14

22 4 0
                                        

Berdamailah, ajak perasaanmu lebih tegar ketika jatuh. -unknown-

Papa Aruni menderita TBC, dan setelah satu bulan menjalani perawatan intensif, akhirnya beliau menghembuskan napas terakhir. Meskipun Aruni menyimpan kebencian terhadap Papa karena pengkhianatan yang telah dilakukannya, kabar kepergian Papa menghancurkan hatinya seketika. Semua perasaan negatif yang selama ini ia tumpuk lenyap dalam sekejap, digantikan oleh rasa kehilangan yang mendalam.

Aruni akan selalu mengingat pesan Papa sebelum menghembuskan napas terakhir:
"Teteh harus rajin belajar, ya... Papa bangga punya Teteh Aruni, apalagi sekarang Teteh akan jadi dokter. Papa tahu Teteh mungkin nggak bisa maafin kesalahan Papa. Tapi Papa minta maaf ya, Teh. Papa selalu sayang sama Teteh. Tolong jaga Mama, Nares, Dipta, termasuk Kiana, ya. Sekali lagi, maafkan Papa..."

Hari pemakaman dipenuhi dengan suasana duka yang begitu mendalam. Aruni berdiri di antara keluarganya, menyaksikan Mama yang tampak sangat lelah dan terpukul. Nares dan Dipta, dengan mata sembap, berusaha tetap tegar di depan Mama, sementara Kiana yang masih kecil hanya menundukkan kepala, meski belum sepenuhnya memahami situasi. Kehilangan ini begitu menghantam mereka semua, sekalipun hubungan dengan Papa tidak selalu berjalan mulus.

Aruni merasakan kehampaan yang sulit ia gambarkan. Ia teringat kenangan masa kecilnya, saat Papa masih hadir dalam hidup mereka. Senyuman, tawa, dan momen bahagia itu kini hanya menjadi bagian dari ingatan yang perlahan memudar. Perasaan bersalah terus menghantuinya, karena ia tidak pernah memberi maaf pada Papa saat masih ada kesempatan. Sekarang semuanya sudah terlambat.

Saat pemakaman berlangsung, Nares dan Dipta turun langsung ke liang lahat untuk membantu menguburkan Papa. Setelah makam tertutup tanah, keluarga menaburkan bunga di atasnya, air mata membasahi wajah setiap orang yang hadir. Suasana penuh keheningan dan kesedihan terasa begitu menyelimuti.

Di tengah situasi ini, Randi tiba-tiba kembali ke Bandung. Meskipun baru sampai, ia langsung hadir di tahlilan malam pertama. Kehadirannya membawa secercah kehangatan bagi Aruni yang tengah berduka. Di teras rumah, mereka duduk berdua, menatap langit kelabu yang mencerminkan suasana hati Aruni.
"Aku ada di sini untukmu, Ar," ujar Randi lembut, nada suaranya menenangkan. "Kamu nggak sendirian, Sayang."

Aruni hanya bisa mengangguk kecil, matanya penuh air mata. "Aku nggak tahu harus bagaimana," jawabnya dengan suara bergetar. "Rasa benci ini... menyiksa aku."

Kehadiran Randi menjadi penopang bagi Aruni, memberinya kekuatan di tengah badai emosi yang berkecamuk. Meskipun ia mencoba tegar, setiap detik terasa begitu berat. Seluruh anggota keluarganya juga merasakan kehilangan yang sama, tetapi Aruni sadar mereka harus saling mendukung untuk bertahan.

Selama seminggu berikutnya, Randi terus menemani Aruni. Ia mengajaknya berjalan-jalan di sekitar Bandung, mengenang masa-masa bahagia mereka, untuk sejenak mengalihkan pikiran Aruni dari kesedihan. Namun, ada saat-saat tertentu ketika kenangan pahit kembali menghantui, dan air mata Aruni pun tak terbendung.

Pada malam tahlilan pertama, keluarga Randi juga datang untuk memberikan dukungan kepada Mama Aruni. Kehadiran Randi dianggap sebagai teman dekat, sehingga keluarga besar Papa tidak terlalu memperhatikannya.

Tak hanya itu, Indah, Selena, dan Lulu, sahabat-sahabatnya sejak SMA, turut merasakan kesedihan yang dialami Aruni. Meskipun mereka semua kuliah di universitas berbeda dan sibuk dengan kehidupan masing-masing, mereka datang silih berganti untuk memberikan dukungan.

Ketika bertemu Aruni, Indah langsung memeluknya erat tanpa sepatah kata, membiarkan Aruni menangis di pundaknya. "Aku tahu kamu kuat, Ar," bisiknya lembut. "Tapi kalau kamu butuh bahu untuk bersandar, aku di sini."

Here I Am AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang