Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Jika perasaan sudah terasa mati, bukankah akan lebih baik jika ikut pergi ?
─┉┈◈◉◈┈┉
Langit masih sama kelabunya, entah didalam ataupun diluar suram tak ada bedanya. Zayyan berdiri melihat keluar jendela yang langsung menghadap taman rumah sakit, pohon besar berdiri disana, daun-daunnya bergerak berisik karena terpaan angin yang berhembus lumayan kencang hari itu.
Rasanya seperti bercermin,,,
Kira-kira itulah yang Zayyan rasakan. Dia adalah pohon itu dan angin yang menggoyang nya adalah kenangan-kenangan lama yang sempat dikubur lupa.
Zayyan itu, kondisinya membaik.
Tapi juga tidak terlalu baik.
Sudah sepekan berlalu sejak terapi ‘besar’ nya, dan yang Zayyan rasakan tetaplah kehampaan tak berujung. Sing dan Leo silih berganti bermain didalam kepalanya, kadang menimbulkan ilusi yang tampak begitu nyata.
" Kak Zayyan, senyum kaka itu bagus, jadi ayo senyum "
Ya, seperti sekarang.
Sing berdiri dibawah sana, entah dirinya sekarang berada di lantai berapa, yang jelas Sing terlihat begitu kecil dan samar. Dan tidak bisa dijangkau.
Senyumnya membawa cacat kecil dipipinya ikut melongok, Sing terus menerus menggerakkan tangannya, meminta dirinya tersenyum.
Apakah Zayyan lakukan ?
Tentu saja.
Tidak ada permintaan yang bisa Zayyan tolak dari adik-adiknya, kan ?
Jadi Zayyan tersenyum kecil, kecil sekali. Menarik sedikit sudut bibirnya agar terangkat susah payah. Namun tak lama, karena setelahnya, pikirannya kembali menyadarkannya pada realita. Zayyan memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.
Dan benar saja, Sing menghilang. Lebih tepatnya halusinasinya akan sosok Sing dibalik jendela menghilang.
Zayyan beranjak, memutuskan untuk menjauhi tepi jendela demi kewarasannya yang sedang susah payah diperjuangkan.
Namun sepertinya sia-sia saja.
Sepersekian detik ketika tubuhnya berbalik menghadap brankar tempat tidur, ada seseorang yang duduk menggoyangkan kaki dengan ceria. Senyumnya terbit dari telinga sampai telinga lainnya, gigi taring yang menjadi ciri khasnya ikut menyembul menyapa. Lambaian tangan familiar itu juga tidak lupa hadir memperkuat angan.
" Kok kaka sedih ? Ayo bilang ke aku siapa yang jahatin kak Zayyan ? "
Zayyan lagi-lagi termenung. Kali ini berbeda, dadanya sesak, perasaan bersalah itu muncul lagi. Rindu yang amat sangat membuncah juga ikut memenuhi rongga pernafasannya.
Leo....
Bibirnya menggumamkan nama sang adik tanpa suara, pun sedikit bergetar. Ingin rasanya Zayyan berlari menerjang sosok dihadapannya yang sedang tersenyum cerah itu, namun sekali lagi ini hanyalah ilusi. Halusinasi yang diciptakan kepalanya sendiri, dan Zayyan sangat amat sadar akan hal itu sekarang.
Jadi yang Zayyan lakukan hanya kembali menutup matanya dan kembali menarik nafas dalam-dalam.
Dan hal yang sama terjadi begitu dirinya membuka mata, ilusi Leo menghilang. Kembali menyisakan Zayyan bersama kekosongan ruang.
Zayyan terduduk, merosot ke lantai yang dinginnya nyaris sama seperti emosi didalam diri. Tatapan nanar terus tertuju pada brankar kosong dihadapannya.
Cukup lama Zayyan duduk dalam posisi bersimpuh begitu, hingga akhirnya bergerak perlahan. Berdiri gemetaran dengan tangan yang dikepalkan. Begitu berhasil berdiri diatas kakinya, Zayyan menatap lama pada dinding ruang isolasi yang di cat putih seluruhnya itu.
Tatapan dan kepalan tangan yang sama kuatnya seperti sedang memantapkan diri.
Langkah demi langkah kecil, Zayyan bawa mendekat pada dinding yang ditatap lamat. Kali ini tidak ada ilusi, ilusi Sing maupun Leo. Yang kini ada hanya keyakinan, keyakinan jika Zayyan harus bisa bertemu kembali dengan adik-adiknya. Berkumpul layaknya keluarga bahagia seperti dahulu.
Kini Zayyan bertatap muka sempurna dengan sang dinding kokoh, tersenyum kecil sebelum akhirnya dengan mesra menciumkan keningnya pada dinding yang dingin.
Dug !
Dug !
Dug !
Berkali-kali.
Berkali-kali keningnya dihantamkan kuat pada permukaan dinding putih yang kini bak kanvas dengan goresan cat merah.
" ZAYYAN ! "
Dokter Hyunsik bergegas menghampiri sang pasien yang sudah terkapar diatas lantai. Makanan yang dibawanya sudah berceceran menghiasi lantai pun tidak dipedulikan. Pemandangan yang tersaji didepannya begitu pintu ruang isolasi terbuka cukup membuat kewarasan dokter kejiwaan itu menghilang sesaat.
Tak lama beberapa perawat masuk, membawa Zayyan yang terluka keluar ruangan untuk diberikan pengobatan.
Dokter muda itu masih disana, duduk bertumpu lutut memandang dinding putih yang kontras sekali dengan darah segar dipermukaannya.
Entah berapa kali pemuda malang itu menghantamkan kepalanya pada dinding, darah yang mengucur cukup untuk dikatakan ‘ banyak ’.
Dan Lex pun ada disana, menatap nanar pada dinding yang sama dari tepi pintu masuk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai !!!! Long time no see guysss ! Hehe, ada yang nungguin hiraeth gak ? Maaf ya aku janji mau lanjut waktu bulan puasa tapi keadaan lagi gak memungkinkan, akunya lagi banyak kerjaan banget huhu. So, enjoy this chapter dan silahkan tebak, Zayyan nya ikut jadi ubi juga apa engga kira kira ?🤔