19-Terdekap Takut

2.8K 271 70
                                        

Hari ini, Nizar kedatangan ketiga sepupu kesayangannya. Untunglah kondisinya sudah semakin baik, sehingga ia tidak meninggalkan mereka dengan tidur seharian. Kini ia cukup terhibur dengan cerita-cerita Aisha dan Aira yang sedari tadi tak ada habisnya. Pun dua anak itu dengan rela hati memijat kakinya di sisi kanan dan kiri.

"Terus ya, Bang, waktu pramuka kan kakak kelas itu yang ngisi materi. Soalnya dia Dewan Penggalang atau apa ya itu namanya. Di situ tuh Aisha caper buanget, dia maju buat jadi pemimpin PBB. Tapi tau nggak? Udah mah suaranya cempreng, terus dia salah mulu pas kasih aba-aba. Kan malah memalukan ya, Bang?" Aira bercerita dengan menggebu, mengejek Aisha yang belakangan ini terang-terangan mencari perhatian ke kakak kelas.

"Namanya juga usaha, Airaaaa! Tapi kan habis itu akhirnya dia bantuin aku, wle." Aisha menjulurkan lidah, merasa menang meski segala hal memalukannya dibuka oleh saudara kembarnya itu.

"Bantuin apaan? Bukannya dia ngetawain kamu pas kamu nginjek eek burung?"

Nizar sontak tertawa mendengar serangan balik Aira. Tak terbayang ketika Aisha harus menahan malu karena menginjak kotoran burung di depan crush-nya. "Kok bisa nginjek eek burung, sih? Jelek banget momentumnya."

"Ya itulah, Bang, alam juga nggak merestui."

Nizar geleng-geleng kepala mendengar bahasa yang Aira gunakan. "Lagipula bocah kelas 1 SMP udah ngebet banget nyari pacar. Abang-abang kalian aja masih betah jomlo."

"Itu mah kalian aja yang emang nggak laku," balas Aisha, lantas melirik Laksa dan Aidan yang masih sibuk bermain game di sofa. Syukurlah mereka tidak mendengar.

"Iya sih, siapa juga yang mau pacaran sama muka zombie begini."

Mendengar itu, Aisha jadi merasa salah bicara. "Ihhh, nggak gitu maksudnya! Bang Nizar mah paling ganteng mau gimanapun juga, yang jelek cuma Bang Laksa."

Nizar menahan tawa, padahal ia juga hanya bercanda. Tapi sepertinya Aisha merasa bahwa tadi ia tersinggung. Nizar jadi punya ide untuk memanfaatkan situasi ini dan memasang wajah pura-pura sedih.

"Masa, sih? Bukannya Abang emang jelek, ya? Menurut kamu Abang emang nggak bakal disukai siapa-siapa, kan?"

Aira langsung melotot ke Aisha karena sudah membuat Nizar sedih. Ia pun segera memeluk Nizar. "Enggak, kok. Emang Aisha itu mulutnya kayak setan, Bang. Bang Nizar mah terbaik sedunia."

Aisha memberengut kesal pada Aira. Gadis itu lantas merentangkan tangan untuk turut memeluk Nizar. "Maafin Aisha, Abang jangan gitu. Sumpah deh, yang jelek tuh cuma Bang Laksa. Kalau Bang Ai mayan, Bang Nizar yang terbaik dan terganteng sedunia."

Nizar memandang kedua adiknya yang sudah melepas pelukan. "Oh, ya? Gantengan mana sama si kakak kelas itu?"

Aisha tampak ragu, kemudian cengengesan. "Gantengan Bang Nizar dikit."

"Boong."

"Seribu rius! Ya nggak, Ra?"

Aira lekas menggeleng keras. "Nggak, lah! Gantengan Bang Nizar jauhhhh!"

Nizar akhirnya tertawa melihat Aisha dan Aira yang terus mendebatkan hal itu. Entahlah, ia suka melihat mereka adu mulut, terlihat sangat lucu. Berbeda dengan Laksa yang akan langsung stress meladeni tingkah mereka. Itulah kenapa Aisha dan Aira juga lebih suka bercerita dengan Nizar. Nizar tak akan mengejek mereka karena cerita-cerita konyol yang terkadang sedikit dibumbui kebodohan.

Asik mengobrol, pintu ruang rawat Nizar terbuka. Aisha dan Aira langsung mendekat begitu melihat eyang dan mama mereka. Nizar pun turut senang karena sudah menunggu-nunggu kedatangan Nayra dan Kiara.

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang