Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Sunyi yang berbicara, kenangan yang berbisik di sela-sela angin fatamorgana
─┉┈◈◉◈┈┉
Langit pagi itu abu-abu, seolah-olah enggan memberi ruang pada matahari untuk bersinar. Udara dingin mengalir dari celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma lembap dari hujan semalam. Zayyan sudah bangun, seperti biasa, menjadi yang bangun paling awal.
Pemuda bersurai hitam legam sedikit ikal itu berdiri didepan cermin yang menampilkan seluruh anggota tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki. Lingkaran hitam disekitar mata tampak begitu jelas terefleksi, untungnya tak sehitam sebelumnya. Kali ini ia bisa tidur nyenyak tanpa harus terbangun oleh mimpi-mimpi itu lagi.
Sepertinya, pertemuannya dengan dokter Hyunsik kemarin tidak sepenuhnya gagal, kan ?
Zayyan mengangkat sudut-sudut bibirnya naik sampai ikut mengembangkan pipinya. Zayyan percaya, jika memulai pagi dengan senyum didepan cermin, maka selama seharian penuh hanya akan ada senyuman yang datang.
Ini sugesti, yang selalu diajarkan mendiang sang ibu.
Zayyan selalu menjalankan rutinitasnya begini sedari dulu, sudah seperti sugesti permanen dalam hidupnya.
Kemudian dia beranjak, langkahnya dibawa keluar, menyambangi pintu kamar yang berada tepat disebrang kamarnya.
Tok ! Tok ! Tok !
Jemarinya yang agak pucat mengetuk pintu kayu berwarna coklat yang masih setia tertutup rapat.
Tok ! Tok ! Tok !
Sekali lagi pintu diketuk namun masih tidak ada jawaban. Zayyan perlahan membuka pintu yang sudah lama tak pernah dikunci itu, hawa dingin langsung menyeruak menerpa wajahnya.
Sejenak Zayyan terdiam.
Gumpalan selimut diatas tempat tidur perlahan bergerak, sosok kepala muncul menampilkan rambutnya yang berantakan.
Zayyan berkacak pinggang didepan pintu ketika Sing berhasil dilihatnya. Tangannya bergerak heboh mengomeli,
" Bangun ! Nanti kamu telat "
Tidak ada jawaban dari yang lebih muda. Hanya menatap Zayyan dengan senyuman cerianya seperti biasa, kemudian mengangguk samar.
Zayyan ingin sekali mengusak rambut berantakan itu, hanya saja tangannya tak akan bisa sampai.