Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Ada yang hilang, ada yang datang. Lantas, apakah yang hilang bisa kembali pulang ?
─┉┈◈◉◈┈┉
Langit jingga merebak diluar jendela kamar rumah sakit, tapi bagi Zayyan, keindahan itu tidak berarti apa-apa. Dia duduk di tepian ranjang, memandang kosong pada jendela. Kepalanya serasa berputar berkali-kali.
Leo.
Nama itu terus bergema di pikirannya, meski Zayyan sendiri tidak tahu siapa dan bagaimana itu Leo.
Zayyan memegangi kepalanya yang berdengung, mencoba mengingat, tetapi hanya ada kekosongan yang dirasakan. Zayyan tidak pernah mengenal siapapun yang bernama Leo, setidaknya itu yang dia ingat. Namun wajah anak laki-laki itu begitu akrab, senyumnya terasa hangat, seperti bagian dari dirinya sendiri yang hilang.
Pasti cuma mimpi buruk, Zayyan berusaha meyakinkan dirinya sendiri, mencoba menenangkan pikiran yang berantakan.
Namun percuma, pikirannya tidak bisa tenang. Ada sesuatu tentang mimpi itu yang terus menghantuinya, kejanggalan-kejanggalan dalam ingatannya, bercampur dengan kekhawatirannya terhadap Sing.
Sing pasti udah pulang. Aku gak bisa lama-lama disini, pikirnya.
Matahari sore mulai turun saat Zayyan memutuskan bahwa ia tidak bisa lagi menunggu. Dia harus pulang. Sing pasti sudah kembali dari kampus dan akan mencarinya dirumah. Dia membayangkan adiknya yang akan berdiri didepan pintu dengan wajah cemas, bertanya-tanya dimana dirinya saat ini.
Zayyan mulai melepas selang infus ditangannya. Meski tubuhnya masih lemah, dia tidak peduli. Baginya, Sing lebih penting. Tapi sebelum dirinya berhasil turun dari ranjang, Lex masuk ke kamar, membawakan nampan berisi makanan.
" Zay, kamu mau ngapain ?! " Tanya Lex panik, buru-buru menaruh makanan diatas nakas.
Zayyan tidak menjawab. Dia hanya menatap Lex sekilas kemudian kembali memfokuskan diri pada usahanya berdiri.
" Sing bakal bingung kalo aku engga ada di rumah. Aku harus pulang "
Lex mendekat, menatap pemuda seumurannya itu dengan serius.