17-Sakit

4.2K 311 38
                                        

Galih menatap tajam Julian yang pulang dalam kondisi berantakan. Wajah anak itu kembali dihias luka, pun jalannya sedikit terpincang. Padahal sore tadi ia meminta anak itu untuk tetap diam di rumah, tetapi justru pulang saat hari sudah larut.

"Makin Papa biarin malah makin ngelunjak kamu. Jam berapa ini, ha?"

Julian hanya memutar bola matanya malas. Tanpa menjawab, ia memilih berjalan melewati Galih. Namun tak sampai tiga langkah, papanya itu mencengkeram lengannya dengan kuat. Julian akhirnya mengikuti langkah cepat Galih yang membawanya menuju ruang belajar.

Galih menghempas tangan Julian setelah sampai di ruangan bernuansa hitam putih itu. "Berantem sama siapa lagi kamu? Apa nggak ada hal yang lebih bermanfaat yang bisa kamu lakuin?"

Julian berdecak kesal, sungguh sial karena ia harus mendengar ocehan papanya. Merasakan nyeri pada kaki, ia pun berjalan menuju kursi belajarnya dan duduk di sana. "Papa keluar aja, aku lagi nggak mood jelasin apa pun."

"Sama Nizar lagi? Udah dibilangin nggak usah macem-macem dulu sama mereka! Papa udah males dengerin Zafran ngoceh sok pinter gegara kamu nyari gara-gara terus."

"Mereka duluan yang mulai."

"Bukannya kamu duluan yang udah bikin celaka Aidan? Papa udah berusaha belain kamu, tapi kamu malah makin nantangin mereka. Maunya gimana, sih?"

"Udahlah, Papa tuh nggak ngerti apa-apa. Urus aja urusan Papa sendiri!"

Galih hanya dapat menghela napas lelah. Pada akhirnya ia tidak peduli dengan segala rencana gila yang sedang anaknya jalankan. "Belajar! Awas aja kalau Papa cek ke sini dan kamu malah tidur."

Julian hanya bergumam singkat. Tak lama, ia mendengar sang papa mengunci pintu dari luar. Rasanya ingin mengamuk karena muak sekali dengan buku-buku di mejanya. Sayangnya, pintu itu tak akan terbuka sampai Galih puas melihatnya belajar. Ia memilih menuju kamar mandi di ruangan itu, setidaknya ia harus mengguyur kepala dengan air dingin.

***

"Bundaaa, Bunda mau dibeliin sesuatu nggak? Nanti aku beliin pas pulang sekolah." Aidan mengikuti langkah bundanya yang sedang bolak-balik dari dapur ke ruang makan. Ia masih berusaha mendapatkan maaf dari bundanya setelah kejadian semalam.

Raline terus mengabaikan Aidan meski anak itu tak henti merayunya. Setelah menu sarapan siap, ia pun bergabung dengan Zafran dan Nizar, membiarkan Bi Inah mengerjakan sisanya.

"Bunda cantik, tolong bantu pakein dasi dong." Aidan menatap bundanya dengan penuh permohonan, menyodorkan dasi untuk mencari perhatian.

"Sama Ayah aja itu, males Bunda," jawab Raline yang sibuk mengambil nasi untuk suaminya.

Aidan beralih menatap Zafran, berusaha meminta bantuan untuk membujuk sang bunda. Tapi ayahnya itu hanya mengendikkan bahu dan terkesan mengejeknya. Merasa kesal, ia pun akhirnya duduk di kursi sebelah Nizar.

"Jangan marah terus dong, Bunda. Adek nggak berniat jadi anak nakal, kok."

Raline menghela napas lelah, menatap putra bungsunya yang menunjukkan wajah memelas. "Kalian berdua tuh kenapa adaaa aja tingkahnya? Waktu itu Abang yang nonjokin Julian, sekarang Adek. Nggak suka Bunda lihat kalian doyan main tangan begitu. Lama-lama bakal jadi kebiasaan, tau nggak?"

"Abang dari tadi diem aja loh, Bunda," ucap Nizar yang sedikit keberatan sebab ikut terkena cipratan kemarahan sang bunda. Padahal waktu itu ia sudah sangat kenyang didiamkan terus oleh Raline. Sekarang harus diungkit lagi karena giliran adiknya yang bermasalah.

"Pokoknya Bunda nggak suka kalo kalian berani tawuran begitu."

"Nggak tawuran ih, Bun. Mana mungkin aku berani tawuran?" bela Aidan sebab tak terima kala tindakannya dinilai sebagai tawuran.

Selaksa Kasih✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang