sampai dioperasi karena kondisinya nggak membahayakan organ dalam. Sementara Laksa rawat inap dulu karena kondisinya masih perlu diobservasi. Selebihnya kamu bisa dengar penjelasan dari dokter yang nanganin Laksa. Kalau bangun nanti mungkin Laksa bakal ngeluh nyeri, kamu jangan panik. Kakak usahain---"

"Siapa, Kak? Siapa yang bikin Laksa begini?" Kaivan menatap Zafran seolah menuntut penjelasan. Tak mendapat jawaban, ia pun berjalan keluar dari ruangan. "Mana orangnya? Dia nggak kabur, kan?"

Zafran mengikuti Kaivan hingga mereka sampai di depan ruangan. Ia memahami seberapa kacau pikiran Kaivan saat ini. Amarah adiknya itu seolah siap membakar habis semua hal yang dilewatinya.

"Mana orang itu? Lo biarin dia pergi? Dia nggak mau tanggung jawab?"

Zafran meraih lengan Kaivan dan mengajaknya duduk di kursi depan ruangan. Di tengah amarahnya, Zafran tahu Kaivan sedang memendam rasa panik yang begitu besar. Ia pun berusaha menenangkan adiknya agar dapat membicarakan hal ini dengan lebih baik.

"Kamu tenang dulu, Van. Biar Kakak jelasin---"

"Tanang? LAKSA SAMPAI KAYAK GITU, TAPI LO NYURUH GUE TENANG? LO MAU GUE BIARIN ORANG YANG NYAKITIN ANAK GUE HAHA-HIHI DI LUAR SANA?!" Kaivan tak mampu lagi menahan gejolak amarah itu. Ia bukan Zafran, ia bukan kakaknya yang mampu tetap tenang ketika diusik. Jika orang itu kini berada di hadapannya, mungkin sudah habis ia hajar.

"Kakak udah minta orang buat cek CCTV di sekolah. Sampai saat ini juga Kakak belum tau siapa pelakunya. Nizar yang tadi nemuin Laksa dan bawa dia ke sini, tapi sekarang pun Kakak belum bisa tanyain banyak hal ke Nizar. Dia juga syok dan kondisinya langsung drop. Secepatnya kita pasti bakal tau. Ada bukti visum juga kalau kamu siap bawa ini ke jalur hukum. Kakak tau kamu marah banget, tapi kita juga masih harus nunggu titik terang yang pasti, Van."

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang