13

23 3 0
                                        

Kenapa sih harus janji kalo ga bisa ditepatin?

-unknown-

Randi membawa mobilnya ke rest area ketika adzan Isya berkumandang. "Sholat dulu, ya?" ujarnya sambil melirik ke arah ketiga perempuan di mobilnya. Indah, Selena, dan Aruni setuju, lalu mereka berempat berjalan menuju musala untuk menunaikan salat.

Setelah selesai salat, perut mereka mulai terasa lapar, terutama Randi yang sejak tadi hanya menyetir tanpa ada kesempatan untuk makan. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya membawa air mineral, tanpa camilan atau makanan berat. Mereka pun memutuskan untuk mengisi perut di salah satu tempat makan di rest area.

"Aku mau HokBen, ya? Dari tadi udah ngidam banget," kata Selena dengan nada antusias, diikuti anggukan setuju dari Indah.

"Boleh, HokBen aja," sahut Randi tanpa keberatan. Aruni hanya ikut-ikutan tanpa banyak bicara, dan ketika ditanya soal menu, dia hanya menjawab singkat, "Sama aja."

Randi tersenyum sambil menggeser piringnya, memastikan ebi furai Aruni aman darinya. "Sini udangnya buat aku, ya. Mau aku pesenin menu lain?" katanya, mendorong piring ke arah Aruni yang sedikit ragu untuk memberikan makanannya.

"Eh, sorry, Ar, aku lupa kalau kamu alergi udang," ucap Indah merasa bersalah.

"Mau pesan apa, Ar? Ekado? Chicken katsu? Atau apa?" tawar Randi penuh perhatian.

"Nggak usah, ini aja cukup," jawab Aruni singkat. Namun, bukannya menurut, Randi malah bangkit dari kursinya dan pergi memesan beberapa menu tambahan.

Tak lama kemudian, Randi kembali membawa beberapa piring. "Sorry, tadi aku nggak ngecek apa yang Indah pesan. Nih, aku pesenin ekado, chicken katsu, sama egg chicken roll. Selamat menikmati, tuan putri," katanya sambil meletakkan piring di depan Aruni.

Indah dan Selena saling bertukar pandang dengan tatapan penuh arti, sementara Aruni hanya diam dan mulai makan tanpa banyak komentar.

"Kasih makan ke Aruni itu kayak harus lewat quality control khusus ya," canda Indah sambil tertawa kecil. Selena kemudian melontarkan pertanyaan, "Ran, tadi kamu yang jadi imam sholat?"

"Hehe, iya, kok tau?" jawab Randi, tersenyum.

"Masih sama kayak dulu, waktu SMA, selalu jadi imam kalau sholat berjamaah," sahut Selena, mengingat masa-masa mereka sekolah dulu.

"Udah, udah. Jangan dibahas lagi yang dulu-dulu. Sekarang kita bisa kumpul lagi, itu aja udah cukup."

Indah mengangguk setuju, tapi tidak bisa menahan diri untuk melempar candaan. "Kalau dulu Randi selalu jadi imam, mungkin sekarang cocoknya jadi pemimpin keluarga, ya, Ar?" godanya sambil melirik Aruni yang langsung mengalihkan pandangannya sambil tersenyum tipis.

Randi hanya tersenyum, tapi tatapannya sedikit lebih lama pada Aruni. "Biar waktu yang jawab, ya," balasnya ringan, sambil melanjutkan makanannya.

Mereka makan dalam diam. Setelah selesai, Randi membeli beberapa camilan tambahan sementara para perempuan bergegas ke toilet. Aruni menggerutu dalam hati karena kedinginan; jaketnya ternyata ia masukkan ke koper, dan blouse yang ia pakai tidak cukup hangat. Tadi di pesawat, ia masih terbantu oleh selimut yang disediakan. Sambil memeluk tubuhnya, ia berjalan ke arah mobil Randi yang terparkir. Dari jauh, ia melihat Randi sedang berbicara di telepon di samping mobil, tapi begitu Randi melihatnya, panggilan itu segera diakhiri.

Aruni langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Sementara itu, Randi malah berjalan ke bagasi mobil. Tanpa memedulikan apa yang dilakukan Randi, Aruni hanya bersedekap dan memejamkan mata, berharap bisa tidur sebentar. Tak lama kemudian, pintu pengemudi terbuka, dan Aruni membuka matanya saat merasakan sesuatu menutupi tubuhnya.

Here I Am AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang