15

44 3 0
                                        

Understand... I'm matching energy these days. So, I'm on whatever you. -unknown -

Panggilan itu membuat Randi tertegun. Meskipun ia sudah memiliki nomor Aruni dari Selena, ia belum berani menghubunginya. Masa lalu mereka terlalu rumit untuk dihadapi dengan sembarang panggilan. Tetapi kali ini, Aruni-lah yang menelepon lebih dulu.

Randi menghentikan langkahnya, mengusap keringat di dahinya, lalu mengangkat telepon. "Halo, dokter Aruni cantik--?" sapanya ringan, namun suaranya segera berubah serius saat mendengar nada cemas di balik telepon.

"Aku... butuh bantuan," suara Aruni terdengar panik. "Mobilku mogok di depan apartemenmu. Jalanan macet, semua orang klakson..."

Randi langsung tertegun. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, ia turun dari treadmill, mengambil handuk seadanya, dan melangkah keluar gym. Hujan deras menyambutnya, tapi itu bukan masalah. Pikirannya hanya tertuju pada Aruni.

Begitu sampai di depan apartemennya, ia melihat Aruni berdiri di sisi mobilnya, membawa payung di tengah hujan yang mengguyur deras. Dengan langkah cepat, Randi mendekatinya.

"Aruni!" panggilnya keras, membuat perempuan itu menoleh.

"Kenapa kamu hujan-hujanan?" tanya Aruni heran saat melihat Randi sudah basah kuyup.

Tanpa menghiraukan pertanyaan itu, Randi menggenggam tangan Aruni dengan lembut. "Masuk ke apartemenku dulu. Lantai 15, password-nya tanggal lahirmu. Cepat, sebelum kamu masuk angin."

"Tapi mobil ini—"

"Aku akan coba tepikan. Nanti kita pikirkan solusinya," kata Randi tegas, matanya menunjukkan kesungguhan.

Aruni sempat ragu, tetapi melihat keseriusan Randi, ia akhirnya menurut. Meski hatinya berdebar tak karuan mendengar password apartemen Randi adalah tanggal lahirnya, ia memilih tidak berkomentar. Dengan langkah perlahan, ia menuju pintu apartemen sambil berusaha melindungi diri dari hujan.

Randi segera masuk ke dalam mobil Aruni dan mencoba menghidupkan mesinnya. Usahanya sia-sia—mobil itu tetap tidak mau menyala. Di luar, hujan deras masih mengguyur tanpa henti, membuat suasana semakin kacau. Dengan cepat, Randi mengambil inisiatif.

Ia keluar dari mobil dan memanggil beberapa orang yang kebetulan ada di sekitar untuk membantunya. "Mas, Pak, bisa bantu saya dorong mobil ini ke pinggir jalan? Supaya nggak menghalangi kendaraan lain," pintanya sopan, meskipun tubuhnya sudah basah kuyup.

Beberapa pria yang sedang berteduh di dekat trotoar setuju membantu. Bersama-sama, mereka mendorong mobil Aruni ke sisi jalan yang lebih aman. Setelah mobil berada di tempat yang cukup aman, Randi segera mengambil ponselnya dan menelepon bengkel langganannya.

Setelah selesai, Randi bergegas menuju apartemennya. Begitu sampai di dalam, ia menemukan Aruni duduk di sofa ruang tamu, memegang handuk kecil yang ditemukannya di pantry.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Randi, mengambil handuk lain untuk dirinya sendiri.

"Bengkelnya sudah dihubungi, mereka bakal datang setengah jam lagi," ujar Randi sambil mengatur napas.

Aruni menatapnya, matanya sedikit melembut. "Seharusnya aku yang tanya itu. Kamu basah kuyup karena menolongku."

Randi tersenyum tipis. "Kamu tahu, aku nggak akan biarkan kamu dalam masalah. Lagipula, ini nggak seberapa."

Hening menyelimuti ruangan. Hanya suara hujan yang terdengar samar dari luar jendela.

"Mau mandi bersih-bersih dulu?" tanya Randi, memperhatikan pakaian Aruni yang sebagian basah terkena hujan meski ia sempat memakai payung.

Here I Am AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang