Twenty - Seven

33 1 1
                                        


Up!!!!

Happy Reading 😁

*****


Lily menyuapkan potongan kue beras pertamanya kedalam mulut. Ia hanya menumpang makan di kantin, dan mungkin akan menyusul memesan air mineral jika diperlukan.

"Boleh aku duduk disini?"

Seorang pria tinggi berwajah campuran dengan dominasi eropa tengah itu menginterupsi kegiatan menikmati makanannya.

"Silakan saja!" Jawab gadis itu tanpa ragu

Ia akan mengambil keputusan yang cukup besar nantinya. Keputusan yang membuatnya terlepas dari semua peraturan kontrak yang berhubungan dengan agensi dan para artis yang mereka naungi. Jadi dirinya cukup berani saat ini mempersilakan Hueningkai - rekan grup Taehyun untuk menggunakan kursi kosong didepannya.

"Hampir tidak pernah melihatmu makan di kantin seorang diri?"

Lily menatap sang lawan bicara, mata laki-laki itu tidaklah sama dengan yang Sunoo maupun Yeonjun miliki, bukan mata rubah yang mengintimidasi dengan tajam. Hueningkai bahkan menatapnya kelewat lembut jika Lily tak mengerti arti tatapan yang ditunjukan padanya saat ini. Dia seperti dilucuti perlahan dengan rasa bersalah, sebab tatapan anggota paling muda TXT itu seperti korban yang meminta belas kasihan pada penjahatnya. Atau korban yang menunjukkan kalau pelakunya ada dihadapannya.

"Hera-eonni sedang sibuk. Aku juga hanya menumpang menghabiskan makanan yang kubawa dari luar."

Hueningkai mengangguk, setelahnya tidak lagi ada percakapan diantara keduanya sampai makanan masing-masing habis.

"Anda sendiri Hueningkai-ssi?"

Lily hanya ingin basa-basi, meskipun kesan pertama bertemu Hueningkai cukup membuatnya tersinggung tidak bisa dipungkiri laki-laki itu salah satu artis berpengaruh di tempatnya bekerja. Akan sangat tidak sopan jika Lily langsung pergi begitu saja.

"Aku kabur dari latihan sih, mungkin sebentar lagi Yeonjun-hyung datang kemari untuk memukul kepalaku!"

Ia bingung untuk sekedar memberikan respon, dirinya tidak mungkin ikut menertawakan ucapan konyol Hueningkai tentang si sulung yang akan memukul kepalanya, bukan?

"Oh, ya! Apa kau secara tidak langsung menanyakan Taehyun, nona Jeon?"

"Apa?"

Lily menggeleng, dia sudah cukup dengan drama pagi tadi. Sebisa mungkin dirinya menjawab dengan raut yang tenang.

"Tidak, teman Anda kan masih ada lagi. Bukankah agak sedikit aneh jika tak bersama salah satunya sekalipun?"

Laki-laki yang masih menyuapkan potongan apel kedalam mulutnya itu terkekeh geli. Lily yang tidak bekerja dengan mereka tentu cukup terkejut melihatnya.

"Jika yang kau maksudkan adalah Soobin-hyung dan Beomgyu-hyung mereka berdua cukup takut bermain-main dengan latihan."

Tidak hanya Lily yang memperhatikan Hueningkai, namun juga sebaliknya. Laki-laki itu cukup sadar jika kehadirannya yang begitu tiba-tiba membuat gadis didepannya tidak nyaman. Lily beberapa kali mencoba membuang pandangan saat bersinggungan dengan matanya.

"Aku berterima kasih kau sudah berbesar hati membiarkanku menghabiskan makanan di meja yang sama. Kuharap lain kali kau bisa lebih baik dalam menatap lawan bicara mu!"

Lily total kehabisan kata-kata, Hueningkai pergi membawa nampan dan alat makannya yang sudah kosong. Rasanya punggung Lily jadi lebih berat setelah pertemuan makan siang tidak disengaja dengan Hueningkai. Energinya seolah terpakai lebih dari setengahnya hanya untuk bertahan pada atmosfer canggung yang keduanya buat secara sadar.

"Kalau boleh meminta aku hanya minta tidak bertemu dengan Hueningkai lagi, itu saja!" Gumam Lily sembari mengaduk sisa kuah tteokbokkinya.

*****

Kepalanya terangkat bersamaan dengan postur yang menjadi tegap. Ia mengatur keluar masuknya oksigen dari mulutnya secara beraturan. Lily tidak pernah segugup ini dalam hidupnya, menemui atasan diluar sepengatahuan Hera - yang notabene telah membawanya masuk sebagai karyawan.

Satu tangannya terangkat di udara, ia ingin mengetuk pintu sebagai tanda kepada penghuni di dalamnya bahwa akan ada yang bertamu.

"Lily? Sedang apa?"

Wanita dengan blouse berwana cokelat muda itu menaruh atensi penuh padanya. Rambutnya terkuncir asal, kantung matanya pun terlihat tebal. Mungkin jika ia tak menambahkan polesan liptint merah maroon dan sapuan blush tipis di pipinya wanita itu akan terlihat seperti pesakitan yang kabur dari ruang rawat.

"Hera - eonni?"

Hera menarik tangan juniornya untuk duduk di koridor, sedikit menjauhi ruangan manager kantor yang sibuk akan urusan internal agensi.

"Nah, kenapa kau bisa sampai disini? Kita kan tidak ada hubungannya dengan orang-orang penting ini, kecuali aku yang terpaksa harus mengantarkan berkas laporan pengeluaran make up artis."

Hera benar, Lily tidak seharusnya berhubungan langsung dengan atasan bukan? Namun ia sendiri bingung harus menemui siapa untuk memutuskan kontraknya tanpa mendapat tentangan dari Sunoo.

Dia tidak mau membohongi siapapun, satu-satunya cara agar masalahnya dapat diatasi secepat mungkin adalah dengan menceritakan pada Hera.

Dengan jemari tangan yang saling meremat satu sama lain, Lily menghela nafasnya sedikit lebih panjang.

"Eonni, aku mau memutuskan kontrakku baik dari asisten pribadi Kim Sunoo maupun staff penata rias, bisakah?"

Lily menunggu jawaban yang lebih tua, Hera mungkin sungguhan kurang tidur sampai membutuhkan waktu lama mencerna kalimatnya.

"Kenapa?"

Dalam satu tarikan nafas Lily sudah mempersiapkan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Kalau saja dibelakang Hera tidak berdiri Sunoo dengan nafas tersengal dan keringat yang mengalir dari pelipisnya.

"Jangan dengarkan dia Hera-ssi!" ujarnya lantang

Tanpa minat menunggu respon yang lebih tua diantara ketiganya, Sunoo menarik lengan Lily, air mukanya yang selalu datar dan nada bicara dinginnya kali ini dua kali lebih kentara dimata Hera,

"Hei, tuan jangan kasar dengan adikku."

Lily memohon dengan gerakan bibirnya pada Hera. Ia tidak mau membuat keributan di tempat asing yang bahkan dalam satu lantai pun hanya dikenalnya beberapa orang.

"Aku bos nya," Sunoo membentak, seolah tidak peduli jika orang lain mendengar suaranya.

Hera menggelengkan kepalanya, emosinya nyaris tersulut jika saja tidak ingat Sunoo adalah salah satu talent terbaik yang ia urus. Mungkin tepatnya Wira itu cukup punya Nama untuk sekedar menendang keluar dirinya yang hanya staff biasa.

"Sunoo Kim, dengar sebentar!" pinta nya sekali lagi. Terdengar lebih hati-hati sembari menggapai lengan bebas Lily.

Sunoo menggunakan 'kartunya', rahangnya terangkat sombong sementara jemarinya yang menggenggam lengan Lily semakin dieratkan.

"Noona, kau tidak berhak atas kontrak ku dengan Lily bukan? Dan......Kau juga bukan keluarganya!"

Final, Sunoo yang tidak bisa diajak bernegosiasi saat ini menarik paksa Lily mengikuti langkahnya. Hera yang turut merasa kesal tak tinggal diam, ia memerlukan bantuan seseorang untuk mengimbangi sang artist.

"Anak itu,"

******
To be continued ☺️❤️

More Than Hour || Kim SunooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang